Assalamualaikum wr. wb.
Tulisan ini saya susun sebagai bentuk tanggung jawab, edukasi, dan berbagi cerita. Semoga Allah Swt senantiasa memberi kita kesehatan dan kebahagiaan.
Saat Kuat Itu Tiba-Tiba Rapuh
Beliau bukan perokok. Jarang sekali sakit. Hidup sehat. Selama 15 tahun bersama, inilah pertama kalinya suami saya harus dirawat serius di rumah sakit.
Dan sekali dirawat dokter menjatuhkan vonis yang membuat dunia saya bergetar: tiga pembuluh jantungnya menyempit, salah satunya tertutup 100%.
“Sampai tertutup total?” tanya saya tercekat.
“Iya, Bu. Tapi tubuhnya bertahan karena pembuluh kecil di sekitarnya berusaha menggantikan fungsi itu,” jawab dokter.
Allahu Akbar. Tubuhnya bertahan karena mekanisme kecil yang Allah ciptakan. Tapi tetap saja, ini kondisi sangat fatal. Suami saya ibarat hidup hanya dengan separuh jantung.
Balon-Balon Penyelamat Nyawa
Ruangan dingin tiba-tiba terasa panas saat dokter menjelaskan semuanya. Serangan jantung bisa terjadi kapan saja. Tidak ada waktu untuk menunda.
Tindakan pun dilakukan: empat balon dimasukkan, bukan satu seperti biasanya.
Angioplasti, usaha rumit untuk menolong jantung yang sudah bekerja sangat keras.
Kami kembali disergap trauma lama.
Sembilan tahun lalu, abang kandung suami wafat karena serangan jantung. Di pangkuannya. Rasanya sejarah ingin mengulang.
Alhamdulillah, tindakan awal berjalan lancar. Tapi perjuangan belum selesai. Dua mungkin bisa ring. Satu harus bypass
Dokter kemudian menjelaskan dengan tenang, dua pembuluh sudah membuka sedikit setelah balon dipasang.
Namun pembuluh yang tertutup total harus bypass, operasi besar untuk mengganti pembuluh yang rusak.
Saya bertanya, “Kapan bisa dijadwalkan, Dok?”
Dokter tersenyum lembut, “Syukuri dulu fase ini. Kita kontrol sambil berjalan.”
Dan di sinilah kami. Mensyukuri waktu tambahan yang Allah beri.
Ternyata Jantung Itu Sudah Lama Berteriak
Ingatan saya melayang ke akhir tahun lalu, saat kampanye di pelosok Minas. Beliau mengirim pesan, “Bunda, cepat pulang ya. Perut saya sakit sekali.”
Kami pikir itu asam lambung. Ternyata, itu salah satu tanda serangan jantung.
Allah masih sayang. Beliau suami yang luar biasa. Ayah yang sering merangkap menjadi Bunda untuk dua malaikat kecil kami. Penguat terbesar dalam hidup, dalam niat, dalam perjuangan.
Saat saya ragu terjun ke politik, dia yang mendorong. Saat saya jatuh, dia yang memapah. Saat saya tersenyum, dia yang paling bahagia. Saat saya dihina, dia yang paling terluka.
Dia mengikuti saya ke pelosok kampung saat kampanye. Dan mungkin, di saat-saat itulah pembuluh jantungnya semakin menjerit tanpa kami sadari.
Amanah Memanggil dan Jantungnya Memudar
Setelah terpilih dan dilantik, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Keluarga kecil kami semakin jarang berkumpul. Tapi beliau tidak pernah mengeluh. Tidak pernah meminta saya berhenti bekerja.
Bahkan saat dipasangi selang dan alat medis, beliau berkata:
“Saya akan baik-baik saja. Tetaplah kerja untuk rakyat Siak. Jangan bikin mereka kecewa.”
Saya bersyukur, keluarga, Wakil Bupati, Sekda, jajaran OPD, dan DPRD bersinergi luar biasa. RPJMD dan APBD Murni 2026 tetap berjalan. Beliau bahkan sempat menemani saya menerima laporan rakyat di lobi rumah sakit.
Karena kita tidak pernah tahu soal nyawa. Selagi diberi kesempatan, ingin sebanyak mungkin memberi manfaat.
Setengah Jiwaku Ada di Detak Jantung Itu
Ada setengah juta rakyat Siak yang menjadi bagian dari sumpah saya. Ada ribuan orang yang terlihat sehat, namun menyimpan penyakit diam-diam seperti suami saya.
Mereka wajib mendapatkan kepastian layanan kesehatan.
Amanah ini berat. Tapi ujian setiap pemimpin berbeda, dan Allah tidak pernah salah menakar kemampuan hamba-Nya.
Sehatlah, Ayah dari Muhammad dan Hanina. Memompalah terus, wahai jantung, karena separuh jiwa kami tertitip di setiap detakmu.
Sehatlah pula wahai Siak. Semoga selalu dalam doa, ikhtiar, dan cinta kami.
Terima kasih atas doa dan dukungan semua pihak. Maaf bila banyak pesan belum terbalas, dan kunjungan sementara dibatasi.
Hikmah untuk Kita Semua
Dari kejadian ini, izinkan saya menitip pesan: Sayangi keluarga. Jaga kesehatan.
Manfaatkan layanan cek kesehatan gratis di fasilitas-fasilitas Pemkab Siak, hingga ke kampung-kampung. Pastikan BPJS aktif.
Penyakit tidak pernah memilih siapa. Tidak pernah menunggu waktu.
Malam ini, insyaAllah saya membuka agenda Julang Budaya Siak 2025. Semoga Allah Swt selalu menyayangi Negeri Istana.
Salam. Afni, yang malam ini menulis dengan hati bergetar dan mata berkaca. (Tulisan yang bikin hati sedih, tapi penuh hikmah).







