RiauKepri.com, PEKANBARU — Di tengah hutan pedalaman Riau, kegelisahan masih terasa di Dusun Datai, tempat warga Suku Talang Mamak kini menghadapi wabah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang telah merenggut lima nyawa anak-anak. Di balik angka kasus, tersimpan cerita keluarga yang berjaga siang malam, berharap napas kecil anak mereka kembali stabil.
Kejadian ini telah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Pemerintah pusat hingga daerah turun tangan, termasuk tim dari Kementerian Kesehatan yang diterjunkan langsung ke lokasi.
Kepala Dinas Kesehatan Indragiri Hulu (Inhu), Sandra, mengatakan puncak KLB terjadi pada 29 Oktober 2025. Hingga 14 November 2025, tercatat 222 warga Dusun Datai telah terinfeksi.
“Lima kasus kematian ini adalah anak-anak,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Rumah-rumah kayu, atap daun, dan kondisi gizi yang tidak memadai menjadi latar kehidupan warga Talang Mamak. Di lingkungan inilah ISPA mudah menular. Sandra menjelaskan, faktor gizi, sanitasi buruk, dan perilaku hidup bersih yang belum optimal membuat sebagian warga lebih rentan terserang komplikasi.
Dari 17 pasien yang sempat dirawat inap, 13 dinyatakan sembuh, sementara satu meninggal dunia. Tiga lainnya masih menjalani perawatan—dua di Puskesmas Batang Gansal dan satu di Rumah Sakit Kasih Ibu.
Meski grafik kasus kini mulai melandai, beberapa warga masih terus jatuh sakit.
“Masih ada kasus baru, meski jumlahnya kecil. Pemantauan kami lakukan ketat untuk memutus penularan,” kata Sandra.
Di dusun itu, para orang tua kini lebih sering berjaga. Mereka rutin membawa anak ke pos pelayanan, sesuatu yang sebelumnya jarang dilakukan. Tim kesehatan pun bergerak dari rumah ke rumah, memberikan edukasi dan memastikan obat-obatan tersedia.
“Kami terus melakukan edukasi, pemantauan kasus aktif, serta memastikan layanan kesehatan di wilayah terdampak,” sambung Sandra.
Di tengah keterbatasan fasilitas, warga mencoba saling membantu. Sementara mereka menunggu kondisi benar-benar pulih, ketakutan tetap menggantung—terutama bagi para ibu yang kehilangan anak atau masih merawat yang sedang sakit.
Namun harapan mulai terlihat, seiring meredanya angka kasus. Di pedalaman yang hening itu, warga Talang Mamak kini berjuang bukan hanya melawan penyakit, tetapi juga mempertahankan harapan bahwa hidup akan kembali normal. (RK1/*)







