SETELAH mengabdi selama 37 tahun sejak 1945, Tjurai pensiun pada 1982. Dia menerima SK pensiun Nomor C 001316/KE/KR.IV/KC.105/A/02 tanggal 1 Februari 1982. Dia pensiun dengan pangkat/golongan: pengatur tingkat 1/ II/d di SD 2 Sentajo di Desa Pulau Komang.
Lalu berapa gajinya setelah pensiun?
Berdasarkan SK Kepala BKN No. 003687/KEP/LRXII/KC205/A/09 tentang Penyesuaian Pensiun Pensiunan PNS dan Janda/Dudanya berdasarkan PP No. 9 tahun 2009 pensiunan yang diterimanya Rp 1.577.300.
Setahun kemudian gaji pensiunan Uni Tjurai naik jadi Rp1.660.800. Kenaikan gaji ini berdasarkan SK Kepala BKN No. 002670/KEP/KRXII/KC205/A/10 tentang Gaji Penyesuaian Pensiun Pokok Pensiun PNS dan Janda/Dudanya berdasarkan PP Nomor 28 tahun 2010.
Uni Tjurai menikmati gaji pensiun selama 31 tahun sebelum ajal menjemputnya pada pada 5 Maret 2013 di Desa Muaro Sentajo. Sepuluh tahun sebelumnya suaminya Zainal Abidin meninggal dunia pada 30 Juli 2003 di Desa Muaro Sentajo. Keduanya dikebumikan di Pemakaman Umum Tanah Genting, Desa Muaro Sentajo.
Pasangan Zainal Abidin dan Uni Tjurai punya tujuh orang anak. Yakni Razmi lahir pada 1946, Fulzi (1949), Megawati (1953), Widanisa (1956), Erwan (1961), Zubaidah (1964), dan Hasnah (1967).
Tjurai berhasil menyekolah anaknya ke tingkat sarjana di perguruan tinggi. Inilah bukti kerja keras itu tak menghianati hasil.
Anak tertuanya Razmi merupakan alumnus Fakultas Hukum Unand Padang. Pernah bekerja di Kantor Notaris di Padang. Terakhir pindah dan tinggal di Jakarta.
Dan, dari pernikahan dengan Marniwati asal Lubuk Jambi, Zalmi punya tiga anak: Yoana Irawati, Listri Fitri, dan Ranti Noprianti. Sekarang tinggal di Jakarta.
Fulzi merupakan alumni Fakultas Teknik Unand Padang. Setelah tamat Kuliah Zulmi bergabung dengan PT. Sumbar Riau di Padang.
Setelah itu Fulzi pindah ke Pekanbaru. Di Pekanbaru dia ikut membangun kampus Binawidya Universitas Riau di Simpang Panam pada 1980-an. Termasuk Pembangunan Rumah Sakit Jiwa Pekanbaru.
Waktu masih bergabung dengan PT. Sumbar Riau pada 1980-an Fulzi pernah jadi kontraktor pembuatan 1000 unit rumah warga transmigrasi Sentajo di Blok D dan C (Sekarang Desa Langsat Hulu dan Muara Langsat, Sentajo Raya. Selain itu pembangunan waduk di Blok A SKP 2 (Sekarang Desa Sukaraja Logas Tanah Darat).
Dari pernikahan dengan Mastura Basir asal Sumatra Barat, Fulzi punya tiga anak Nadia Fulzi, Nila Fulzi, dan Putri Wirza.
Sedangkan Megawati adalah alumni IKIP Padang pada 1979/1980. Pernah jadi guru di SPG Taluk Kuantan (1980-1990) Setelah SPG tutup pada 1990 dia pindah ke SMP 4 Taluk Kuantan. Dia pensiun 2013 di SMP 6 Taluk Kuantan. Dari pernikahannya dengan Ansar punya anak bernama: Aza Sartika, Ana Satria, dan Tri Aprilia. Kini berdomisili di Telukkuantan. Sedangkan Wirdanisa meninggal pada 1980 pada usia 24 tahun.
Erwan lulusan dari SMA 1 Padang, Sumatra Barat. Pensiun tahun 2019 sebagai pegawai adminitrasi di Universitas Riau, Pekanbaru. Dari pernikahannya dengan Marlina punya anak: Annisa Erselina dan Dwiki Wibisana. Kini dia tinggal di Simpang Panam, Pekanbaru.
Zubaidah merupakan alumni Fakultas Non Gelar Teknologi Universitas Riau Jurusan Penyuluhan Pertanian. Dari pernikahannya dengan R. Siregar asal Sumatera Utara punya anak: Angga, Yuni, dan Rahma. Sekarang domisili di Taluk Kuantan dan berprofesi swasta.
Sementara sibungsu Hasna merupakan alumni FKIP Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Pernah mengajar sebagai guru honorer di MTs Nurul Islam Sentajo (1994 s.d 2004). Lalu diangkat jadi PNS di SMP 6 Taluk Kuantan (2005 s.d sekarang).
“Insya Allah pada September 2027 mendatang pensiun setelah mengabdi selama 33 tahun,” ujarnya tersenyum.
Kini Hasna tinggal di kediaman yang dulu ditempati orang tuanya Tjurai dan Zainal Abidin. Tepatnya di Jalan Posongik No.3 RT.01/RW.01 Dusun Loban, Desa Muaro Sentajo bersama dua anaknya: Refaldo Asta dan Julius Rifqi.
Refaldo kelahiran 12 Agustus 2000 merupakan alumni FISIP Universitas Riau, Pekanbaru. Sekarang bekerja di kantor Camat Sentajo Raya, Kuantan Singingi. Sedangkan Julius Rifqi kelahiran 6 Juli 2004 merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Qasim, Pekanbaru.
Dimata Keluarga
Dimata anaknya Erwan, ibunya sangat peduli pendidikan. Bukti kepedulian itu adalah anak-anaknya meraih gelar sarjana. “Yang tidak sarjana itu hanya saya,” ujar Erwan.
Ditanya kenapa dirinya tak meraih gelar sarjana, Erwan hanya tersenyum. “Panjang ceritanya. Didengarkan boleh ditulis jangan,” tambahnya.
Sementara menantunya Agus Salim menyebut mertuanya (Uni Tjurai) serasa ibu kandung sendiri. Orangnya penyabar, penyayang, dan suka membantu keluarga dan orang lain. Dia juga sangat resfek dan cepat tanggap soal kehidupan.
“Dengan lemah lembut pasti dia akan bertanya dan memberikan solusi. Kesimpulannya adalah mertua saya itu suka berbagi,” kenang Agus Salim.
Dimata anak angkatnya Beben, Tjurai adalah sosok penyayang dan pengayom dalam keluarga. “Saya merasa Ibu Tjurai adalah ibu saya sendiri. Kendati saya anak angkatnya namun perlakuan Ibu Tjurai terhadap saya sama dengan anak kandungnya sendiri,” ujar pria kelahiran Banyuwangi, JawabTimur tahun 1974 ini.
Gondrong sapaan akrab Beben di tengah keluarga Tjurai ini menyebut dirinya ikut mendampingi sang ibu angkatnya menjelang ajal menjemputnya. “Sekarang saya sering bermimpi seakan-akan Ibu Tjurai membelai rambut gondrong saya,” ujar Beben yang kini tinggal di rumah tiang yang dulu ditempati ibu angkatnya itu.
Beben yang kini masih melajang di usia 51 tahun ini menyebut Tjurai sangat berjasa dalam perjalanan hidupnya. Karena itu dia tidak akan sepanjang hayat masih dikandung badan dia tak pernah melupakan jasa ibu angkatnya itu.
Kini keluarga Tjurai tersebar di berbagai daerah. Mulai dari Kuantan Singingi, Pekanbaru, Jakarta, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan lainnya. “Kendati berjauhan, komunikasi kami tetap lancar. Dunia sekarang ada dalam genggaman kita,” ujar Agus Salim.
Layak Diabadikan
TJURAI memang telah tiada. Namun sumbangannya terhadap dunia pendidikan tak bisa dipandang sebelah mata. Dia adalah srikandi yang menjadi “cik gu” yang menjalani hidup tiga zaman yang berbeda: penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan kemerdekaan.
Tjurai adalah tokoh Perjuangan Kemerdekaan RI yang telah menebar jasa bagi Riau, khususnya Kuantan Singingi. Beliau tokoh yang patut dikenang karena karakter dan pribadinya yang layak untuk diteladani. Dia berjuang bukan untuk mengejar jabatan, pangkat, ketenaran serta tanda jasa.
Tjurai termasuk perempuan pertama kelahiran Kuantan Singingi yang menjadi guru. 37 tahun pengabdiannya untuk mencerdaskan anak bangsa.
Wajar dan pantas namanya diabadikan sebagai nama jalan, gedung, bangunan atau hal-hal lain sebagai prasasti untuk mengenang keteladanannya sebagai tokoh pendidkan yang patut dijadikan contoh teladan bagi generasi muda.
Ini bukan bentuk dari “mengagungkan pribadi”, tapi untuk selalu mengenang sosok pribadi yang layak diteladani.
Dedikasi Tjurai bukan untuk dirinya. Tapi untuk bangsa, negara, dan dunia pendidikan yang dicintainya dari pada hal-hal keduniawian.
Selamat jalan Uni Tjurai. Juru penerang dari Kuantan Singingi. (tamat).
Penulis naskah: Sahabat Jang Itam: 30082025







