Menu

Mode Gelap
Upaya Pemkab Siak Menghadirkan Listrik ke Pelosok Mulai Berbuah Hasil BSP Turunkan Long Arm Bersihkan Kanal Ring 1 di Dosan, Banjir Berangsur Surut Bupati Kepulauan Meranti Hadiri Pembukaan Rakernas XVII APKASI di Batam Sempena HPN, PWI Kepri Utus Tiga Anggotanya Ikuti Pelatihan Militer di Akmil Magelang Intelektualitas Tanpa Etika Cuaca Kepri Senin, 19 Januari 2026: Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah

Ragam

Refleksi Hari Guru: Memandang Guru sebagai Penjaga Harapan Bangsa

badge-check


					Andryan Rahmana Riswandi, S.Ag., C.PS., C.LTQ
Guru, Pendidik, dan Pemerhati Pendidikan Perbesar

Andryan Rahmana Riswandi, S.Ag., C.PS., C.LTQ Guru, Pendidik, dan Pemerhati Pendidikan

Oleh : Andryan Rahmana Riswandi, S.Ag., C.PS., C.LTQ

 

Pada setiap peringatan Hari Guru, kita seperti diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan panjang yang dijalani para pendidik di republik ini. Sebagai seorang guru, saya merasakan bahwa Hari Guru bukan hanya tentang seremoni atau ucapan selamat. Ia adalah ruang refleksi untuk bertanya, apakah bangsa ini sudah benar-benar memuliakan mereka yang setiap hari memuliakan anak-anaknya?

Kita semua tahu, pendidikan adalah pekerjaan peradaban. Ia tidak selesai dalam satu tahun ajaran, tidak tuntas dalam satu kurikulum, dan tidak cukup hanya dengan perubahan aturan. Pendidikan tumbuh dari perjumpaan manusia dengan manusia. Dari niat baik seorang guru dengan semangat seorang murid. Dari harapan keluarga tentang masa depan yang ingin dicapai.

A. Guru Ada di Garda Terdepan, Namun Tidak Selalu Diperhatikan

Sebagai guru, saya menyaksikan sendiri betapa besar tanggung jawab yang dipikul para pendidik. Mereka hadir paling pagi, memastikan kelas siap menyambut anak-anak. Mereka pulang paling akhir, menyelesaikan penilaian, laporan, dan catatan kecil tentang murid-murid yang mungkin sedang butuh perhatian lebih.

Namun, di balik kerja besar itu, masih banyak guru di republik ini yang bertahan dengan kesejahteraan yang belum sebanding. Ada guru yang mengajar dengan penuh dedikasi, tetapi membawa pulang penghasilan yang tidak mencerminkan tanggung jawabnya. Ada guru honorer yang bekerja dengan kualitas tinggi, tetapi dihargai dengan angka yang rendah.

Saya sering teringat ungkapan Pak Anies Baswedan:
“Jika kita ingin pendidikan melompat lebih tinggi, maka perbaiki dulu tempat berpijak para pendidiknya.”
Dan tempat berpijak itu adalah kesejahteraan. Bukan hanya dalam arti ekonomi, tetapi juga penghargaan, dukungan, dan kepercayaan.

B. Tuntutan yang Meninggi, Ruang Gerak yang Tidak Seluas Harapan

Hari ini, tuntutan terhadap guru semakin besar. Orang tua berharap guru menjadi sumber nilai, sumber ilmu, dan sumber solusi. Masyarakat menuntut hasil cepat, perubahan nyata, dan kesempurnaan dalam pembelajaran. Namun jarang kita bertanya: apakah sistem sudah memberi guru ruang untuk bertumbuh?

Sebagai guru, saya merasakan betul bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan. Ada proses mendengar murid, memahami karakter mereka, memberi ruang bagi kegagalan, dan merayakan setiap kemajuan kecil yang mereka capai. Tetapi ketika tuntutan datang tanpa jeda, ruang kemanusiaan itu bisa menyempit.

Kita harus kembali pada prinsip dasar: Pendidikan adalah kolaborasi.
Tidak bisa dikerjakan satu pihak saja. Tidak bisa hanya guru, tidak bisa hanya sekolah, dan tidak bisa hanya orang tua. Kita semua harus berhimpun dalam satu ikhtiar yang sama: memastikan anak-anak tumbuh dengan karakter yang kuat dan pikiran yang merdeka.

C. Menguatkan Guru, Menguatkan Masa Depan

Jika bangsa ini sungguh ingin bergerak maju, maka memuliakan guru bukan pilihan itu keharusan. Memuliakan bukan berarti menyanjung berlebihan, tetapi menyediakan ekosistem yang membuat guru dapat bekerja dengan hati yang lapang dan pikiran yang tenang.

Itu berarti:

  •  mengurangi beban administratif yang tidak perlu,
  • memastikan kesejahteraan guru layak dan merata,
  • memberi ruang bagi guru untuk terus berkembang,
  • dan menghormati mereka sebagai profesional yang dipercaya.

Guru yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat. Guru yang dihargai akan melahirkan anak-anak yang menghargai ilmu. Guru yang diberi ruang akan melahirkan pembelajaran yang menghidupkan.

D. Penutup: Untuk Guru, Terima Kasih yang Tidak Pernah Selesai

Pada akhirnya, Hari Guru adalah cermin. Cermin yang mengingatkan kita bahwa segala yang kita capai hari ini berdiri di atas jasa para pendidik yang mengajar dengan sepenuh hati. Kita mungkin sudah lupa nama beberapa guru kita, tetapi nilai yang mereka tanamkan tidak pernah hilang dari hidup kita.

Sebagai seorang guru, saya tahu satu hal: yang saya ajarkan hari ini mungkin tidak langsung terasa hasilnya. Tapi kelak, bertahun-tahun kemudian, ada anak yang akan memilih jalan hidup yang lebih baik karena pernah mendengar sebuah nasihat sederhana dari gurunya. Dan itu cukup membuat profesi ini menjadi salah satu pekerjaan yang paling mulia di muka bumi.

Selamat Hari Guru. Semoga bangsa ini terus belajar, tidak hanya untuk memahami ilmu, tetapi untuk memahami siapa yang mengajarkannya.

 

Andryan Rahmana Riswandi, S.Ag., C.PS., C.LTQ
Guru, Pendidik, dan Pemerhati Pendidikan

Andryan Rahmana Riswandi bukan hanya seorang pemerhati pendidikan, tetapi juga bagian langsung dari dunia yang setiap hari ia perjuangkan dunia guru dan ruang-ruang kelas. Ia mengajar di sekolah dan madrasah, menyaksikan dari jarak paling dekat bagaimana para pendidik bekerja dengan sepenuh hati, sekaligus memahami betapa kompleks tantangan yang mereka hadapi.

Meski gelarnya tidak berasal dari rumpun pendidikan murni, perjalanannya sebagai guru justru memperluas pandangannya tentang arti mendidik. Dari interaksi dengan siswa, rekan guru, hingga orang tua, ia melihat bahwa pendidikan bukan sekadar mata pelajaran, tetapi kerja kemanusiaan yang membentuk karakter, nilai, dan masa depan generasi.

Sebagaimana sering dicontohkan oleh Pak Anies Baswedan, kepedulian terhadap pendidikan tidak ditentukan oleh latar belakang akademik semata. Pendidikan adalah urusan mereka yang percaya bahwa bangsa ini hanya bisa maju bila guru diberi ruang untuk bertumbuh dan dihargai dengan layak. Dari ruang kelas di sekolah hingga halaqah kecil di madrasah, Andryan menyadari satu hal: masa depan republik ini ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan para guru hari ini.

Sebagai guru, pendidik, dan pemerhati, ia menulis bukan hanya dari sudut pandang pengamat, tetapi dari pengalaman nyata di lapangan dari dinamika kelas, dialog dengan orang tua, hingga pergulatan tentang kesejahteraan dan martabat guru. Baginya, memperjuangkan pendidikan berarti memperjuangkan kemuliaan profesi guru sebagai fondasi peradaban bangsa.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Instan Kurir Pulau Sambu Hadir Siap Melayani Masyarakat Desa Air Tawar dan Sekitarnya

28 November 2025 - 06:48 WIB

Resensi Dokumenter “Suku Laut, Bajau, dan Bintan Timur”

21 November 2025 - 10:39 WIB

Trending di Ragam