Menu

Mode Gelap
Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen Tahun ini Baru Jembatan Selat Akar yang Dianggarkan Pemprov Riau Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau Nada Salsabila Kamil di Undang Podcast RRI Atas Prestasinya HPN 2026, BNNK Tanjungpinang Hadirkan Edukasi Rehabilitasi Narkotika untuk Masyarakat Tiga Polisi Aktif Diduga Terlibat Pesta Narkoba, Kapolres Bengkalis: Tak Ada Ampun, Semua Ditindak Tegas

Ragam

Tengku Kuning Penyebar Tarekat Naqsyabandiyah di Kuantan Singingi

badge-check


					Tengku Kuning Perbesar

Tengku Kuning

TAREKAT atau yang disebut juga thariqah dalam Bahasa Arab, merupakan aliran-aliran dalam tasawuf atau sufisme Islam. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tarekat berarti jalan menuju kebenaran, cara atau aturan hidup dalam keagamaan, serta persekutuan para penuntut ilmu tasawuf.

Di Indonesia berkembang tarekat-tarekat di antaranya Qadariyah, Syattariyah, Sammaniyah, Syadziliyah, Nagsyabandiyah, Khakwatiyah, Tijaniyah, dan Qadiriyah. Masing-masing tarekat punya pengikut yang sering melaksanakan haul untuk guru-gurunya.

Salah satu tarekat yang berkembang itu adalah Naqsyabandiyah yang merupakan sebuah tarekat utama dari ajaran tasawuf sunni. Namanya berasal dari Bahaudin al-Bukharian-Naqsyabandi. Para guru Naqsyabandiyah menelusuri garis keturunan mereka hingga Nabi Muhammad SAW melalui khalifah Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib.

Di Kuantan Singingi “tempoe doeloe” Tarekat Naqsyabandiyah rupanya sudah berkembang. Salah seorang ulama yang menyebarkan tarekat ini adalah Tengku Kuning. Pusat pengajian tarikat ini berada di Dusun Koto Tuo, Desa Pulau Komang Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya.

Bukti-bukti pusat peradaban dan perkembangan Islam tempo dulu di Koto Tuo Sentajo masih ada. Yakni sondi (batu besar sebagai panyangga tiang) dari mesjid tempat halaqah (mengaji duduk) Tengku Kuning dengan murid-muridnya.

Tengku Kuning di makamkan di Koto Tuo, – berjarak sekitar 200 meter dari SD 02 Desa Pulau Komang Sentajo. Di sini juga di makamkan ulama yang diyakini juga penganut Tarikat Naqsyabandiyah yakni Tengku Karak dan Tengku Aur.

Sebagai penanda ketiga makam tersebut diberi kelambu oleh cicit-cicitnya dari suku Melayu dan urang sumondonya. Tengku Kuning ditandai kelambu warna kuning, Tengku Karak kelambu warna putih. Sementara Tengku Aur belum ada kelambu.

Dari ketiga Tengku penyebar agama Islam tersebut hanya Tengku Kuning yang punya dokumentasi berupa foto. Melihat dokumentasi foto Tengku Kuning diperkirakan lebih senior dibandingkan ulama lainnya seperti Syech Muhammad Hadi (1852-1977) dari Sei. Alah, Hulu Kuantan, Radja Soelaiman di Lubuk Jambi (Kuantan Mudik), Tengku Putih di Baserah (Kuantan Hilir), dan lainnya.

Syekh Hadi gelar Tengku Angin merupakan ulama kharismatik yang pernah jadi Mufti Kesultanan Indragiri. Syekh Hadi merupkan orang tua dari tokoh pendidikan dan pejuang kemerdekaan Riau dari Kuantan Singingi Fatimah Hadi.

Syekh Hadi juga mertua dari Buya Ma’rifat Mardjani atau suami Fatimah Hadi yang juga politisi dan pejuang kemerdekaan dan deklarator pembentukan Provinsi Riau dari Kuantan Singingi.

Sedangkan Radja Soelaiman merupakan orang tua Wali Kota Pekanbaru (1968-1970) Radja Roesli. Radja Soelaiman gelar Datuk Poeti Bungsu lebih dikenal dengan subutan Ongku Kali di Lubuk Jambi (1948-1974) juga tokoh Muhammadiyah yang kharismatik.

Radja Soeleman pernah jadi Qadhi yang berperan dalam penerapan aturan bagi setiap muslim di Lubuk Jambi.

Sedangkan Tengku Putih merupakan ulama terkenal yang punya hubungan erat dengan mantan Wakil Gubernur Riau Firdaus Malik.

Tengku Kuning merupakan ulama besar di Kuantan Singingi. Muridnya tersebar mulai dari Gunung Sahilan (Kampar) hingga Cerenti (Kuantan Singingi). Secara bergiliran Tengku Kuning mengunjungi murid-muridnya sambil mengaji. Begitu pula murid-muridnya belajar ke mesjid Tengku Kuning di Koto Tuo, Sentajo.

Sebagai ulama Tengku Kuning punya maqam bukti yang menunjukkan kedekatan mereka dengan Allah Swt. Posisi untuk mendapatkan maqam tersebut tidak diperoleh begitu saja, tetapi harus melalui proses yang sungguh-sungguh.

Dan sebagai ulama Tengku Kuning diyakini memahami maqamaat al-taubat, al abshar, al sabar, al-tawakkal, dan al ridha.

Sampai sekarang makam Tengku Kuning masih diziarahi oleh turunan Tengku Kuning. Setiap malam Jumat, penganut aliran Tarekat Naqsyabandiyah melakukan pengajian di Surau Ar Rahman Desa Muaro Sentajo. Sedangkan ziarah makam dilakukan pada hari-hari tertentu.

Pengajian di Surau Ar Rahman dipimpin oleh Ustadz Ardiusman bin Abdurahman. Udin sapaan akrab ustadz ini merupakan lulusan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Kuantan Singingi yang bergelar Qari karena dianggap memahami dan mendalami agama Islam.

Ardiusman bertekad meneruskan ajaran yang disampaikan oleh Tengku Kuning. Caranya, sekali seminggu mereka menggelar pangajian rutin di Surau Ar Rahman yang diwariskan oleh orang tuanya.

Di luar pengajian itu, di surau Ar Rahman juga berlangsung pengajian rutin bagi anak-anak khususnya dari Dusun Tanah Genting Desa Muaro Sentajo.

Kitab-kitab peninggalan Tengku Kuning sebagian masih disimpan oleh cicitnya Suska Nur Apriadi di Rengat. Orang tua Edi panggilan akrab Suska Nur Apriadi dari pihak ibu Nursidah adalah turunan langsung dari Tengku Kuning.

Tarekat Nagsyabandiyah yang berkembang di Kuantan Singingi diawali oleh Tengku Kuning.

Tengku Kuning memang sudah tiada. Tapi dia meninggalkan jejak berupa pengajian yang kini teruskan oleh pengikutnya.

Naskah: Sahabat Jang Itam 25082025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

BRK Syariah Resmikan Kantor Baru di Baserah, Perkuat Layanan Perbankan Syariah Enam Kecamatan di Kuansing

22 Desember 2025 - 15:00 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Trending di Kuansing