Menu

Mode Gelap
Pemkab Siak Kukuhkan SOTK Baru, Terjadi Mutasi Demi Kelancaran Pembayaran Gaji ASN Ikuti Seminar Peningkatan Mutu Akademik, Puluhan Mahasiswa Unilak Muntah 3 Rumah di Dusun Nadi Bangka Tengah Terseret Arus Banjir, PT TIMAH Tbk Salurkan 300 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Sepuluh Kepala Daerah dan Tiga Wartawan Raih Trofi Abyakta di HPN 2026 Prakiraan Cuaca Kepri Selasa, 13 Januari 2026: Hujan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah, Masyarakat Diimbau Waspada Kecelakaan Tunggal di Pelalawan, Sepasang Karyawan Bank Tewas

Minda

Kemiskinan dan Pengkhianatan

badge-check


					Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Oleh Hang Kafrawi

Pagi ini, matahari belum naik betul, namun di halaman rumah Ramli sudah ramai orang kampung. Wajah-wajah merah padam, tangan mengepal parang, cangkul, bahkan galah buluh. Sorak-sorai menggema bagai perang yang hendak dimulai. Orang kampung nampak betul emosinya.

“Keluar kau, Ramli! Pengkhianat kampung! Tanah kami kau gadaikan!” teriak beberapa orang kampung.

Suasana mencekam. Ramli tak berani keluar. Tirai jendela hanya bergerak-gerak pelan dalam seperti nafas tikus ketakutan. Orang kampung semakin geram dan seakan tak tertahan lagi hendak memuntahkannya di hadapan Ramli.

Dari ujung jalan tanah, terlihat sosok tua berkain sarung, berbaju Melayu melangkah pasti menuju rumah Ramli. Dia Atah Roy, ya Atah Roy berjalan seperti bintang film India hendak menyelamatkan kekasihnya dari dekapan musuh. Atah Roy orang tua kampung yang tutur katanya sering lebih tajam dari parang sembilu. Ia tak bawa senjata, hanya sebatang keyakinan dan sepasang mata yang sudah lama membaca kelicikan manusia.

“Ape bising-bising pagi hari ni?” tanyanya Rot saat sampai di tengah-tengah orang kampung. Orang-orang menoleh ke Arah Roy mengadu seperti anak kecil.

“Ramli, Tah… Ramli yang jual tanah kite ke perusahaan. Die yang bujuk-bujuk orang kampung dan sebagian sudah tandatangan surat pelepasan tanah! Ramli talibarut perusahaan, Tah!” ucap Tapa Sulah dengan geram.

Atah Roy mengangguk. Lalu perlahan berjalan menuju pintu rumah Ramli. Atah Roy pelan-pelan mengetuk pintu rumah Ramli. Ketukan Atah Roy memang pelan, namun memiliki makna yang dalam dan orang kampung tahu itu.

“Ramli. Aku tahu dikau dengo. Dikau tak pekak, cuma nurani dikau yang mungkin sudah mati,” kata Atah Roy datar.

Tak lama, daun pintu terbuka. Ramli muncul. Rambut disisir licin, baju tidur satin biru, aroma parfum mahal menyebar dari tubuh Ramli. Ramli mencoba menguat-nguatkan diri, namun dari matanya tampak gelisah.

“Tah, jangan dengo fitnah orang-orang iri ini, Tah. Ini semue politik kampung. Aku difitnah karena berhasil, Tah” ucap Ramli dengan suara agar mengeletar.

“Berhasil menjual tanah orang kampung? Berhasil buat rumah dikau due tingkat, sementare orang-orang kampung kehilangan tanah? Berhasil pakai mobil cantik, sementara orang-orang kampung tetap berjalan kaki ke kebun getah?” suara Atah Roy menggeram.

“Aku cume cari peluang! Kalau bukan aku, orang lain juge akan lakukan. Perusahaan itu tawarkan harge tinggi! Tak salah cari untung, kan?” Ramli mendongak, suaranya meninggi dan sepertinya menantanng Atah Roy.

Atah Roy memejamkan mata sejenak, kemudian mendekat dan memegang bahu Ramli, lalu menatap Ramli tajam-tajam.

“Dikau tahu kenape orang kampung percaye pade dikau, Ramli? Karena dulu dikau yang mati-matian menolak perusahaan itu. Dikau berdiri paling depan setiap kali bernego dengan pihak perusahaan! Dikau dianggap pahlawan oleh orang-orang kampung. Tapi sekarang, kenape dikau menjadi pengkhianat hanye disebabkan duit yang dijanjikan pihan perusahaan itu. Kami bukan tak tahu, Ramli, tapi kami tak mau menyinggung perasaan dikau, namun kali dikau semakin menjadi-jadi hendak menjual tanah orang kampung! Tak aku sangke anak Kahar pejaung kampung ini menggadai kampungnye sendiri disebabkan duit!” ucap Atah Roy dengan pasti menusuk jantung Ramli.

Ramli diam. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara. Perlahan-lahan air mata mengalir ke pipi Ramli. “Aku penat hidup miskin, Tah! Aku tak sanggup menenguk para pendatang hidup bersenang-senang dari hasil tanah kite ini, sementare kite hidup miskin, Tah.”

Kata-kata Ramli itu membuat suasana hening. Orang-orang kampung saling berpandangan. Orang kampung juga mengalami hal sama dengan Ramli, namun mereka tidak tergiur dengan permainan pihak perusahaan. Mereka tahu, bahwa pihak perusahaan tidak pernah benar-benar memikirkan nasib kampung ini, setelah kekayaan alam kampung ini punah, perusahaan dan orang-orang yang bekerja diperusahaan itu balik kampung masing-masing.

“Aku faham, Ramli. Semue orang ingin senang, tapi kalau senang dikau didapat dari sengsaranye orang lain, itu bukan rezeki. Itu laknat namenye, Ramli! Untuk kesenangan dikau sorang, sanggup dikau gadai kampung halaman dikau sendiri! Itu namennye pangkhianat, Ramli!” suara Atah Roy bergetar dan meninggi.

Ramli terduduk. Bahunya turun perlahan. Matanya samakin basah. Ia tak tahan. “Atah… Aku salah. Aku tergoda. Aku… aku tahu semua ini salah, Tah. Aku betul-betul sesat disebabkan duit!”

“Mengaku salah bukan lemah, tapi tande cinta dikau pade kampung masih ade di dade Dikau, Ramli. Mengaku saje tak cukup, Ramli. Dikau harus tebus semue ini. Tanah di kampung ini belum semue dikuasai perusahaan, surat-surat masih bisa dibatalkan, dan dikau tentu tahu harus berbuat ape, sebab dikau anak pejuang kampung ini, Ramli. Kembalikan marwah dikau dan marwah kampung ini, Ramli,” kata-kata Atah Roy semakin menusuk jantung Ramli. Ramli tak mampu bertahan lagi, dia pun memeluk Atah Roy dengan menangis sejad-jadinya.

“Aku akan berjuang untuk marwah kampung dan marwah keluarga Kahar, ebah aku, Tah,” ucap Ramli dipelukan Atah Roy.

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak.

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Siak: Jika Belum Bisa Melayani dengan Baik, Jangan Malu Minta Maaf

12 Januari 2026 - 14:53 WIB

PT BSP Berprestasi dan Peduli, Konsisten Jaga Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat

12 Januari 2026 - 12:40 WIB

Pengungkapan Sumpah Bertandatangan Gubernur Riau (Berhalangan Sementara) Abdul Wahid

12 Januari 2026 - 09:45 WIB

Deteksi Kebocoran Pipa: Dari Kewajiban Teknis Menuju Strategi Integritas Aset Migas

12 Januari 2026 - 09:29 WIB

Pakar: Pipa Gas PT TGI Meledak Lagi Karena Tidak Ada Inspeksi Menyeluruh

11 Januari 2026 - 11:45 WIB

Trending di Inhu