RiauKepri.com, BATAM – Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Iman Sutiawan, merayakan ulang tahunnya yang ke-50 dengan cara yang jauh dari kemewahan—sebuah perayaan kecil namun penuh makna di kediamannya di Patam Lestari, Sekupang, Kamis (6/11).
Bersama keluarga, sahabat, dan sejumlah tokoh masyarakat, Iman mengubah momen bertambah usia itu menjadi ruang refleksi atas perjalanan hidupnya sebagai anak pulau yang kini dipercaya memimpin parlemen di daerah kepulauan ini.
Suasana keakraban terasa hangat ketika Iman membacakan puisi berjudul “Doa Sederhana dari Seberang Samudera”, karya sastrawan Kepri Ramon Damora. Dengan suara tenang dan penghayatan mendalam, Iman menuturkan bait demi bait yang seolah merekam perjalanan batin seorang anak laut—dari kampung nelayan hingga kursi pimpinan DPRD.
“Puisi ini bukan hanya kado, tapi cermin dari perjalanan hidup saya. Saya tahu betul bagaimana hidup di pulau, bagaimana laut menjadi sahabat sekaligus tantangan,” ujar Iman.
Puisi itu menggambarkan laut bukan sekadar bentang air, melainkan ruang kehidupan yang membentuk karakter manusia pulau—tegar, sabar, dan setia pada akar. Salah satu baitnya berbunyi:
“Pulau adalah darahku. Dan kami mengerti: darah itu adalah laut yang tak pernah selesai mengajarkan makna pulang.”
Sebagai putra asli Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Iman mengaku banyak belajar dari kerasnya kehidupan masyarakat hinterland. Dari laut, ia memahami makna keteguhan; dari pulau, ia belajar kesetiaan.
“Saya hanya ingin laut tidak lagi menjadi batas bagi manusia,” ucapnya lirih, mengulang kalimat dalam puisi yang dibacakannya sendiri.
Kini, di usia setengah abad, Iman menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan kepulauan. Baginya, posisi di parlemen bukan sekadar jabatan politik, melainkan amanah moral untuk memberi suara kepada mereka yang selama ini berbicara kepada laut, tapi jarang didengar kota.
Acara peringatan ulang tahun ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah sederhana. Tidak ada panggung megah, tidak pula pesta besar—hanya tawa hangat, doa, dan secangkir ketulusan yang menandai langkah baru seorang anak pulau yang terus berjuang agar laut menjadi penghubung, bukan pembatas.
Berikut puisinya:
Doa dari Seberang Samudera
~ Kepada Bang Iman Sutiawan
Seseorang datang dari gelombang paling jauh — sehelai suara lembut yang tumbuh dari rahim pulau.
“Pulau adalah darahku,” katanya.
Dan kami mengerti: darah itu adalah laut yang tak pernah selesai mengajarkan makna pulang.
Ia berjalan dari kampung tempat angin mengaji, dari senyum asin nelayan yang menjemur harap, di atas papan-papan yang dikelupas matahari.
Ia tahu bagaimana perahu menjadi doa,
bagaimana jarak adalah nasib yang menua dalam kesunyian. Ia tahu arti sebuah penantian pada ombak
yang datang tanpa jaminan.
Maka ketika ia berdiri di hadapan negeri ini, tak ada gemuruh tepuk tangan yang ia kejar, karena ia sendiri adalah tepukan lembut takdir pada bahu dunia yang letih, tak ada mahkota yang ia cari.
Ia hanya ingin laut tidak lagi menjadi batas bagi manusia.
Ia datang dengan ketulusan yang seperti sungai: mengalir tanpa peta,
namun sampai pada semua rumah-rumah yang menaruh harapan.
Lalu dia bilang: kita bukan superman…
Duhai, betapa merendahnya cahaya ketika bersinar di tangan yang tenang.
Sebab yang kau bawa bukanlah keajaiban, tapi, agaknya, kesabaran:
yang lebih kuat dari gelombang, yang lebih dalam dari karang, lebih setia dari mercusuar.
Duhai anak pulau, kau telah menjadi jembatan bagi mereka yang selama ini berbicara kepada laut, tetapi tak pernah didengar kota. Usia adalah gelombang yang datang silih berganti. Namun hari ini, 6 November 2025, 15 Jumadil Awal 1447 Hijriah, laut tampak tenang sekali, angin seperti sedang membaca sebuah nama yang takkan pernah berhenti memberi arti.
Kami belum layak memberi selamat kepadamu, karena engkau telah lebih dulu menebar selamat bagi banyak hidup. Kami hanya menitipkan satu doa yang sederhana dari seberang samudera: semoga langkahmu selalu kembali kepada cinta yang semula jadi itu, cinta yang bergemuruh ketika engkau berkata: “saya melakukan semua ini dengan hati…”
Kepada engkau yang lahir di sebuah pulau yang tidak muncul pada ramalan cuaca televisi. Kepada engkau yang tumbuh di tempat di mana angin tahu banyak rahasia, dan orang belajar menghitung jarak dari ombak, bukan dari kalender.
Kepada engkau yang tidak tergesa-gesa menjadi siapa-siapa, sebab di pulau semua orang tahu bahwa bahkan kelapa jatuh pun punya waktunya sendiri, dengarlah; kami titipkan perahu, sampan, jaring, mimpi, duka nestapa…
Dirgahayu, Bang Iman. Kepadamu kami akan selalu belajar bagaimana beriman kepada cara pulau bersujud dan mencintai: senyap, setia, tapi tidak meminta disaksikan.
Batam, 6 November 2025
(*)







