Menu

Mode Gelap
Gedung Baru Polsek Rangsang Barat Diresmikan, Tingkatkan Pelayanan kepada Masyarakat Terasi Ketapang Permai Dongkrak Perekonomian Masyarakat Pesisir Pagar Camp Rusak, Bocah Tewas Diterkam Harimau Sumatera di Pelalawan Satresnarkoba Polres Bengkalis Bongkar Jaringan Narkoba, Sita 8 Paket Besar Sabu dan Ekstasi Prakiraan Cuaca Kepri Jumat, 10 Juli 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Tanjungpinang, Batam hingga Natuna Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II Di Resmikan Polres Meranti Bukti Nyata Bakti Polri Untuk Masyarakat

Nasional

Teduh Langit Pekanbaru, Panasnya Suara Mahasiswa

badge-check

Aksi demo mahasiswa di Riau juga menuntuk dibebaskan Khariq yang ditangkap Polda Metro Jaya. Perbesar

Aksi demo mahasiswa di Riau juga menuntuk dibebaskan Khariq yang ditangkap Polda Metro Jaya.

RiauKepri.com, PEKANBARU- Langit Kota Bertuah, Pekanbaru, sejak subuh tampak teduh. Hujan yang mengguyur membuat Jalan Jenderal Sudirman, menjadi lembab. Dedaunan tampak lebih hijau dari biasanya. Udara segar di hari ini, Senin (1/9/2025),
tak seteduh suasana. Ribuan mahasiswa tumpah ruah di depan Gedung DPRD Riau, menolak diam atas gejolak negeri.

Mereka datang dengan semangat yang tak bisa diredam cuaca. Mereka rata-rata mengenakan jas almamater. Bendera Merah Putih berkibar di antara panji organisasi kemahasiswaan. Di ujung barisan, berkibar pula bendera bajak laut dari anime One Piece, simbol pemberontakan dan kebebasan dari generasi yang tumbuh bersama layar dan ketimpangan.

“Ini bukan soal satu kematian,” seru Azhari, Koordinator Aksi, dari atas mobil komando.

“Ini tentang nyawa Affan Kurniawan yang dilindas rantis. Ini tentang suara rakyat yang terus dibungkam. Ini tentang kami semua,” teriak Azhari.

Affan, pengemudi ojek online di Jakarta, tewas dalam insiden yang diduga melibatkan aparat keamanan. Kematian itu menyulut gelombang protes nasional, dan mahasiswa di Pekanbaru menolak menjadi penonton. Mereka juga menuntut pembebasan Khariq Anhar, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Riau, yang ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta. Penangkapannya, menurut mereka, tak lebih dari upaya pembungkaman.

Di depan pagar besi yang terkunci, suara mahasiswa membentur kawat berduri. “Kami datang ke rumah rakyat, tapi disambut seolah musuh negara,” pekik Azhari.

Gedung DPRD Riau dijaga ketat. Brimob dan Sabhara bersiaga. Polisi wanita berdiri di depan gerbang. Ada buldoser, water cannon, dan kendaraan taktis pengurai massa. Bahkan mobil pemadam kebakaran ikut disiagakan. Total ada 1.509 personel gabungan yang dikerahkan. Tampaknya, negara tak ingin mengambil risiko.

Di halaman dalam gedung, Ketua DPRD Riau Kaderismanto hadir bersama dua wakilnya, Parisman Ihwan dan Budiman Lubis. Mereka sempat turun menemui mahasiswa. Momen itu terjadi usai azan Zuhur berkumandang, ketika sebagian peserta aksi baru saja menunaikan salat.

Namun suara Kaderismanto tertelan sorakan. “Kami sudah komunikasi dengan Polda Metro Jaya soal Khariq,” katanya, berusaha menenangkan massa. Tapi mahasiswa tak begitu saja percaya. Sorakan terus menggema. Mereka menuntut lebih dari sekadar janji. Mereka ingin jaminan.

“Bebaskan kawan kami! Bebaskan Khariq Anhar!” seru seorang orator, suaranya disambut pekikan ribuan pengunjuk rasa.

Menjelang pukul 12.35 WIB, barisan mahasiswa bertambah. Massa dari Universitas Muhammadiyah Riau datang memperkuat. Orasi kian lantang. Beberapa menyebut DPR kini berubah menjadi “Dewan Pengkhianat Rakyat”. Kalimat itu dilontarkan tanpa ragu, lantang, dan ditelan angin yang masih membawa sisa gerimis pagi.

Aksi ini tak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari gelombang protes mahasiswa di berbagai daerah yang menuntut reformasi di tubuh aparat, desakan disahkannya RUU Perampasan Aset, serta pengurangan tunjangan anggota DPR yang dianggap hidup mewah di atas penderitaan rakyat.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Riau mengeluarkan surat edaran khusus. ASN dan non-ASN diminta tetap bekerja seperti biasa, namun menjauhi titik-titik unjuk rasa. Kendaraan dinas dilarang digunakan, dan penggunaan media sosial diminta dilakukan secara bijak. Surat itu seolah isyarat bahwa pemerintah paham: badai bisa datang dari mana saja.

Jalan Jenderal Sudirman yang biasanya padat, hari itu lengang. Pedagang kaki lima menepi, sebagian ikut menyimak orasi. Beberapa warga menunggu di trotoar, ingin menyaksikan sejarah dari dekat atau sekadar mengabadikan kerumunan dengan ponsel.

Demonstrasi ini mungkin akan berakhir dalam hitungan jam. Tapi gema tuntutan mahasiswa, seperti biasanya, akan tinggal lebih lama. Mereka tak sekadar datang untuk memprotes. Mereka datang untuk mengingatkan: bahwa negeri ini belum selesai dengan lukanya, dan anak-anak muda belum lelah untuk bicara. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Pagar Camp Rusak, Bocah Tewas Diterkam Harimau Sumatera di Pelalawan

10 Juli 2026 - 11:36 WIB

Asisten II: Bupati Afni Perintahkan Seluruh BUMD Siak Diaudit!

9 Juli 2026 - 18:57 WIB

Tuntutan 8,5 Tahun Menghampiri Abdul Wahid, Ruang Sidang Berlanjut ke Pledoi

9 Juli 2026 - 13:20 WIB

Bersaing dengan Kampus se-Riau, Mahasiswa Unilak Sabet Tiga Gelar Juara Peksimida 2026

9 Juli 2026 - 10:20 WIB

Unilak Kukuhkan Prestasi, Rebut Juara Umum II di Liga Talenta Mahasiswa LLDIKTI XVII

8 Juli 2026 - 10:30 WIB

Trending di Pekanbaru