RiauKepri.com, KUANSING- Di bawah terik matahari yang menyengat di Tepian Narosa, Kuantan Singingi (Kuansing), ratusan pedagang dadakan berjajar rapi di sekitar pinggir arena Festival Pacu Jalur. Meski panas mencubit kulit, semangat mereka tak surut. Berbekal topi dan tenda sederhana serta kulkas portabel, mereka menjajakan minuman dingin, gorengan, hingga camilan kekinian kepada ribuan penonton.
Mayoritas pedagang ini bukan warga Kuansing, melainkan datang dari kota-kota tetangga, terutama Pekanbaru. Salah satunya Lilik Asriani (54), yang datang bersama dua adiknya. Ia baru pertama kali berjualan di Pacu Jalur, menawarkan minuman dan sosis goreng dengan harga terjangkau. “Hari pertama dapat Rp600 ribu, hari kedua Rp1 juta, hari ketiga sekitar Rp500 ribu. Tahun depan pasti saya datang lagi,” katanya.
Pedagang lainnya, Eka Joni (39), juga berasal dari Pekanbaru. Ia menjual susu dingin merek Stiky Milk dengan harga Rp8.000 hingga Rp12.000 per porsi. Tantangannya, kata Eka, adalah mencari es batu yang harganya melonjak drastis selama festival. “Biasanya Rp1.000, sekarang sampai Rp2.500. Tapi tetap untung,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Rinal, warga Kuansing yang kini tinggal di Pekanbaru, masyarakat lokal lebih banyak berperan sebagai penonton dan tuan rumah selama perhelatan Pacu Jalur. “Warga sini fokus menikmati pacu. Tabungan mereka dibuka untuk nonton, bukan untuk dagang,” jelasnya.
Pacu Jalur bukan hanya perayaan budaya, tapi juga mesin penggerak ekonomi. Gubernur Riau Abdul Wahid memperkirakan perputaran uang selama festival mencapai lebih dari Rp75 miliar, dengan target kunjungan 1,5 juta orang. “Jika satu orang saja belanja Rp50 ribu, dampaknya luar biasa bagi UMKM dan pelaku usaha kecil,” katanya.
Efek domino festival ini juga dirasakan Kota Pekanbaru sebagai gerbang utama menuju Kuansing. Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menyebutkan peningkatan pengunjung berdampak langsung pada okupansi hotel, restoran, transportasi, dan usaha lokal lainnya. “Pekanbaru ikut mendapat berkah dari Pacu Jalur,” ungkap Agung.
Dengan gelombang wisatawan yang terus meningkat, Pacu Jalur tak lagi sekadar pesta rakyat. Ia menjelma menjadi ruang usaha terbuka bagi siapa pun yang jeli membaca peluang. Dari gerobak minuman hingga tenda makan sederhana, semua kebagian rezeki.
Selama lima hari pelaksanaan (20–24 Agustus), ribuan transaksi kecil membentuk denyut ekonomi yang kuat. Para pedagang, baik lokal maupun pendatang, ikut menumpang harap pada arus pengunjung yang tak henti datang.
Di ujung setiap kayuhan jalur yang berlomba, ada senyum pedagang yang membawa pulang berkah. Pacu Jalur bukan hanya tentang siapa tercepat, tapi juga siapa yang paling cerdas menangkap peluang. (RK1)







