Menu

Mode Gelap
Upaya Pemkab Siak Menghadirkan Listrik ke Pelosok Mulai Berbuah Hasil BSP Turunkan Long Arm Bersihkan Kanal Ring 1 di Dosan, Banjir Berangsur Surut Bupati Kepulauan Meranti Hadiri Pembukaan Rakernas XVII APKASI di Batam Sempena HPN, PWI Kepri Utus Tiga Anggotanya Ikuti Pelatihan Militer di Akmil Magelang Intelektualitas Tanpa Etika Cuaca Kepri Senin, 19 Januari 2026: Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah

Riau

Suami Kena Jantung Koroner, Bupati Siak Berbagi Pengalaman dan Pesan

badge-check


					Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli dan sang suami Trisno. Perbesar

Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli dan sang suami Trisno.

Assalamualaikum wr. wb.

Tulisan ini saya susun sebagai bentuk tanggung jawab, edukasi, dan berbagi cerita. Semoga Allah Swt senantiasa memberi kita kesehatan dan kebahagiaan.

Saat Kuat Itu Tiba-Tiba Rapuh

Beliau bukan perokok. Jarang sekali sakit. Hidup sehat. Selama 15 tahun bersama, inilah pertama kalinya suami saya harus dirawat serius di rumah sakit.

Dan sekali dirawat dokter menjatuhkan vonis yang membuat dunia saya bergetar: tiga pembuluh jantungnya menyempit, salah satunya tertutup 100%.

“Sampai tertutup total?” tanya saya tercekat.
“Iya, Bu. Tapi tubuhnya bertahan karena pembuluh kecil di sekitarnya berusaha menggantikan fungsi itu,” jawab dokter.

Allahu Akbar. Tubuhnya bertahan karena mekanisme kecil yang Allah ciptakan. Tapi tetap saja, ini kondisi sangat fatal. Suami saya ibarat hidup hanya dengan separuh jantung.

Balon-Balon Penyelamat Nyawa

Ruangan dingin tiba-tiba terasa panas saat dokter menjelaskan semuanya. Serangan jantung bisa terjadi kapan saja. Tidak ada waktu untuk menunda.

Tindakan pun dilakukan: empat balon dimasukkan, bukan satu seperti biasanya.
Angioplasti, usaha rumit untuk menolong jantung yang sudah bekerja sangat keras.

Kami kembali disergap trauma lama.
Sembilan tahun lalu, abang kandung suami wafat karena serangan jantung. Di pangkuannya. Rasanya sejarah ingin mengulang.

Alhamdulillah, tindakan awal berjalan lancar. Tapi perjuangan belum selesai. Dua mungkin bisa ring. Satu harus bypass

Dokter kemudian menjelaskan dengan tenang, dua pembuluh sudah membuka sedikit setelah balon dipasang.
Namun pembuluh yang tertutup total harus bypass, operasi besar untuk mengganti pembuluh yang rusak.

Saya bertanya, “Kapan bisa dijadwalkan, Dok?”

Dokter tersenyum lembut, “Syukuri dulu fase ini. Kita kontrol sambil berjalan.”

Dan di sinilah kami. Mensyukuri waktu tambahan yang Allah beri.

Ternyata Jantung Itu Sudah Lama Berteriak

Ingatan saya melayang ke akhir tahun lalu, saat kampanye di pelosok Minas. Beliau mengirim pesan, “Bunda, cepat pulang ya. Perut saya sakit sekali.”

Kami pikir itu asam lambung. Ternyata, itu salah satu tanda serangan jantung.

Allah masih sayang. Beliau suami yang luar biasa. Ayah yang sering merangkap menjadi Bunda untuk dua malaikat kecil kami. Penguat terbesar dalam hidup, dalam niat, dalam perjuangan.

Saat saya ragu terjun ke politik, dia yang mendorong. Saat saya jatuh, dia yang memapah. Saat saya tersenyum, dia yang paling bahagia. Saat saya dihina, dia yang paling terluka.

Dia mengikuti saya ke pelosok kampung saat kampanye. Dan mungkin, di saat-saat itulah pembuluh jantungnya semakin menjerit tanpa kami sadari.

Amanah Memanggil dan Jantungnya Memudar

Setelah terpilih dan dilantik, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Keluarga kecil kami semakin jarang berkumpul. Tapi beliau tidak pernah mengeluh. Tidak pernah meminta saya berhenti bekerja.
Bahkan saat dipasangi selang dan alat medis, beliau berkata:

“Saya akan baik-baik saja. Tetaplah kerja untuk rakyat Siak. Jangan bikin mereka kecewa.”

Saya bersyukur, keluarga, Wakil Bupati, Sekda, jajaran OPD, dan DPRD bersinergi luar biasa. RPJMD dan APBD Murni 2026 tetap berjalan. Beliau bahkan sempat menemani saya menerima laporan rakyat di lobi rumah sakit.

Karena kita tidak pernah tahu soal nyawa. Selagi diberi kesempatan, ingin sebanyak mungkin memberi manfaat.

Setengah Jiwaku Ada di Detak Jantung Itu

Ada setengah juta rakyat Siak yang menjadi bagian dari sumpah saya. Ada ribuan orang yang terlihat sehat, namun menyimpan penyakit diam-diam seperti suami saya.
Mereka wajib mendapatkan kepastian layanan kesehatan.

Amanah ini berat. Tapi ujian setiap pemimpin berbeda, dan Allah tidak pernah salah menakar kemampuan hamba-Nya.

Sehatlah, Ayah dari Muhammad dan Hanina. Memompalah terus, wahai jantung, karena separuh jiwa kami tertitip di setiap detakmu.

Sehatlah pula wahai Siak. Semoga selalu dalam doa, ikhtiar, dan cinta kami.

Terima kasih atas doa dan dukungan semua pihak. Maaf bila banyak pesan belum terbalas, dan kunjungan sementara dibatasi.

Hikmah untuk Kita Semua

Dari kejadian ini, izinkan saya menitip pesan: Sayangi keluarga. Jaga kesehatan.
Manfaatkan layanan cek kesehatan gratis di fasilitas-fasilitas Pemkab Siak, hingga ke kampung-kampung. Pastikan BPJS aktif.
Penyakit tidak pernah memilih siapa. Tidak pernah menunggu waktu.

Malam ini, insyaAllah saya membuka agenda Julang Budaya Siak 2025. Semoga Allah Swt selalu menyayangi Negeri Istana.

Salam. Afni, yang malam ini menulis dengan hati bergetar dan mata berkaca. (Tulisan yang bikin hati sedih, tapi penuh hikmah).

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Upaya Pemkab Siak Menghadirkan Listrik ke Pelosok Mulai Berbuah Hasil

19 Januari 2026 - 10:56 WIB

Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak

18 Januari 2026 - 17:36 WIB

K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah

18 Januari 2026 - 14:30 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Siak Terima Sertifikat Bebas Frambusia dari Kemenkes RI

18 Januari 2026 - 06:02 WIB

Trending di Riau