Menu

Mode Gelap
Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah Menampi Dedap Siak Terima Sertifikat Bebas Frambusia dari Kemenkes RI Pulau Terubuk Bersholawat Bersempena Haul Raja Kecik Berjalan Khidmat Billy Yusak Resmi Memimpin BM Kosgoro 1957 Bintan

Nasional

Teduh Langit Pekanbaru, Panasnya Suara Mahasiswa

badge-check


					Aksi demo mahasiswa di Riau juga menuntuk dibebaskan Khariq yang ditangkap Polda Metro Jaya. Perbesar

Aksi demo mahasiswa di Riau juga menuntuk dibebaskan Khariq yang ditangkap Polda Metro Jaya.

RiauKepri.com, PEKANBARU- Langit Kota Bertuah, Pekanbaru, sejak subuh tampak teduh. Hujan yang mengguyur membuat Jalan Jenderal Sudirman, menjadi lembab. Dedaunan tampak lebih hijau dari biasanya. Udara segar di hari ini, Senin (1/9/2025),
tak seteduh suasana. Ribuan mahasiswa tumpah ruah di depan Gedung DPRD Riau, menolak diam atas gejolak negeri.

Mereka datang dengan semangat yang tak bisa diredam cuaca. Mereka rata-rata mengenakan jas almamater. Bendera Merah Putih berkibar di antara panji organisasi kemahasiswaan. Di ujung barisan, berkibar pula bendera bajak laut dari anime One Piece, simbol pemberontakan dan kebebasan dari generasi yang tumbuh bersama layar dan ketimpangan.

“Ini bukan soal satu kematian,” seru Azhari, Koordinator Aksi, dari atas mobil komando.

“Ini tentang nyawa Affan Kurniawan yang dilindas rantis. Ini tentang suara rakyat yang terus dibungkam. Ini tentang kami semua,” teriak Azhari.

Affan, pengemudi ojek online di Jakarta, tewas dalam insiden yang diduga melibatkan aparat keamanan. Kematian itu menyulut gelombang protes nasional, dan mahasiswa di Pekanbaru menolak menjadi penonton. Mereka juga menuntut pembebasan Khariq Anhar, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Riau, yang ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta. Penangkapannya, menurut mereka, tak lebih dari upaya pembungkaman.

Di depan pagar besi yang terkunci, suara mahasiswa membentur kawat berduri. “Kami datang ke rumah rakyat, tapi disambut seolah musuh negara,” pekik Azhari.

Gedung DPRD Riau dijaga ketat. Brimob dan Sabhara bersiaga. Polisi wanita berdiri di depan gerbang. Ada buldoser, water cannon, dan kendaraan taktis pengurai massa. Bahkan mobil pemadam kebakaran ikut disiagakan. Total ada 1.509 personel gabungan yang dikerahkan. Tampaknya, negara tak ingin mengambil risiko.

Di halaman dalam gedung, Ketua DPRD Riau Kaderismanto hadir bersama dua wakilnya, Parisman Ihwan dan Budiman Lubis. Mereka sempat turun menemui mahasiswa. Momen itu terjadi usai azan Zuhur berkumandang, ketika sebagian peserta aksi baru saja menunaikan salat.

Namun suara Kaderismanto tertelan sorakan. “Kami sudah komunikasi dengan Polda Metro Jaya soal Khariq,” katanya, berusaha menenangkan massa. Tapi mahasiswa tak begitu saja percaya. Sorakan terus menggema. Mereka menuntut lebih dari sekadar janji. Mereka ingin jaminan.

“Bebaskan kawan kami! Bebaskan Khariq Anhar!” seru seorang orator, suaranya disambut pekikan ribuan pengunjuk rasa.

Menjelang pukul 12.35 WIB, barisan mahasiswa bertambah. Massa dari Universitas Muhammadiyah Riau datang memperkuat. Orasi kian lantang. Beberapa menyebut DPR kini berubah menjadi “Dewan Pengkhianat Rakyat”. Kalimat itu dilontarkan tanpa ragu, lantang, dan ditelan angin yang masih membawa sisa gerimis pagi.

Aksi ini tak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari gelombang protes mahasiswa di berbagai daerah yang menuntut reformasi di tubuh aparat, desakan disahkannya RUU Perampasan Aset, serta pengurangan tunjangan anggota DPR yang dianggap hidup mewah di atas penderitaan rakyat.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Riau mengeluarkan surat edaran khusus. ASN dan non-ASN diminta tetap bekerja seperti biasa, namun menjauhi titik-titik unjuk rasa. Kendaraan dinas dilarang digunakan, dan penggunaan media sosial diminta dilakukan secara bijak. Surat itu seolah isyarat bahwa pemerintah paham: badai bisa datang dari mana saja.

Jalan Jenderal Sudirman yang biasanya padat, hari itu lengang. Pedagang kaki lima menepi, sebagian ikut menyimak orasi. Beberapa warga menunggu di trotoar, ingin menyaksikan sejarah dari dekat atau sekadar mengabadikan kerumunan dengan ponsel.

Demonstrasi ini mungkin akan berakhir dalam hitungan jam. Tapi gema tuntutan mahasiswa, seperti biasanya, akan tinggal lebih lama. Mereka tak sekadar datang untuk memprotes. Mereka datang untuk mengingatkan: bahwa negeri ini belum selesai dengan lukanya, dan anak-anak muda belum lelah untuk bicara. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak

18 Januari 2026 - 17:36 WIB

K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah

18 Januari 2026 - 14:30 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Siak Terima Sertifikat Bebas Frambusia dari Kemenkes RI

18 Januari 2026 - 06:02 WIB

Pulau Terubuk Bersholawat Bersempena Haul Raja Kecik Berjalan Khidmat

17 Januari 2026 - 23:39 WIB

Trending di Bengkalis