Kamis, 31 Agustus, 2017 4:29 pm

Ini Cara Siak Sejahtrakan Masyarakat di Tengah Sulitnya Perekonomian

RiauKepri.com, PEKANBARU– Dalam upaya mensejahtrakan masyarakat dan akibat melorotnya harga sawit dan karet, Pemerintah Siak melakukan terobosan baru dengan membuat program tanaman kopi dan cacaw alias coklat.

Hal ini dikatakan Bupati Siak, Drs H Syamsuar MSi, kepada wartawan usai menjadi nara sumber pada dialog kebijakan nasional dengan tema, “Penguatan Regulasi dan Penguatan Lapang untuk Mengurangi Kebakaran dan Kabut Asap” Rabu (30/8/2017) di Hotel Arya Duta, Pekanbaru.

Saat ini, kata Syamsuar, di Siak di lahan gambut sudah terlebih dahulu ditanami sawit dan karet oleh masyarakat. Sementara tanaman ini menjadi beban bagi petani sendiri lantaran harganya yang terus merosot.

Jadi, sambung bupati dua priode itu, harus dicari solusinya dalam upaya mensejahtrakan masyarakat. Dan Siak sendiri, ke depannya punya kawasan industri berbasis agro yang berorentasi pada kualiti ekspor.

Program dan terobosan yang akan dilakukan Siak, mengalihkan pola tanam masyarakat ke kopi dan coklat. Sebab, tanaman ini bisa beradaptasi dengan lahan gambut dan kualitasnya lebih baik lagi.

Baca juga :  Tiga Hari AHY ke Aceh, Ini Rangkaian Kegiatannya

Kopi dan coklat, juga perlu pohon pelindung sehingga tidak masalah jika di tanam di kebun sawit dan karet. “Kopi lebrika seperti di Meranti, hidup di lahan gambut dan hasilnya juga berkualitas tinggi,” ucap Syamsuar.

Untuk mewujudkan program ini, Syamsuar membeberkan, di daerah Kecamatan Pusako sudah ada lahan 3.500 haktar milik pemerintah. Lahan kebun sawit ini yang bisa digunakan.

Tak hanya itu, di daerah Kecamatan Sungai Apit, juga ada lahan 10.000 haktar yang HGU ini sudah diserahkan kepada pemerintah namun lahan ini setelah ada pembangunan infrastruktur dan lainnya, hanya berkisar 5.000 atau 6.000 haktar yang bisa dipakai nantinya.

Alih fungsi lahan ini, ucap Syamsuar, tentunya diharapkan dari investor atau dari Pemerintah Pusat. Sebab, dengan APBD Siak saat ini rasanya tak mungkin mengalihkan lahan tersebut hingga menjadi tanaman kopi, nenas dan cacaw.

Pada Dialog terbuka tersebut, tampak hadir CIFOR DR Dede Rohadi, Dewan Riset Nasional DR Bambang Setiadi, Dinas Kehutanan Riau, Dra Yuliwiriawati Moesa MSi, anggota DPRD Bengkalis Azmi Rozali, S. Ip, M. Si, anggota DPRD Riau Ir. Mansyur HS, MM, Kapolda Riau, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara.

Baca juga :  Kenduri Teater Tradisi Ditutup, Latah Tuah Memang Bertuah

Kegiatan ini merupakan kerjasama antar Pusat Studi Bencana LPPM Universitas Riau dengan Center For International Forestry Research (CIFOR).

Diharapkan, dialog tersebut menjadi langkah strategis dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Riau. Sebab, dalam dua tahun terakhir ini Provinsi Riau berhasil keluar dari bencana kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap. Hal ini berhasil atas dukungan semua pihak, dan partisipasi masyakarat Riau yang sangat besar dalam menangani karhutla.

“Acara ini akan membicarakan tiga hal yang akan disikapi bersama diantara nya Regulasi dan Pencegahan Kebakaran, Teladan dan Pembelajaran dari masyarakat dan sektor swasta, serta Aksi Bersama Negara ASEAN” ujar Bambang Setiadi yang mewakili Dewan Riset Nasional. (hidayat)