RiauKepri.com, PEKANBARU– Di tengah gelombang duka yang menyelimuti perairan Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), kisah manusia di balik penemuan 11 jenazah mengambang di laut perlahan mulai terungkap. Dua dari jenazah tersebut akhirnya berhasil diidentifikasi, membawa kepastian bagi keluarga yang menanti dengan cemas.
Kedua korban adalah Andri Manik (40) dan Darwis (47), warga Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara. Kepastian itu disampaikan oleh Kasat Polairud Polres Rohil, AKP Charisma Fajar Angkasa Putra, Jumat (12/12/2025).
“Kedua jenazah sudah dijemput oleh keluarganya,” ujarnya dengan suara berat, menandai berakhirnya penantian keluarga yang berhari-hari kehilangan kabar.
Sementara itu, sembilan jenazah lainnya masih tanpa identitas. Tubuh-tubuh yang ditemukan nelayan itu sudah dalam kondisi rusak, sebagian anggota badan hilang, diduga karena terlalu lama terombang-ambing di laut.
“Kita menduga jenazah ini sudah beberapa hari berada di laut, sulit dikenali,” kata Charisma.
Lokasi penemuan berada di perairan lepas, jalur pelayaran line tanker yang berbatasan langsung dengan Sumut. Dugaan sementara, seluruh korban berasal dari Sumut dan terkait musibah tenggelamnya kapal kargo dan kapal nelayan dari Belawan dan Tanjung Balai Asahan. Cuaca buruk, angin kencang, dan gelombang tinggi di Selat Malaka disebut menjadi penyebab.
Temuan yang Menggetarkan
Camat Pasir Limau Kapas, Yahya Khan, mengatakan jenazah-jenazah itu ditemukan secara bertahap oleh nelayan yang sedang mencari ikan.
“Beberapa hari berturut-turut nelayan menemukan jenazah mengapung. Total ada 11 mayat,” ujarnya.
Nelayan yang biasanya pulang membawa hasil laut, kali ini kembali ke daratan membawa kabar duka, meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat pesisir Panipahan.
Jenazah-jenazah itu kemudian dievakuasi oleh tim gabungan TNI–Polri dan dilakukan identifikasi. Namun sulitnya mengenali wajah dan kondisi tubuh membuat proses berjalan lambat.
Dari 11, sembilan jenazah yang belum dikenal akhirnya dimakamkan di pemakaman dekat masjid raya Pasir Limau Kapas, sebuah tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang tak sempat berpamitan.
Seruan untuk Keluarga
Pemerintah Rohil menjadikan kasus ini sebagai prioritas. Yahya mengimbau warga yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk melapor.
“Kami imbau kepada masyarakat yang merasa ada anggota keluarganya hilang, agar segera melapor untuk mempermudah proses identifikasi,” katanya.
Di tengah laut yang kembali tenang, gelombang duka masih menyapu keluarga-keluarga yang belum menemukan jawaban. Para nelayan yang menjadi saksi pertama juga membawa pulang cerita yang tak mudah dilupakan.
Dan di pesisir Panipahan, sembilan makam tanpa nama kini berdiri menunggu waktu hingga identitas mereka kembali ditemukan, hingga kisah hidup mereka bisa pulang kepada keluarganya. (RK1/*)







