Selasa, 24 Maret, 2015 11:53 am

Cerita Lagenda; Dedap Durhaka

Konon dahulu kala hiduplah sebuah keluarga miskin di sebuah desa terpencil. Keluarga ini terdiri dari seorang Bapak yang Bernama Ujang sedangkan seorang Ibu bernama si Topang dan anaknya bernama Dedap. Karena kemiskinan itulah akhirnya mereka terpaksa mencari kayu atau rotan di dalam hutan dan kadangkala juga berburu. Dedap adalah seorang anak yang sangat rajin membantu ke dua orang tuanya.

Ketika ia mulai beranjak remaja, Dedap mulai memikirkan kemiskinan dan segala kekurangan keluarganya itu. Suatu hari dalam ketermenungannya, ia berpikir untuk pergi merantau, mencoba nasib di negeri orang. Hal itulah akhirnya ia sampaikan kepada kedua orang tuanya. Hingga pada suatu malam, berkatalah Dedap kepada Ibu dan Bapaknya.

“Wahai Ibu dan Ayah. Kiranya ada hal yang hendak ananda sampaikan kepada ibu dan ayah” kata Dedap membuka kata.

Mendengar anak semata wayangnya itu, Ibunya bertanya “Apa gerangan yang hendak ananda sampaikan wahai anakku? “ kata ibunya

“Telah lama ananda berpikir tentang hidup kita yang serba kekurangan ini. Jadi ananda berhajat hendak pergi merantau. Hendak melihat negeri orang, mencoba mengadu nasib. Seandainya beruntung, murah rejeki, ananda akan segera pulang.” Kata Dedap berhati-hati.

Mendengar pernyataan anaknya itu, Ibu dan Bapak Dedap sangat bersedih hati. “Untuk apa ananda pergi merantau nak? Bukankah di sini semuanya sudah lengkap. Ada ibumu, bapakmu dan dedap” kata ibunya memelas.

Begitu juga dengan ayahnya. “Dedap anakku, sungguh hidup merantau itu banyak duka ketimbang sukanya nak. Lebih baik anakku tetap di sini, bersama kita mencari rezeki di tanah ini.” Kata Ayahnya pula.

Berbagai alasan mereka kemukakan agar anaknya dapat berpikir jernih untuk tidak meninggalkan mereka akan tetapi hajat Dedap sudah begitu bulat. “Ayah dan ibu, sesungguhnya Dedap hanya berniat merubah nasib keluarga kita ini agar tidak terus menerus hidup dalam kemiskinan. Dedap berjanji kalau sudah berhasil, Dedap pasti kembali lagi dan kita bisa hidup bahagia seperti orang lain” ucap Dedap sangat yakin.

Sehingga akhirnya dengan sangat terpaksa kedua orang tua Dedap merelakan anaknya untuk merantau ke negeri orang. Ibunya hanya bisa berpesan sambil menitikkan air mata. “Pandai-pandailah engkau membawa diri di kampung orang nak, di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung. Dan ketahulilah olehmu nak, modal dalam kehidupan itu ialah kejujuran. Jika berjanji harus ditepati, janganlah sesekali engkau mungkir, Nak!”

Begitu senang hati Dedap mendapat restu dari kedua orang tuanya itu. Ia pun berkata “Tak usahlah Ibunda dan Ayahnda khawatir. Pandai-pandailah Dedap membawa diri di kampung orang nantinya.” Katanya dengan raut wajah berseri-seri.

Tepat pada hari yang telah ditetapkan, ada sebuah tongkang berlabuh di kuala sungai untuk mencari muatan. Seperti biasanya, di samping memuat barang-barang dagangan, tongkang itu juga membawa penumpang yang hendak berlayar ke Singapura dan negeri lainnya seperti Melaka.

Pada saat kapal tongkang itu berangkatlah terjadi perpisahan antara anak dan ibu serta Bapak. Dedap pun pergi merantau dengan berbekal pais keluang kesukaannya.

“Ayo berangkat…! seru salah seorang ABK Kapal. Ibu Dedap pun melambaikan tangan kepada anaknya seraya berkata “Hati-hati naakk…setelah sampai ke rantau yang dituju, jangan lupa memberi kabar kepada kami” seru ibunya disertai tangis.

“Baiklah Ibu, Ayah. Dedap Berjanji setelah berhasil kelak, Dedap akan kembali” kata Dedap sambil melambaikan tangannya di pinggir tongkang itu.

Hari berganti hari dan bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, ternyata kabar yang diharapkan oleh Ibu dan Ayah Dedap tidak seperti yang diharapkan. Kabar dari Dedap tak kunjung diterima oleh kedua orang tua itu. Hal itulah membuat hati mereka menjadi bertambah sedih. Setiap hari mereka dirundung kerisauan tentang keberadaan anaknya.

Sementara itu, Dedap yang telah sampai ke negeri orang, hidupnya mulai membaik. Hal itu merupakan berkat kerja keras bertahun-tahun dan kejujurannya. Dedap akhirnya dipercayakan menjalankan perniagaan milik Saudagar Tinggi. Dan sejak itulah Dedap tidak lagi dipanggil Dedap tetapi Saudagar Muda.

Hingga pada suatu ketika, karena kepercayaan Saudagar Tinggi kepada Dedap begitu kuat, ia pun menawari putrinya untuk dijadikan istri kepada Dedap. “Wahai Dedap, kiranya aku lihat hidupmu sekarang sudah pun berkecukupan, hanya saja ada yang kurang” kata saudagar tinggi.

Baca juga :  Alhamdulillah, PK Rusli Zainal Dikabulkan Mahkamah Agung

“Terima kasih wahai Saudagar Tinggi, semua itu berkat tunjuk ajar dan kepercayaan yang diberikan kepada saya” ucap Dedap merendah. Tapi kalau boleh saya tahu, apakah kekurangan yang Saudagar maksudkan? “ tanya dedap ingin tahu.

“Kiranya jikalau engkau tidak keberatan, aku berencana menikahkan putriku dengan engkau wahai Dedap sebab aku kira, engkaulah lelaki yang nantinya bisa menjaga anakku satu-satunya itu” kata Saudagar Tinggi.

Mendengar pernyataan Saudagar Tinggi, Dedap menahan suka karena betapa beruntungnya dia dijodohkan dengan anak Saudagar Tinggi. Disamping itu, ia juga sudah lama memendam rasa suka kepada anak Saudagar Tinggi tersebut.

Akhirnya Dedap pun tidak menolak tawaran dari Saudagar Tinggi itu. Dengan tidak menunggu waktu yang lama, pernikahan pun dilangsungkan selama sepekan. Bermacam acara dibuat oleh Saudagar Tinggi dalam rangka pesta pernikahan anaknya itu.

Setelah seminggu acara pernikahan, Saudagar Tinggi menyuruh ke dua anaknya untuk berbulan madu dengan menggunakan sebuah kapal yang telah disediakan untuk pengantin baru tersebut.

Berlayarlah akhirnya perahu Dedap dan istrinya beserta anak buah kapal yang cukup ramai. Dalam pelayaran tersebut, Dedap sempat berpikir bahwa kinilah saatnya menunjukkan keberhasilan yang telah diperoleh kepada masyarakat di kampungnya. “Aku harus menunjukkan pada masyarakat kampung, bahwa aku juga bisa kaya” batinnya di dalam hati.

Setelah perahu Dedap merapat di muara salah satu sungai di Pulau Padang, Dedap memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengambil air tawar serta menyuruh anak buahnya untuk mengabarkan kepada orang kampung bahwa kapal Dedap sudah berlabuh di muara. “Wahai anak buahku, mengingat persedian air kita sudah mulai mengurang, maka aku perintahkan kapal kita berlabuh di pulau itu. Dan carilah air secukupnya untuk keperluan kita ke depannya” perintah Dedap kepada beberapa anak buahnya.

“Baik Saudagar” kata salah saorang anak buahnya. Kemudian beberapa dari mereka pun segera turun dari kapal dan mencari air tak lupa pula untuk mengabarkan kepulangan Dedap kepada orang kampung. Akhirnya tersilah Kabar kepulangan Dedap di semerata kampung itu, “Dedap sudah pulang…Dedap Sudah kaya raya…Dedap sudah pulang…dengan membawa sebuah kapal besar..hoi orang kampung, Dedap sudah pulang…” pekik salah seorang anak buahnya.

Berita itu pun sampailah ke hadapan orang tuanya, dengan bergegas orang tuanya turun ke laut menuju ke kapal Dedap. Namun sebelum turun, Ibu Dedap masih sempat memasakkan masakan kesukaan anaknya yaitu Pais Kekah Panggang Keluang. Dia berkat di dalam hati “pastilah Dedap sudah rindu dengan masakanku ini” katanya membantin.

Sesampai di laut dan melihat kapal yang begitu megah, air mata ke dua orang tua itu pun menitik tanpa disadarinya. Barangkali sebagai bukti kerinduan bercampur kebahagian menyatu menjadi satu. Dalam hati Ibu Dan Ayah Dedap, sepertinya tidak percaya, Dedap pulang membawa kapal yang demikian besar. Dan di dalam hati mereka berharap bertemu kembali dengan anaknya untuk melepas lara, pelerai duka.

Kedua orang tua itu pun pergi mendekati anak buah Dedap yang berdiri di haluan kapal. “Nak….bolehkah kami menjumpai Dedap?” tanya Ibunda Dedap.

“Siapa Kalian berdua ini ha?” Sergah ABK kapal

Dengan sedikit gementar, Ibunya Dedap menjawab “Kami berdua ini adalah orang tua kandung Dedap” katanya.

“Mana mungkin, orang tua Saudagar kami bentuknya hodoh seperti kalian berdua ini!”

“Betul nak…kami inilah orang tua kandung Dedap. Sudah lama sekali kami menanti kepulangannya. Berilah kami izin untuk bertemu dengan Dedap” pinta Ibu Dedap memelas.

“Tidak…Tidak mungkin. Jangan hendak mengaku-mengaku sembarangan orang tua tak sadar diri. Enyahlah segera dari kapal kami ini sebelum saya halau kalian berdua. Cepat!” anak buah kapal Dedap marah-marah hingga beberapa yang lain juga ikut kemudian ikut marah-marah. Namun kemudian ada salah seorang dari ABK kapal yang tidak setuju atas perlakuan kawan-kawannya yang lain.

Baca juga :  Bawa Sabu dari Dumai, Dua Pemuda "Disikat" di Sepahat

“Tidak baik kita memperlakukan orang tua serupa itu. Lebih baik kita persilakan mereka naik ke kapal kita dahulu, barulah kemudian kita tanyakan maksud kedatangannya. Manalah benar adanya bahwa kedua orang tua ini adalah orang tua kandung Saudagar kita” jelas ABK yang baik hati itu dan dia pun mempersilakan kedua orang tua Dedap untuk naik ke kapal. Tetapi kemudian, justru oleh ABK kapal kehadiran ke dua orang tua Dedap itu menjadi bulan-bulanan dan cemoohan dari ABK-ABK yang lainnya.

Mendengar suasana gaduh di luar itu akhirnya Dedap dan istrinya keluar. Betapa terkejutnya Dedap melihat kedua orang tua yang renta itu. Sungguh tiba-tiba ia diserang rasa malu di hadapan istrinya. Karena ke dua orang tua hodoh yang sedang berada di atas kapalnya itu yak lain adalah orang tuanya.

Melihat Dedap berpakaian bersih dan disampingnya ada pula seorang perempuan cantik jelita, bukan main gembira hati Ibundanya itu. Ia pun segera mendekat dan berkata “Dedap..dedap anakku. Ini ibu dan bapakmu datang, Nak! Syukurlah engkau sudah pulang” katanya ibunya mulai mengiba menahan sedih dan suka.

Mendengar seruan dari orang tua yang renta itu, sambil menahan malu, dedap membentak “Tidak…kau orang tua bukanlah Ibu dan Ayahku. Orang tuaku sudah lama mati”

“Benar Dedap. Aku ini ibundamu dan ini ayahndamu, apakah kau telah lupa nak?” Kata Ibunya berusaha meyakinkan.

Tiba-tiba istri Dedap pun ikut berkata “Hei orang tua tak tahu diuntung. Jangan mentang-mentang Dedap sudah menjadi kaya, kalian orang tua yang entah dari mana asal usulnya mengaku orang tua Dedap. Mana mungkin, Dedap yang kaya raya ini punya orang tua seperti kalian yang miskin, hodoh dan kotor” kata istri Dedap

Ibu Dedap tak mau mengalah, ia terus meyakinkan Dedap bahwa dialah Ibu kandungnya. Dedap…inilah ibumu Nak. Ini ada ibu bawakan makanan kesukaanmu nak, ini pais keluang…makanlah nak!” kata ibundanya sambil menyerahkan seberkas makanan tersebut.

Begitu Ibunya mendekat, Dedap melempar makanan kesukaannya itu dan menolak ibunya. “Pergilah engkau wahai orang tua tak tahu malu. Enyahlah engkau dari hadapanku” Bentak Dedap sambil menolak Ibunya sekuat tenaga.

Ibunya pun terpelanting jatuh seiring dengan makanan pais kekah panggang keluang yang jatuh berserakan di lantai kapal. Lalu ibundanya pun menangis sejadi-jadinya. Ketika kembali hendak mendekat dan berusaha meyakinkan anaknya Dedap bahwa dialah Ibu kandungnya, Ayah Dedap menahan dan menggelengkan kepala.

“Sampai hati engkau Dedap. Begitu engkau sudah kaya, kau lupakan aku yang sudah melahirkan dan membesarkan engkau. Lupa engkau dengan janji yang telah kau ucapkan kepada kami sebelum engkau berlayar dulu” Ibunya dan Ayahnya pun pergi meninggalkan kapal milik Dedap dengan berurai air mata dan hati yang luka.

Setibanya di muara sungai, sang ibu pun menengadahkan tangan, berdoa kepada tuhan atas kedurhakaan anaknya itu.“Wahai tuhan yang maha kuasa, dengarkanlah pengaduan hambamu yang daib ini. Engkau yang mengetahui, aku telah mengandung anakku Dedap selama 9 bulan dengan bersusah payah, Jika sekiranya benar bahwa dia adalah anakku, maka engkau timpakanlah malapetaka yang maha dahsyat kepada anakku Dedap yang mendurhaka. Sesungguhnyalah engkau maha perkasa dan maha adil”

Baru saja selesai doa ibu dedap. Tibalah badai dan tufan disertai kilat dan petir sambung menyambung. Angin yang begitu kencang itu menderu membantai dan menimpa kapal si Dedap. Akhirnya kapal itu pun karam diterjang ombak dan angin yang sangat dahsyat.

Diantara itu pula terdengar teriakan Dedap “Tolooooonggg…ampunkan anakmu ibuuuu..toloonngg ampunkan aku. Benarlah kiranya, engkau adalah ibuku…ampunkan anakmu ini toooloooonng”. Tetapi semua sudah terlambat, angin semakin mengamuk tak kenal ampun. Kapal Dedap beserta muatannya lainnya tenggelam di telan laut.

Setelah selang beberapa lama peristiwa tenggelamnya kapal Dedap, menurut masyarakat setempat muncullah sebuah pulau yang menyerupai kapal si Dedap yang kemudian disebut oleh masyarakat “Pulau Dedap”. (Pulau Dedap berada di Kecamatan Putripuyu, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau)