RiauKepri.com, PEMALANG – Bentrokan yang melibatkan dua organisasi masyarakat, Front Persaudaraan Islam (FPI) dan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS), pada Rabu (23/7/2025) malam, menjadi alarm keras terhadap lemahnya moderasi beragama dan rentannya gesekan antar kelompok keagamaan di Indonesia.
Insiden yang terjadi di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, saat acara ceramah Habib Rizieq Shihab, memicu kekhawatiran banyak pihak. Sedikitnya 15 orang mengalami luka-luka, termasuk empat anggota polisi yang tengah mengamankan acara.
Menurut pengakuan tokoh FPI, Novel Bamukmin, akar konflik antara kedua kelompok ini telah berlangsung selama lebih dari dua tahun dan berpusat pada isu sensitif soal nasab atau garis keturunan. Meski telah diklaim selesai secara akademis dan teologis oleh FPI, ketegangan tetap membara.
“Ini bukan hal baru, konflik ini sudah 2,5 tahun. Masalah nasab sudah kami bahas tuntas dalam forum-forum dialog, bahkan dibukukan setebal 547 halaman. Tapi mereka terus menyulut permusuhan,” kata Novel, Kamis (24/7).
Novel bahkan menuding PWI LS melakukan aksi terencana untuk mengganggu ceramah Rizieq Shihab. Ia menyebut ada upaya sistematis untuk menciptakan kerusuhan.
Sebaliknya, PWI LS membantah keras tudingan tersebut. Melalui juru bicaranya, Andi Rustono, PWI LS menyatakan bahwa mereka justru menjadi korban provokasi.
“Tidak benar kami membawa senjata tajam. Justru pihak kami yang dilempari batu lebih dulu. Beberapa dari kami terluka parah, termasuk satu orang dengan cedera di kepala dan mata,” ujar Andi.
Kepolisian menyebut bentrokan ini menyebabkan sembilan korban luka dari PWI LS, dua dari FPI, dan empat dari kepolisian. Saat ini penyelidikan sedang dilakukan, termasuk dugaan adanya provokasi terstruktur.
Ketua Umum FPI, Muhammad Alattas, menyatakan adanya bukti surat yang menunjukkan pengerahan massa oleh PWI LS dari sejumlah wilayah seperti Batang, Pekalongan, dan Brebes.
Sementara itu, Kapolres Pemalang AKBP Eko Sunaryo memastikan bahwa acara tetap berlangsung hingga dini hari. Ia menegaskan pihak kepolisian telah melakukan evakuasi dan pengamanan maksimal. Situasi di lokasi saat ini disebut sudah kondusif, namun pengamanan tetap disiagakan.
Menanggapi kejadian ini, sejumlah pengamat dan tokoh masyarakat menilai perlunya langkah konkret dari negara untuk memperkuat moderasi beragama dan dialog lintas ormas.
“Ini bukan sekadar soal siapa benar atau salah. Ini sinyal bahwa konflik berbasis identitas agama masih menjadi bara dalam sekam. Negara tidak bisa abai,” ujar Ahmad Rofiq, pengamat sosial keagamaan dari Universitas Negeri Semarang.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah, Kementerian Agama, serta tokoh-tokoh lintas ormas harus proaktif membangun rekonsiliasi dan kesepahaman dalam bingkai kebhinekaan.
“Jika dibiarkan, konflik semacam ini berpotensi menjalar ke daerah lain. Yang jadi korban bukan hanya ormas, tapi masyarakat luas,” pungkasnya. (Red)
Editor: Dana Asmara







