ZAMAN kenen, cerita paling cepat lari bukan kabar dari balai desa, bukan juga pengumuman pakai toa di masjid. Tapi dari media sosial. Sekali ibu jari main, kabar melayang, kadang lebih kencang dari angin Selat Malaka. Masalahnya, tak semua yang melayang itu utuh. Banyak yang sampai ke rakyat cuma separuh nyawa.
Teknologi seharusnya jadi halaman terbuka, menjadi laman semua pihak menyampaikan informasi dengan terang benderang. Tapi yang terjadi di negeri ini, kadang teknologi canggih cuma jadi pajangan. Internet kencang, tapi informasi sempot, bengik, hingga mudah potong sana, putus sini. Di sinilah hantu bernama bengak, bohong, alias hoaks itu masuk, hingga akhirnya rakyat bingung, netizen aghuk, grup WhatsApp keluarga memanas.
Lucunya, yang rajin ngisi ruang digital justru bukan selalu pihak berkepentingan. Kadang yang bersuara lantang malah akun anonim, modal kuota malam dan kopi taghak. Sementara yang punya data resmi, kewenangan, dan tanggung jawab, masih sibuk dengan rilis panjang berjalao-jalao, dibacapun orang sudah bertalu-talu sangap, ngantuk.
Sistem informasi kita ni, jujur saja Wak, belum berjalan masif. Belum segendang dan sepenari. Informasi ke masyarakat tak sampai utuh. Kalau pun sampai, terasa kaku, kering, macam sempolet semalam dipanaskan ulang. Padahal rakyat hari ini maunya yang segar, ringkas, dan mudah dicerna. Jangan disuruh berpikir keras kali, Wak. Soalnya, hidup sudah berat. TPP tak cair, tunda bayar berlambak.
Nah, biar informasi tak jadi bahan ghibah liar, ada beberapa jurus yang patut dipakai, dan jangan pula jurus ini disimpan dalam laci, Wak.
Pertama, informasi itu harus menarik dan padat. Jangan letei (bertele-tele) macam cerita orang tua zaman pacaran. Rakyat maunya inti. Kalau bisa satu menit masuk otak, paham. Jangan pula dibikin sepuluh halaman PDF.
Kedua, kemas infromasi dengan konsep kekinian. Zaman sekarang orang lebih tahan nonton video 60 detik daripada baca pengumuman dua lembar. Film pendek, animasi, reels, apa saja asal mudah dicerna. Jangan alergi sama tren, nanti ketinggalan pompong. Heee…
Ketiga, kaitkan informasi dengan kondisi hari ini. Mau dibalut komedi, horor, atau nyanyian, tak jadi soal. Yang penting pesannya mengena. Kadang ketawa dulu baru paham. Kadang seram sikit baru ingat.
Keempat, jangan buang kearifan lokal. Logat Melayu, pantun, sindiran halus, itu semua senjata ampuh. Orang kita ni kadang senang kalau disentuh dengan budaya sendiri. Baru rasa dekat, baru mau dengar.
Intinya begini, wak: teknologi itu alat, bukan tujuan. Kalau alat canggih tapi tak dipakai dengan cara yang cerdik, ya sama saja macam beli sampan mahal tapi takut turun ke sungai. Informasi ke rakyat mesti utuh, jujur, dan ramah. Kalau tidak, jangan salahkan kalau yang viral justru kabar setengah masak.
Zaman sudah laju. Kalau masih lambat, siap-siap dimaki amun. Dan netizen ni, kalau dah salah paham, susah mau diluruskan. Sebab, mereka bisa saja jadi, masyarakat, menjadi jaksa, menjadi polisi, bahkan bisa netizen menjadi tuhan.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







