Menu

Mode Gelap
Telan Anggaran Rp233,48 Juta, DPRD Meranti Tinjau Pembangunan Duiker Simpang Puskemas Zona Integritas Diresmikan, Imigrasi Selatpanjang Bidik WBK dan WBBM Kades Batu Berapit Apresiasi Wartawan Anambas, Berkah Terima Bantuan Sembako HPN 2026 Bupati Siak Afni: PT. BSP di Ambang Kebangkitan HPN 2026 di Jemaja Berlangsung Meriah, Bupati Aneng Apresiasi Peran Strategis Insan Pers Ribuan Warga Pulau Jemaja Padati Lapangan Bola Kelurahan Letung, Meriahkan Jalan Santai HPN 2026, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

Minda

Memburu Hang Tuah

badge-check


					Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Oleh Hang Kafrawi

Cerita yang menarik itu, bagi Atah Roy, adalah kisahnya menembus ruang dan waktu. Ia hidup di sembarang zaman, menjadi rujukkan memperkokoh kesejatian suatu puak. Kisah-kisah yang didedah dapat pula ditafsir sesuai konteks zaman. Tidak itu saja, setiap peristiwa dalam kisah itu memberi peluang untuk membangun pemikiran baru sesuai kehendak penafsir. Banyak cerita masa lalu di negeri Melayu ini memerlukan sentuhan kreatif agar tetap sesuai dengan perkembangan zaman.

Salah satu kisah masa lalu yang dimadahkan oleh orang Melayu di sepanjang zaman sampai saat ini adalah Hikayat Hang Tuah. Hikayat Hang Tuah melahirkan berbagai tafsiran sesuai zaman. Tokoh Hang Tuah dan Hang Jebat menjadi tokoh yang dapat mewakili kehendak kekuasaan dan ideologi ketertindasan. Dua tokoh ini bergerak pada dua jalur bertolak belakang yang sangat ekstrim. Benturan kehendak, menjulang keyakinan dapat dijadikan energi pada hari ini. Tinggal memilih antara kesetian dari kaca mata kekuasaan atau dari sudut pandang persuadaraan. Hang Tuah atau Hang Jebat?

Menurut Atah Roy, Hikayat Hang Tuah, merupakan karya yang paling unggul di antara karya-karya sastra masa lalu yang dimiliki bangsa Melayu. Selain dari segi keteraturan peristiwa yang runut, menghasilkan konflik menawan dan klimaks tragedi menyentuh hati, Hikayat Hang Tuah “menyediakan diri” dibongkar tubuhnya untuk mendapatkan makna. Karya sastra yang bagus itu, kata Atah Roy, adalah karya yang tidak pernah kering menyediakan sumber mata air tafsiran.

“Untuk ape Atah Roy sibuk-sibuk membace dan menggali karya sastra lame tu? Tak ade orang zaman kenen yang sudi memakai pemikiran lame tu, tak sesuai zaman, Tah,” ucap Leman Lengkung sambil mengotak-atik hp androidnya.

“Aku tak pernah memakse dikau atau pun generasi zaman kenen untuk membace dan menggali cerite mase lalu negeri ini, Man. Tapi jangan larang pulak aku melakukan semue ini. Mike semue belum paham, berape pentingnye mase lalu untuk mase kini,” jawab Atah Roy.

“Tah, tenguklah perkembangan zaman kenen, tak ade orang pakai keris, pakai kain sarung, pakai tanjak de. Hari ini orang melakukan itu semue hanye nak belagak, namun jiwa mereke kosong akan Melayu. Tenguk orang Korea, Tah, gaya anak muda mereka mampu memukau seluruh pelosok dunie, sementare kite, sibuk nak jadi orang mase lalu,” kata Leman Lengkung.

“Dikau nilah generasi mude yang sesat, Man. Dikau harus sadari bahwa negara maju itu pade awalnye meletakkan nilai-nilai masa lalu mereka sebagai pondasi. Setelah pondasinye kuat, baru mereke membangun diri. Mase lalu tu bukan pade kulit aje, Man, tapi kebih dari itu, pade pemaknaannye yang harus kite tauladankan. Dikau bisa tenguk yang dilakukan Hang Tuah atau Hang Jebat, atau Datuk Bendahara, atau Tun Teja. Mereke semue konsisten dengan sikap mereke dan itu semue tidak dapat ditawo-tawo lagi. Hang Tuah tetap berpegang teguh kepade kesetiaan kepade Sultan dan itu tidak dapat ditawar-tawar dengan persaudaraan. Kepentingan Sultan atau kerajaan berade di atas segale-galenye bagi Hang Tuah. Begitu juge dengan Hang Jebat, die setia akan keadilan, persaudaraan dan itu pulak tak dapat ditawo-tawo. Bagi Hang Jebat siape pun yang melakukan kesalahan dan tidak adil, harus dilawan, termasuk penguasa sekali pun. Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah. Nilai-nilai inilah yang harus diambik sebagai sikap orang mase kenen. Ape yang tergambar dalam kisah mase lalu Hang  Tuah inilah yang harus kite tauladani,” jelas Atah Roy panjang lebar.

“Tapi orang kite lebih suke dengan kisah-kisah dari negera luo dibandingkan dari negeri sendiri. Orang luo lebih sesuai dengan perkembangan zaman,” Leman Lengkung sedikit membantah.

“Makenye, mike yang mude-mude ni harus kreatif. Gali diri kite sendiri dan buat nilai-nilai yang terkandung dalam kisah mase lalu itu sesuai hari ini. Itu baru paten. Dalam Hikayat Hang Tuah banyak betul yang dapat digali. Make jangan pernah berhenti memburu mase lalu untuk kekuatan kite hari ini. Jadikan mase lalu energi kite hari ini. Tanyekan, kenape orang dulu bisa, ngape pulak kite hari ini tidak bisa? Sejarah, dalam lirik Ramli Syarip, mengajar kite menjadi lebih dewasa. Menjadi dewasa itu artinye kite dapat berpikir dengan jernih untuk kemajuan kite bersame. Cam kan itu Man!” ujar Atah Roy.

“Itu yang susah, Tah. Kami sudah terbiase menelan peristiwa dan tokoh mase kini yang diciptakan orang luo. Di tempat kite ni payah mencari tokoh mase lalu yang hebat dan peristiwe mase lalu hanye tempat bernostalgia saje,” ucap Leman Lengkung membalas.

“Mike yang malas menggali peristiwa dan tokoh bersejarah di daerah ini. Betimbun lahak peristiwa dan tokoh mase lalu di negeri ini. Banyak membace, buru terus para tokoh dan peristiwa mase lalu. Setelah dapat dan paham, beri nyawe tokoh dan peristiwa mase lalu itu dengan roh hari ini. Semangat itu penting untuk berbuat pade hari ini, Man, dan mase lalu menjadi tempat kite menambah semangat sesuai dengan diri kite. Sekali lagi aku sampaikan, Man, Hikayat Hang Tuah telah mendedahkan semuenye dalam menentukan sikap,” jelas Atah Roy.

“Tapi, Tah,…”

“Usah pakai tapi, Man, berbuat sajelah, itu lebih baik dibandingkan pakai ‘tapi’,”  kata Atah Roy mematah alasan Leman Lengkung.

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fib Unilak.

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Improved Oil Recovery (IOR): Peluang Nyata bagi BUMD Riau di Tengah Menurunnya Produksi Minyak

9 Februari 2026 - 20:05 WIB

Kenduri Wartawan

8 Februari 2026 - 11:13 WIB

Gading

7 Februari 2026 - 06:20 WIB

Pers Card Number One: Jalan Panjang Kesetiaan Cak Iban

5 Februari 2026 - 09:24 WIB

Pentingnya Menormalisasi Harga Beli Kelapa Masyarakat Petani Indragiri Hilir

3 Februari 2026 - 09:51 WIB

Trending di Minda