RiauKepri.com, PEKANBARU– Di tengah riuhnya semangat pelestarian budaya, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) mengusung sebuah harapan besar, menjadikan pacu jalur, tradisi adu cepat perahu panjang dari Kuantan Singingi, sebagai warisan budaya takbenda dunia atau Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.
Langkah itu tidak mudah, tapi harapan justru menguat ketika peluang skema extension terbuka lebar.
Skema ini menjadi sorotan utama dalam pertemuan daring antara LAMR, Kementerian Kebudayaan, Dinas Kebudayaan Riau dan Kuansing, Panitia Pacu Jalur 2025, serta sejumlah tokoh budaya, beberapa hari lalu.
Ketua Umum DPH LAMR, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menegaskan kesiapan penuh pihaknya dalam proses pengajuan. “LAMR siap berada di posisi mana pun, diminta atau tidak diminta,” ujarnya lantang.
Selama ini, Indonesia kerap mengajukan budaya ke UNESCO melalui dua jalur utama, mandiri dan multinasional. Pantun dan kebaya adalah contoh sukses, namun prosesnya panjang dan terbatas oleh kuota. Menurut Prof. Dr. Ismunandar, staf ahli Kementerian Kebudayaan, kuota tahunan jalur ini hanya 1–2 budaya per negara, membuat daftar antrean budaya Indonesia kian menumpuk.
“Kalau lewat jalur itu, pacu jalur baru bisa dibahas 6 sampai 8 tahun lagi,” jelas Ismunandar.
Namun skema ketiga yakni, extension muncul sebagai harapan baru. Meski belum pernah digunakan Indonesia, jalur ini lebih terbuka dan cepat. Syaratnya: budaya yang diusulkan harus memiliki kesamaan dengan budaya yang sudah lebih dulu diakui UNESCO. Untuk pacu jalur, ini bisa berarti budaya perahu tradisional di Eropa atau Tiongkok.
Meski tantangannya tak kecil, membutuhkan persetujuan komunitas budaya lain di luar negeri, Datuk Seri Taufik melihatnya sebagai peluang untuk membangun kesadaran global. “Cara extension justru menjadi edukasi universal. Kita tak hanya mewarisi, tapi juga ikut mewariskan kebudayaan dunia,” katanya.
Datuk Seri Taufik bahkan mengaitkan pacu jalur dengan temuan prasejarah di Kuansing yang diduga menjadi bagian tapak awal peradaban manusia Nusantara.
Tentu, pengakuan dunia bukan tujuan akhir. Datuk Seri Taufik mengingatkan agar pengusulan ICH UNESCO juga dibarengi pemikiran konkret soal ekonomi komunitas pendukung budaya. “Ada banyak contoh masyarakat adat yang budayanya diakui dunia, tapi justru hidup dalam kemiskinan,” ujarnya prihatin.
Pacu jalur, yang tak hanya pesta olahraga air tapi juga ritual dan simbol kebersamaan masyarakat Melayu Riau, memiliki semua unsur untuk diakui sebagai warisan budaya dunia. Dan jika benar jalan tercepat adalah melalui extension, maka sejarah mungkin tak perlu menunggu terlalu lama untuk menuliskan nama Kuansing di panggung budaya dunia.
Sebagaimana diketahui bahwa sejak tahun 2014,
Pacu Jalur di Kuansing, Riau, secara resmi diakui dan ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai bagian integral dari Warisan Budaya Nasional Takbenda. (WBTb). Selain itu. Pacu Jalur juga tercatat ke dalam agenda Kekayaan Intelektual Nasional (KEN). Hal ini sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya tersebut, karenanya pemerintah mendukung Festival Pacu Jalur yang diadakan setiap tahun di Kuantan Singingi dan mempromosikan pentingnya festival tersebut kepada masyarakat luas baik nasional maupun internasional, tim pemenang Pacu Jalur juga akan berkesempatan terpilih menjadi atlet nasional Indonesia untuk mewakili Indonesia di ajang balap perahu internasional. Kini tinggal “sekayuh” lagi Pacu Jalur diakui sebagai warisan takbenda dunia oleh UNESCO. (RK1)
Editor: Dana Asmara







