Matanya boleh buta. Tidak bisa melihat sejak lahir. Tapi hatinya terang benderang.
Itulah Yusna Ali. Qoriah tuna netra asal Desa Pulau Komang Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau. Ia pernah “berjaya” di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) era 1980 s.d 1990-an.
Suna – begitu sapaan akrab qoriah kelahiran Pulau Komang Sentajo 1 Juli 1955 pernah menjadi utusan Riau dalam berbagai ajang MTQ. Dia bahkan pernah menjuarai ajang MTQ Tingkat Nasional. Juara harapan 1 MTQ di Pontianak Kalimantan Barat dan juara 1 di Pekanbaru (Riau) pada 1995.
Dia pernah juga memenuhi undangan dari pemerintah Singapura dalam pengajian akbar yang digelar di negera tersebut.
Sang adik Tamsir Ali yang lahir pada 1956 mengikuti jejak sang kakak Yusna Ali. Namun ambisinya untuk mengikuti MTQ Tingkat Nasional di Yogyakarta 1991 gagal. Tak elok diceritakan kenapa gagal dalam tulisan ini.
Gambarannya meminjam istilah “Raja Dangdut” Rhoma Irama adalah “terlalu.”
Pahamlah….
Yusna Ali merupakan anak kedua dari enam bersaudara pasangan Alinuddin dan Halifah. Ia lahir pada 7 Juli 1955 di Desa Pulau Komang Sentajo. Saudara sekandungnya adalah Fatimah, Tamsir Ali, Ermis, Saptono Ali, dan Subirman. Sedangkan saudara sebapak dari pernikahan Alinuddin dengan Nursiah adalah Epi, Eris, dan Imus.
Suaranya yang tinggi melengking bagaikan bulu perindu. Enak didengar. Sampai sekarang, prestasinya sulit disaingi oleh qori dan qoriah asal Kuantan Singingi dalam ajang bergengsi pelaksanaan MTQ di tingkat nasional.
Sebagai qoriah, Yusna Ali belajar mengaji secara otodidak kepada guru surau kelas kampung, Simar dan Almunir Syafei. Mereka menganji di Surau Kampung Tongah Baliak Rimbo Dusun Kubu, Desa Pulau Komang Sentajo.
Surau penuh kenangan yang telah melahirkan juara MTQ Tingkat Nasional itu kini tinggal kenangan. Disebabkan sering kena banjir penduduk di Baliak Rimbo banyak yang pindah. Inilah salah satu faktor surau itu ditinggalkan.
Kemudian dalam perjalanan hidupnya, Yusna Ali pernah mengajar mengaji di Mesjid Syuhada Desa Pulau Komang Sentajo. Mesjid yang kini bernama Syuhada Haji Sukarmis itu berada di seberang rumahnya.
Pada era 1980-an, Yusna Ali aktif di groub rebana Dusun Kubu, Desa Pulau Komang Sentajo sebagai penyanyi. Generasi pertama pemain rebana tersebut adalah Asmarlis (gambus), Yusna Ali (penyanyi), Masran, Nailati, Muslimah, Deswita, dan lainnya. Kemudian generasi berikutnya ada Mardiana, Jospiah, Nurlaili, Nurhayati, Neni Burhan, dan lainnya.
Rebana ini sering menjuarai lomba rebana antar surau di Kenegerian Sentajo. Sebagai penyanyi Yusna Ali sering membawakan lagu qasidahan seperti Perdamaian, Budi, Assalamualaikum, Suasana di Kota Santri, dan lainnya.
Pada akhir hidupnya Yusna Ali sempat menikah dengan Bukhari dari Siberakun, Kecamatan Benai. Namun pernikahan itu tak berlangsung lama. Mereka pisah secara baik-baik.
Yusna Ali juga pernah berjualan aneka jenis makanan di kedainya yang sederhana di Desa Pulau Komang Sentajo.
Yusna Ali meninggal dunia pada usia 69 tahun di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rabu 24 Februari 2024 pukul 08.30 WIB. Kepergiannya ke tempat peristirahatan terakhirnya di Desa Pulau Komang Sentajo diantar oleh ratusan orang dalam suasana duka. Kuantan Singingi kehilangan salah seorang qoriah terbaiknya, qoriah tingkat nasional pada masanya.
Dimata adiknya Subirman, sang kakak (Yusna Ali) adalah sosok yang disiplin, rajin, dan suka bersenda gurau dengan siapapun.
Dan kakaknya itu tambah Subirman punya kelebihan di luar dugaan banyak orang. Yakni bisa hapal suara orang, bisa berjalan sendirian tanpa bantuan orang lain.
“Kakak bisa berjalan dari Kubu ke Lokuak Aro masih di Desa Pulau Komang. Padahal jaraknya cukup jauh,” ujar Subirman.
Sag kakak jelas Subirman juga bisa mengembalikan uang yang belanja di kedainya. Ia juga bisa mangupas kelapa. “Aneh memang tapi itu nyata,” tambah Subirman.
Sementara salah seorang guru mengajinya Drs. Almunir Syafei mengenang Yusna Ali tekun belajar mengaji. Hapalannya kuat dan suaranya merdu. “Sebagai guru mengaji saya bangga anak didik saya (Yusna Ali) pernah berjaya pada masanya,” ujar Munir yang kini tinggal di Jl. Todak Gg. Sentajo, Pekanbaru.
Munir berkisah Yusna Ali bisa menghapal Surah Ad-Dhuha dalam hitungan menit. Padahal surah ke-93 dalam al-Qur’an cukup panjang terdiri atas 11 ayat. Yusna bisa menghapal sambil duduk dan tiduran. Begitu kuat ingatannya.
Selamat jalan Yusna Ali. Doa kami menyertaimu.
Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam







