SYAHDAN. Di sebuah negeri yang elok budi bahasanya, sebut sajalah Riau, hiduplah seorang lelaki yang bukan main lagi cerdiknya. Ia bukan anak yang lahir di pelanto dekat bibir pantai, tapi dia tahu betol bagaimana membaca gelombang. Ia bukan biduan, tapi suaranya merdu kalau nyanyi lagu Serampang 12. Ia pula bukan jenis banyak cakap di awal, tapi bila sudah bersorak, satu negeri bisa tersampuk.
Siapakah orangnya? Janganlah disoal. Sebab, jika menyebut nama bisa bikin kawan jadi lawan, yang tak tahu menahu bisa saja mendadak jadi panas, yang panas makin melelih barang tu, Wak.
Cukuplah kita tahu sama tahu sajalah. Soalnya, hampir enam juta orang mengenalnya, meski ia bukan raja, bukan pula penghulu di tanah Melayu ini, RT pun tidak.
Pendek cerita, pada suatu masa, alih-alih lelaki itu tercongguk di atas kapal. Tak ada yang menabalnya menjadi nakhoda, tak pula ada upacara tepuk tepung tawo. Tapi entah bagaimana, karena kepandaiannya berkelit dan lidahnya yang lincah macam belut dalam pelimbah, orang ramai mendadak sudah duduk rapi sebagai penumpang. Mau ngambou? Kapal sudah berlayar, Wak. Jerung di bawah pun kebulou.
Sejak itulah lelaki tersebut digelar Si Kodung. Bukan sebab jari jemarinya putus, tapi karena haluannya sering melanggar gumbang. Jaring nelayan disapa, hingga koyak rabak, tebing sungai dikikis, abrasi pun menjadi-jadi. Tapi kapal tetap melaju, sebab nakhodanya yakin: selama ia bersuara, angin pasti patuh.
Yang paling ajaib, muncung Si Kodung ini sakti. Apa yang terlintas di kepala, cukup diucap, seakan alam semesta mengangguk. Ada yang tertawa, ada yang tepuk tangan, tak sedikit pula yang terantuk lalu terkapar. Tapi bagi Si Kodung, peribahasa “mulutmu harimaumu” itu barang lama. Versi terbarunya: mulut Si Kodung, satu negeri tercakar.
Karena kepandaiannya pula, pengikut Si Kodung berderet macam semut jumpa gula. Apa yang ia ucap dianggap titah, apa yang ia sentuh disangka berkah.
Soal adat dan budaya? Ah, itu urusan nanti. Bagi Si Kodung, dialah payung adat itu sendiri. Kalau hujan turun dari mulutnya, semua wajib basah, tak boleh berpayung lain. Adat yang tak sejalan dibilang kolot, budaya yang tak sepakat dicap penghalang layar. Pokoknya, budaya versi Si Kodung sajalah yang sah berlayar. Yang lain cukup jadi pelampung, kalau-kalau ada yang tercebur.
Memang luar biasa Si Kodung ini, Wak. Beraja di mata, bersultan di hati. Disanjung bak pahlawan, dipertahankan macam pusaka. Kapal pun terus melaju, entah ke mana arahnya, yang penting empat pulau di depan mata sudah menanti. Mulutnya tetap menebar harum, meski asap mesin mulai menyengat hidung.
Banyak yang meradang, ramai juga yang menghensing di dapur sendiri. Tapi anehnya, tak seorang pun berani menyarungkan cincin ke jari Si Kodung. Semua menunggu, sambil berdoa: semoga kapal ini masih ingat daratan, sebelum laut benar-benar murka.
Begitulah kisah Si Kodung. Sebuah cerita lama dengan wajah baru. Kita tertawa, tapi kadang tawa itu terasa pahit di lidah. Sebab dalam senda gurau Melayu, selalu ada pesan: kalau nakhoda terlalu yakin pada angin mulutnya sendiri, jangan heran kalau suatu hari nanti kapal pasti tenggelam.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







