Menu

Mode Gelap
Pemkab Siak Kukuhkan SOTK Baru, Terjadi Mutasi Demi Kelancaran Pembayaran Gaji ASN Ikuti Seminar Peningkatan Mutu Akademik, Puluhan Mahasiswa Unilak Muntah 3 Rumah di Dusun Nadi Bangka Tengah Terseret Arus Banjir, PT TIMAH Tbk Salurkan 300 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Sepuluh Kepala Daerah dan Tiga Wartawan Raih Trofi Abyakta di HPN 2026 Prakiraan Cuaca Kepri Selasa, 13 Januari 2026: Hujan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Waspada Kecelakaan Tunggal di Pelalawan, Sepasang Karyawan Bank Tewas

Minda

”Perjalanan Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Filosofis Ki Hajar Dewantara di SMPN 5 Kemuning Inhil Riau”

badge-check


					”Perjalanan Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Filosofis Ki Hajar Dewantara di SMPN 5 Kemuning Inhil Riau” Perbesar

MERUJUK pada artikel Perjalanan Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Filosofis Ki Hajar Dewantara, pendidikan di Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan nasional. Sebagai pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara memberikan dasar filosofis yang signifikan bagi pendidikan Indonesia, terutama dalam membangun karakter bangsa yang humanis, inklusif, dan berkeadilan sosial. Pemikiran beliau, yang berfokus pada pembentukan karakter dan jati diri melalui pendidikan, tetap relevan hingga saat ini. (Anisa Sofiana Perdani, et al., 2024).

Filosofi Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan

Salah satu konsep utama yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara adalah Tri Pusat Pendidikan, yaitu:

  • Keluarga: sebagai pusat pertama dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai moral.
  • Sekolah: sebagai tempat pendidikan formal yang mendorong pengembangan intelektual, emosional, dan spiritual.
  • Masyarakat: sebagai lingkungan belajar yang memperkaya pengalaman peserta didik.

 

Selain itu, Ki Hajar Dewantara juga mengembangkan konsep Trikon (Kontinuitas, Konsentris, dan Konvergensi), yang menekankan kesinambungan budaya lokal, selektivitas terhadap pengaruh budaya luar, dan pembentukan karakter bangsa dalam kerangka global. Pendekatan ini relevan dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern.

Metode pembelajaran Among adalah pendekatan lain yang unik dari Ki Hajar Dewantara. Dalam sistem ini, peserta didik ditempatkan sebagai pusat proses belajar, sementara pendidik bertindak sebagai

fasilitator yang memberi teladan, membangkitkan semangat, dan mengarahkan perkembangan siswa secara alami.

Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara di Era Modern

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tetap relevan dalam pendidikan abad ke-21, terutama dalam mendukung pendidikan yang inklusif, berbasis karakter, dan berorientasi pada budaya lokal. Prinsip-prinsipnya selaras dengan pendidikan demokratis ala John Dewey, yang menekankan pembelajaran aktif dan kebebasan eksplorasi. Di era globalisasi, pendidikan Indonesia dapat memanfaatkan filosofi ini untuk menjaga identitas nasional sekaligus mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global.

Implementasi di Sekolah Penggerak

Pemikiran Ki Hajar Dewantara telah diimplementasikan oleh Sekolah Penggerak, seperti SMPN 5 Kemuning. Sekolah ini mengimbaskan praktik baiknya ke SMPN 1 Keritang, SMPN 1 Kemuning, SMPN 2 Kemuning, dan SMPN 7 Kemuning. Guru-guru di sekolah ini melakukan asesmen diagnostik di awal tahun ajaran untuk memahami kebutuhan belajar siswa. Refleksi berkala terhadap hasil asesmen dilakukan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Selain itu, pendekatan berbasis filosofi Among diterapkan dengan mendorong pembelajaran aktif dan pembentukan karakter siswa. Kepala sekolah berperan penting dalam memotivasi guru untuk merefleksikan praktik pengajaran mereka, menumbuhkan nilai-nilai intrinsik secara alami, dan menciptakan kolaborasi antarpendidik. Dengan pendekatan ini, pendidikan dapat berjalan selaras dengan visi Ki Hajar Dewantara.

Kolaborasi antara kepala sekolah dan guru menjadi kunci untuk mendukung praktik pendidikan berbasis karakter. Meski terdapat tantangan dalam konsistensi pelaksanaan, filosofi Ki Hajar Dewantara memberikan arah yang jelas untuk menciptakan pendidikan yang relevan, bermakna, dan berorientasi pada masa depan.

Siti Aminah dalam opininya “Penanaman nilai-nilai intrinsik (keingintahuan, kemandirian, ketekunan, kreativitas, empati, integritas, rasa hormat, cara belajar) pada peserta memerlukan proses karena nilai-nilai tersebut memerlukan dukungan agar tidak mudah dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang kurang mendukung. Perlunya peran sekolah dalam menumbuhkan nilai nilai intrinsik melalui filosofi Ki Hajar Dewantara.

Menurut Siska Armiza, Implementasi pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam Sekolah Penggerak, seperti di SMPN 5 Kemuning ini, menunjukkan bahwa pendidikan berbasis karakter dan kebutuhan siswa

dapat tercapai melalui asesmen diagnostik, refleksi, dan pendekatan Among. Kepala sekolah dan guru berkolaborasi untuk menciptakan pembelajaran yang aktif dan bermakna. Meskipun tantangan konsistensi masih ada, pendekatan ini memperlihatkan potensi besar dalam menciptakan pendidikan yang relevan, sesuai visi Ki Hajar Dewantara.

Sumber:

  • Artikel: Perjalanan Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Filosofis Ki Hajar Dewantara. Jurnal STIQ Amuntai, 2024.
  • Buku: Ki Hajar Dewantara, Pendidikan dalam Perspektif Humanisme. Penerbit Taman Siswa, 1987.
  • John Dewey, Democracy and Education. The Macmillan Company, 1916.
Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Deteksi Kebocoran Pipa: Dari Kewajiban Teknis Menuju Strategi Integritas Aset Migas

12 Januari 2026 - 09:29 WIB

Sultan Menangis

11 Januari 2026 - 07:32 WIB

Si Kodung

10 Januari 2026 - 09:19 WIB

Bangga Menjadi Orang Tanjungpinang

7 Januari 2026 - 11:10 WIB

Peningkatan Produksi Minyak Bumi Melalui Teknologi Produksi Tahap Lanjut (Enhanced Oil Recovery / EOR)

5 Januari 2026 - 09:59 WIB

Trending di Minda