RiauKepri.com, PEKANBARU – Upaya pelestarian budaya Melayu terus dilakukan melalui dunia pendidikan. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Peningkatan Kemampuan Membaca dan Memahami Randai Kuantan Singingi” yang diselenggarakan di SMAN 10 Pekanbaru, (21/5/2026). Kegiatan ini menjadi langkah untuk memperkenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisional khas Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau.
Randai Kuantan Singingi merupakan seni teater rakyat tradisional yang memadukan unsur seni peran, dialog atau pantun, tari, musik, dan gerak silat. Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh 15 hingga 30 orang. Cerita yang dibawakan umumnya berisi pesan moral atau koba yang disampaikan menggunakan logat Melayu Kuantan.
Keunikan Randai Kuantan Singingi terletak pada perpaduan unsur budaya yang kuat. Musik pengiringnya menggunakan alat tradisional seperti biola, gendang, dan serunai. Sementara itu, para pemain menampilkan gerakan silat atau galombang yang menjadi identitas utama pertunjukan. Dalam tradisi lama, seluruh pemain Randai didominasi laki-laki.Kesenian ini biasanya dipentaskan dalam berbagai acara adat dan kegiatan masyarakat seperti pesta pernikahan, sunatan, hingga perayaan budaya seperti Pacu Jalur yang menjadi agenda tahunan masyarakat Kuantan Singingi. Berakar dari budaya Minangkabau namun berkembang secara khas di Riau, Randai Kuantan Singingi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional pada tahun 2016.
Melalui kegiatan pengabdian tersebut, para siswa diberikan pemahaman mengenai sejarah Randai, teknik membaca pantun Melayu, memahami pesan moral dalam koba, hingga mengenali unsur seni pertunjukan tradisional Melayu. Kegiatan ini diharapkan mampu membuka wawasan siswa terhadap pentingnya menjaga budaya daerah di tengah arus modernisasi. Ketua pelaksana kegiatan, Amanan, mengatakan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam melestarikan budaya Melayu di masa depan. “Kami melihat minat generasi muda terhadap budaya daerah mulai menurun karena minimnya akses terhadap literatur budaya Melayu. Karena itu, kegiatan ini hadir untuk memperkenalkan kembali Randai Kuantan Singingi sebagai identitas budaya yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi sekaligus ruang apresiasi budaya bagi pelajar. Salah seorang anggota tim pengabdian, Hermansyah, menilai para siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung. Saat sesi pembacaan pantun dan pengenalan dialog Randai berlangsung, siswa terlihat sangat tertarik. “Bahkan beberapa siswa mulai mencoba menirukan logat dan cara penyampaian pantun Melayu Kuantan,” katanya.
Menurutnya, pendekatan interaktif menjadi salah satu cara efektif untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda. Hal senada juga disampaikan anggota tim lainnya, Juswandi. Ia menilai kegiatan berbasis budaya lokal perlu lebih sering dilakukan di sekolah-sekolah. “Di dalam Randai terdapat pesan moral tentang sopan santun, hubungan keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai seperti ini sangat relevan untuk generasi muda saat ini,” tambahnya.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari pihak sekolah maupun para siswa. Salah seorang siswa yang Bernama Dian, mengaku baru pertama kali mengenal lebih dekat Randai Kuantan Singingi. “Selama ini saya hanya pernah mendengar nama Randai, tetapi belum tahu makna dan isi ceritanya. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi lebih tertarik mempelajari budaya Melayu.” ungkapnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab seniman atau pemerintah, tetapi juga dunia pendidikan. Dengan memperkenalkan Randai Kuantan Singingi kepada pelajar, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya memahami budaya Melayu, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikannya. (RK2)







