Boleh percaya, tidakpun tak apa. Apatur Sipil Negara (ASN) yang memegang jabatan Kepala Bagian (Kabag) terlama di Kantor Bupati Kuantan Singingi adalah orang Sentajo. Namanya Suhasmi. Beken disapa Uhat.
Uhat lahir di Desa Muaro Sentajo. Kini ia tinggal di Desa Pulau Komang Sentajo. Kami memanggilnya Bang Uhat.
Uhat menjadi “Kabag” setahun setelah kantor Bupati Kuantan Singingi pindah ke kompleks perkantoran Sungai Jering tahun 2003. Sejak itu hingga
pensiun pada 1 Februari 2024 lalu dia jadi Kabag Kunci.
Rekor ini belum terpecahkan. Silih berganti bupati berganti, Uhat tetap dipercaya sebagai Kabag.
Layak masuk rekor MURI sebagai Kabag dengan jabatan terlama di Indonesia.
Artinya Uhat menjadi Kabag selama 21 tahun. Atau 6 bupati. Yakni sejak Drs. H. Asrul Jaffar, H. Sukarmis, Drs. H. Mursini, M.Si, Roni Rakhmat (Pjs), Andi Putra, S.H., M.H hingga sekarang Dr. H. Suhardiman Amby, MM.
Sebagai Kabag, Uhat bukan dilantik seperti pejabat eselon lainnya. Tapi jabatan itu melekat pada dirinya. Tugasnya sebagai Kabag adalah membuka dan menutup ruangan Bupati dan Wakil Bupati.
“Orang menjuluki saya Kepala Bagian Kunci alias Kabagkun. Bukan seperti Kabag lainnya yang dilantik oleh Bupati,” ujarnya tersenyum ramah.
Selama bertugas sebagai Kabag Uhat tahu persis tipikal seluruh bupati termasuk wakil bupati yang pernah memimpin Kuantan Singingi. Dia tahu siapa bupati yang paling rajin dan jarang masuk kantor. Begitu pula sebaliknya.
Namun demi menjaga “kode etik” Uhat hanya mau berkomentar singkat. “Diketahui boleh, ditulis jangan, ya! Ini rahasia yang harus saya jaga,” jelasnya.
Selama memegang jabatan Kabag itu kata Uhat banyak suka duka yang dialaminya. Dan pengalaman yang tidak akan dilupakannya ketika ruangan Bupati digeledah tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 19 Oktober 2021.
Pengeledahan itu terjadi sehari setelah dilakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Kuantan Singingi, Andi Putra.
“Ketika membuka kunci ruangan bupati saya dikawal ketat oleh Tim Penyidik dan aparat kepolisian dari Polres Kuantan Singingi,” ujarnya.
Kata Uhat, selama penggeledahan, KPK minta semua pegawai mengosongkan ruangan. Hal itu untuk kelancaran penggeledahan terkait OTT yang menyeret politisi Golkar tersebut.
Mengakhiri 21 tahun jabatannya sebagai “Kabag” di Kantor Bupati apakah dirinya mendapatkan penghargaan atau tali asih dari Bupati?
Uhat sembari tersenyum hanya menjawab, “Pernah dijanjikan ia, tapi realisasinya belum tampak tanda-tandanya hingga sekarang. Mungkin Pak Bupati lupa dengan janjinya atau…….,” ujarnya dengan kalimat bersayap.
—-
Uhat termasuk ASN yang beruntung. Kendati hanya pegawai rendahan, tiga anaknya: Fetri Oktavia, Wahyudi Yuhedra, dan Aldi sudah bekerja di lingkungan Pemerintan Kuantan Singingi.
“Inilah harta yang paling berharga bagi saya. Bapaknya boleh seperti ini, anaknya harus sarjana, dong,” katanya tanpa bermaksud membanggakan diri.
Uhat mengakui dirinya menjadi pegawai hanya bermodalkan ijazah SD. Namun dia terus mengejar mimpinya melalui pendidikan hingga Paket C.
Namun keinginan Uhat melanjutkan kuliah kandas ketika usianya makin menua dan pensiun.
Untuk menopang kehidupan sehari-harinya,6 pria kelahiran 1 Januari 1964 ini sekarang membuat kebun sawit di Kawasan Sungai Sirih dan Sungai Lintang, Kecamatan Sentajo Raya. Sebelumnya adalah kolam ikan.
Kini bersama istri tercinta Anim Farida, Uhat mengelola kantin yang terletak di kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi. Kantin yang menjual makanan dan minuman itu sudah mereka kelola sejak kantor bupati Kuantan Singingi pindah ke kawasan Sungai Jering, Kecamatan Kuantan Tengah, tahun 2002.
—
PERJALANAN hidup Uhat penuh lika – liku. Sebelum jadi ASN, dia pernah merantau ke Malaysia mengikuti jejak orang Sentajo yang banyak bekerja di Malaysia.
“Kawan saya waktu pulang di Malasyia adalah H. Muslim, S.Sos., M.Si yang saat ini menjadi anggota DPRD Kuantan Singingi dari Partai Nasdem,” kenangnya.
Uhad menyebut cita-citanya menunaikan ibadah ke tanah Suci sudah kesempaian. Dia baru saja pulang ibadah Umroh bersama istri tercinta Anim.
Bang Uhat adalah abang kami, kawan sama ‘kabalo kebau.”
… Abang yang salalu mengayomi kami.
… Abang yang mengerti kondisi kami apa adanya.
… Abang yang selalu menemami kami dalam suka dan duka.
… Abang yang selalu mengajak kami “maota lomak” dan “golak tabayak.”
#Tetap menyala abangku.
—-
Penulis: Sahabat Jang Itam







