Menu

Mode Gelap
Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen Tahun ini Baru Jembatan Selat Akar yang Dianggarkan Pemprov Riau Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau Nada Salsabila Kamil di Undang Podcast RRI Atas Prestasinya HPN 2026, BNNK Tanjungpinang Hadirkan Edukasi Rehabilitasi Narkotika untuk Masyarakat Tiga Polisi Aktif Diduga Terlibat Pesta Narkoba, Kapolres Bengkalis: Tak Ada Ampun, Semua Ditindak Tegas

Internasional

Selangkah Menuju Kampung Siti Nurhaliza, 22 Pekerja Ilegal Diselamatkan di Dumai

badge-check


					Ilustrasi (net). Perbesar

Ilustrasi (net).

RiauKepri.com, PEKANBARU- Hari masih gelap, ayam jantan belum lagi berkokok, dan lalat pun masih terlelap, ketika itu tim Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau bergerak cepat menuju Selinsing, kawasan perbatasan Dumai dengan Bengkalis, dinginnya embun masih menyelimuti Jalan Arifin Ahmad dan 22 orang tengah menanti harapan baru yang ternyata ditelan gelapnya dini hari Sabtu (9/8/2025).

Mereka bukan pelancong, bukan pula wisatawan yang ingin menyeberang ke negeri jiran, Malaysia. Mereka adalah para Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal, rinciannya 17 laki-laki, 4 perempuan, dan 1 anak di bawah umur, yang hendak dikirim ke negeri Siti Nurhaliza melalui jalur laut tanpa dokumen resmi.

Berbekal informasi yang diterima sekitar pukul 02.00 WIB, Sabtu (9/8), tim kepolisian langsung menyergap lokasi sekitar dua jam kemudian. Di sana, lima calon PMI ditemukan tengah menunggu jemputan dalam suasana sunyi dan dinginnya dini hari. Ketegangan terasa saat sebuah mobil Toyota Avanza putih mendekat. Pria bernama MR (29), yang duduk di belakang kemudi, sempat terkejut sebelum akhirnya diamankan petugas.

Tak lama berselang, mobil kedua, Toyota Avanza hitam, datang. Kali ini, pengemudinya DA (50), juga langsung ditangkap. Dari pemeriksaan awal, keduanya mengaku hanya “disuruh” oleh pihak lain yang lebih misterius. Nama-nama seperti Do, Nababan, dan seorang beralias Ucok alias George Bush muncul dari hasil interogasi. Jejak jaringan inipun mulai terbuka perlahan.

Yang menyayat hati, di antara 22 orang itu, terdapat seorang anak yang ikut terseret dalam arus migrasi ilegal ini. Mereka berasal dari berbagai daerah, Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, hingga Riau sendiri. Harapan mereka sederhana, mencari kehidupan yang lebih baik di seberang laut.

Fanny Wahyu Kurniawan, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Riau, memastikan para korban akan didata dalam sistem SISKOP2MI dan dipulangkan ke daerah asal mereka.

“Penyelamatan ini bukan hanya soal menggagalkan upaya ilegal. Ini soal nyawa. Jalur laut itu berisiko tinggi, mereka bisa menjadi korban perdagangan orang, atau lebih buruk lagi, tak pernah sampai tujuan,” ungkap Fanny dengan nada tegas.

Pihak kepolisian kini menahan dua tersangka untuk pendalaman dan pengembangan lebih lanjut. Sementara itu, malam ini para korban akan dibawa ke BP3MI Pekanbaru untuk proses administrasi dan perlindungan.

Dalam kesunyian malam itu, mungkin mereka, para korban, tidak tahu bahwa langkah mereka telah dibelokkan. Namun satu hal pasti, mereka diselamatkan sebelum semuanya terlambat. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen

21 Januari 2026 - 20:40 WIB

Tangis Norma Pecah di Pekanbaru, Pasutri Korban Mafia Tanah di Meranti Mencari Keadilan

20 Januari 2026 - 12:06 WIB

Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak

18 Januari 2026 - 17:36 WIB

K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah

18 Januari 2026 - 14:30 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Trending di Meranti