Senin, 21 Agustus, 2017 1:50 am

INGATLAH AKAN MATI

Oleh KH Bachtiar Ahmad

Dalam satu riwayat dikisahkan secara diam-diam seorang ulama besar mengadakan perjalanan keliling dengan menumpang sebuah perahu. Akan tetapi bagaimanapun ia menyembunyikan jati dirinya, ada juga di antara penumpang yang lain mengetahui keberadaannya. Dan mereka pun mendatangi ulama tersebut untuk meminta nasihat dan pelajaran. Salah seorang di antara mereka berkata:

“Wahai tuan Syaikh, berilah kami nasihat dan resep yang manjur, agar hati kami menjadi lembut; keimanan dan ketakwaan kami bertambah kepada Allah Ta’ala; yakin dengan segala kebesaran dan kehendak-Nya.”

Sambil memperhatikan muka yang bertanya dan juga yang lainnya, ulama tersebut lalu menjawab pertanyaan itu dengan pesan yang singkat:

“Sebagaimana yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; hendaklah kalian banyak-banyak mengingat mati untuk melembutkan hati dan memperkuat keyakinan diri.”

Lantaran jawaban sang ulama mereka anggap sebagai sesuatu yang biasa saja, maka dengan agak kesal mereka lalu meninggalkan sang ulama tanpa sepatah kata pun.

Baca juga :  Fokus Pembinaan SDM, Rumah Tahfidz di Bintan Timur Segera Diresmikan

Beberapa sa’at setelah mereka meninggalkan ulama tersebut, dengan kehendak Allah secara tiba-tiba datanglah badai yang dahsyat, yang mengombang-ambingkan perahu tumpangan ulama tersebut. Seluruh penumpang dan anak buah kapal berteriak-teriak ketakutan seraya berdo’a menghiba-hiba memohon pertolongan Allah; sementara sang ulama tetap tenang-tenang menghadapi situasi yang demikian itu. Hingga akhirnya badai reda dan keadaan kembali menjadi normal. Dan beberapa penumpang yang tadinya merasa kesal, kembali datang kepada sang ulama dan bertanya:

“Wahai syaikh, apakah Tuan tidak menyadari, bahwa ketika badai datang tadi tak ada yang mampu menghindarkan kita dari sang maut. Dan mengapakah tuan begitu tenang menghadapinya?”

Tanpa menoleh kepada yang bertanya ulama tersebut menjawab:

“Itu karena aku selalu ingat akan mati; bahwa malaikat maut bisa datang kapan saja menjemput kita. Baik di darat maupun di lautan; baik dalam keadaan tenang mau pun dalam keadaan huru hara; baik dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit; baik ketika masih muda maupun sudah lanjut usia. Inilah yang selalu kurenungkan; kapan Allah berkehendak memutuskan aku dengan kelezatan dunia; dan apakah aku sudah siap untuk menghadapinya; apakah bekalku sudah cukup untuk itu. Jadi dengan kondisi-kondisi itulah aku selalu bersabar dan tenang menghadapi apa saja ujian yang diberikan Allah kepadaku. Oleh karenanya janganlah kalian lalai dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disindir Allah dengan Firman-Nya: ““Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (Q.S. Al-Israa’: 67)

Baca juga :  Fokus Pembinaan SDM, Rumah Tahfidz di Bintan Timur Segera Diresmikan

Mendengar penuturan sang ulama, para penumpang tersebut terdiam seribu bahasa. Dan mungkin keadaan mereka sama dengan kita; Bahwa kita baru ingat akan mati ketika dalam keadaan kritis. Wallahua’lam.

(Dinukil dan diedit dari Kisah-Kisah Sufistik)
Bagansiapiapi, 27 Dzulqaidah 1438 H / 20 Agustus 2018