Senin, 7 Agustus, 2017 11:25 pm

Begini Cara Lantamal IV Menyemarakkan 72 Tahun Kemerdekan RI

Lantamal IV Tanjungpinang punya cara tersendiri merayakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72 tahun 2017. Pada Senin (07/08), dalam apel khusus yang berlangsung di Lapangan Apel Mako Lantamal IV Tanjungpinang, telah dilaksanakan pemasangan bendera merah putih dan stiker “72 Tahun Indonesia Kerja Bersama” di seluruh kendaraan dinas.

Komandan Lantamal IV, Laksma TNI R.Eko Suyatno mengintruksikan ke seluruh kantor/ksatriaan, perumahan jajaran Lanal, Posal hingga Posmat (Pos Pengamat) yang berada di pelosok perbatasan untuk melaksanakan pemasangan bendera merah putih, umbul-umbul dan pemasangan stiker diseluruh kendaraan dinas selama satu bulan penuh.

“Ini untuk memberikan contoh kepada masyarakat dan menindak lanjuti instruksi dari Mabes TNI/TNI AL untuk melaksanakan pemasangan bendera, umbul-umbul di seluruh komplek perumahan TNI, kantor TNI/Ksatriaan dan kendaraan dinas dalam rangka memperingati “72 Tahun Kemerdekaan Indonesia Kerja Bersama”,” kata Danlantamal.

Baca juga :  Nyat Kadir Pulang Kampung “Dilambai” Kesedihan

Komandan Denma Lantamal IV Letkol Laut (P) Rahmat Arif memimpin langsung pelaksanaan pemasangan bendera dan stiker “72 Tahun Indonesia Merdeka Kerja Bersama” di kendaraan Dinas Lantamal IV.

Untuk tema dan logo “72 tahun Kemerdekaan Indonesia”, filosofinya berasal dari kata Kerja Bersama, dan gotong royong. Kerja sama, disebutkan sebagai prinsip dasar masyarakat Indonesia dalam kehidupan berbangsa.

“Gotong royong merupakan manifestasi konkrit dari semangat kebersamaan antar-masyarakat dalam bahu-membahu dan tolong menolong,” jelas orang nomor satu di Lantamal IV itu.

Muara dari tema Indonesia kerja bersama merupakan representasi dari semangat gotong royong untuk membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Baca juga :  Dinas PUPR Bintan Jamin Beberapa Pembangunan Fisik Selesai Tepat Waktu

Standar ukuran dari logo yang dipasang di seluruh kendaraan dikeluarkan Sekertaris Negara. Struktur logo dan logogram menegaskan tidak bisa berdiri sendiri. Jadi, harus dipakai dalam kesatuan yang utuh. Selain itu, untuk menjaga keterbacaan, logo tidak boleh digunakan dalam ukuran yang lebih kecil sehingga dapat terbaca.

Ketentuan lain dalam penggunaan logo, tidak boleh didistorsi, diputar, maupun dibalik. Logo juga tidak boleh diganti warna.

“Logo tidak boleh diubah atau dipotong sebagian. Logo juga tidak boleh digunakan dengan efek gambar yang tidak relevan,” imbuhnya.

Aturan Setneg juga menegaskan kalau logo tidak diperbolehkan diletakan di atas pada foto berwarna. Logo tidak diperbolehkan diisi oleh foto hitam putih maupun berwarna.(RK/Dispen)