RiauKepri.com, PEKANBARU- Di balik baju coklat tua dan peci berwarna kuning, Letkol (Purn) M. Toyib menyimpan kenangan yang tak lekang oleh waktu. Jumat pagi (15/8/2025) itu, di Gedung Daerah Balai Serindit, dia datang dengan langkah perlahan dengan wajah tegab. Di usianya yang tak muda lagi, masih berdiri sebagai saksi hidup tentang bagaimana kemerdekaan diperjuangkan, bukan sekadar dirayakan.
Pekanbaru menyambut para pahlawan dengan hangat. Gubernur Riau Datuk Seri Setia Amanah Abdul Wahid, menyerahkan sagu hati kepada 347 veteran dan janda veteran sebagai bentuk penghargaan menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia. Nilainya memang tak besar, sekitar Rp520 juta untuk seluruh penerima tapi maknanya dalam. “Kalau bukan karena mereka, mungkin kita hari ini belum bisa duduk tenang, berdiri bebas, dan bekerja tanpa rasa takut,” ujar Wahid.
Mata beberapa janda veteran tampak berkaca-kaca. Bukan karena jumlah uang yang diterima, melainkan karena mereka diingat. Banyak di antara mereka yang hidup dalam sunyi, setelah suaminya gugur dalam berbagai operasi militer, dari kemerdekaan, Trikora, Dwikora, hingga konflik masa Orde Baru. Hari itu, negara datang, meski hanya sebentar.
Gubernur Wahid tak sekadar menyerahkan bantuan. Ia mengajak semua yang hadir, terutama generasi muda, untuk tak buta sejarah. “Kalau kita lupa, kita kehilangan arah. Sejarah itu bukan cerita lampau, tapi fondasi dari semua yang kita bangun hari ini,” ungkap Wahid.
Gubri Wajid juga menyebutkan, kini musuh bangsa bukan lagi penjajah asing, melainkan kemiskinan dan kebodohan yang merampas masa depan anak negeri.
Toyib dan rekan-rekannya di Legiun Veteran Riau mengamini. Beliau menegaskan bahwa perjuangan belum selesai. “Kami memang sudah tidak lagi membawa senjata, tapi kami masih berjuang. Di tengah masyarakat, di tengah keluarga, kami tetap menanamkan nilai juang,” ucapnya, mengutip tema Hari Veteran tahun ini: “Veteran Mengabdi Tanpa Batas, Berjuang Sepanjang Masa.”
Di ujung acara. Di Negeri Lancang Kuning, hari itu, para pejuang kembali diingat. Tak untuk disanjung, tapi untuk dijadikan cermin bahwa kemerdekaan bukan pemberian, tapi warisan yang harus terus dijaga. (RK1)







