Sabtu, 5 Agustus, 2017 2:03 am

Hardi Hood: Indonesia Diambang Perpecahan Jika Menonjolkan Perbedaan

RiauKepri.com, BATAM — Anggota MPR RI DR, H. Hardi Selamat Hood M.Si. mengatakan, meski umur kemerdekaan Indonesia sudah hampir mencapai 72 tahun, namun Indonesia dapat saja terpecah-belah jika berbagai komponen bangsa saling menonjolkan perbedaan berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Demikian disampaikan Hardi di hadapan masyarakat dan Pengurus Organisasi masyarakat Garda Nusanatara Sakti (Gatras) Kota Batam beberapa waktu lalu.

“Hari ini saya melihat gejala yang sangat mengkhawatirkan, dimana sebagian dari komponen bangsa yang berbeda agama, suku, ras, agama dan antar golongan atau disingkat SARA, mulai ada yang terjebak dalam sikap saling menonjolkan perbedaan sembari menyalahkan orang yang berbeda dengan mereka,” ujar Hardi yang juga Ketua Komite III DPD RI ini.

Baca juga :  Ini Bukti Kapolda Kepri Serius Tingkatkan Kompetensi Wartawan

Keanekaragaman suku, budaya, ras dan agama yang ada pada diri bangsa Indonesia, kata Hardi jika dikelola dengan baik dapat menjadi keunggulan. Jumlah suku bangsa di Indonesia lebih dari 300 suku bangsa atau kelompok etnik, atau lebih tepatnya mencapai 1.340 suku bangsa atau kelompok etnik.

“Hal ini dapat diartikan jika masing-masing suku bangsa tersebut memiliki tradisi sosial budaya masing-masing, berarti di Indonesia ada dan berkembang bermacam-macam budaya yang memiliki ciri khas masing-masing dan ini adalah kekuatan Indonesia dapat dikatakan suatu keunggulan jika dibandingkan dengan negara lainnya, karena potret kebudayaannya lengkap dan bervariasi,” ujarnya.

Namun, sambung Hardi lagi, jika keberagaman tidak dikelola dengan baik, justru dapat memicu konflik yang berujung pada perpecahan bangsa.

Baca juga :  Tak Patut, Dua Emak-emak di Bengkalis Ini Ditangkap Sedang Nyabu

“Kebhinekaan dapat menjadi tantangan atau ancaman, karena dengan adanya kebhinnekaan tersebut mudah membuat orang menjadi berbeda pendapat yang pada akhirnya dapat lepas kendali, memiliki rasa kedaerahan atau kesukuan yang sewaktu-waktu bisa menjadi ledakan yang akan mengancam integrasi atau persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Hardi.

Bagaimana merawat kemajemukan untuk terciptanya iklim yang aman tanpa konflik? Hardi menjelaskan sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memerlukan konsep utama yang dapat menyatukan segala macam perbedaan yang ada.

“Selama ini unsur pemersatu bangsa Indonesia adalah Pancasila yang sekaligus merupakan titik puncak kebudayaan dan peradaban Indonesia. Pancasila merupakan ideologi yang menjadi dasar hidup bernegara,” pungkasnya. (RK)