Senin, 7 Agustus, 2017 12:11 am

Jadi Pemimpin

Ilustrasi (g. net)

“Maafkan aku, Roy. Aku tak mampu menerjemahkan kekuasaan yang diberikan kepada aku. Apa yang aku katakan, sebelum duduk memegang kekuasaan, terlalu sulit untuk aku genggam menjadi kebijakan. Ada banyak kepentingan yang harus aku pertimbangkan, sehingga aku semakin cuai, lalai dan terlena. Rupanya kekuasaan yang aku miliki, berkat bantuan kawan-kawan memaksa aku harus meninggalkan mimpi kita, Roy,” panjang lebar sms dari Tami Kidal masuk ke telepon genggam Atah Roy.

Atah Roy mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tidak paham maksud sms Tami Kidal, kawannya waktu kecil dulu. Memang sewaktu mereka kecil hingga Tami Kidal pindah ke kota melanjut kuliahnya, cita-cita mereka sama; membuat orang bahagia. Maka mereka pun bercita-cita. Atah Roy menjalani cita-citanya menjadi pekerja seni dan sampai sekarang masih dilanjutkan. Sementara Tami Kidal bercita-cita menjadi politikus ulang di negeri ini dan cita-cita Tami Kidal itu sekarang terwujud. Tami Kidal pun menjadi orang yang memiliki kekuasaan.

“Dulu sebelum aku memiliki kekuasaan, keinginan kita waktu di kampung dulu, masih aku pegang kuat, Roy. Namun keadaan memaksa aku harus berubah. Apa yang kita cakap, tidak sama dengan kenyataan yang kita hadapi. Di negeri ini orang-orang yang memiliki kekuasan, banyak berutang budi kepada pemilik modal yang bercocok tanam, yang pada akhirnya pemilik kekuasaan harus mengalah atas kehendak-kehendak pemilik modal tersebut. Kita pun harus membenam dalam-dalam kepentingan rakyat, kepentingan orang banyak. Kalau tidak seperti ini, Roy, kita dihajar dari semua sisi,” sms Tami Kidal kembali masuk ke telepon genggam Atah Roy.

Atah Roy pun menarik nafas panjang seakan merasakan apa yang dirasakan Tami Kidal, kawannya sejak kecil dulu. Atah Roy berpikir panjang membalas sms Tami Kidal. Atah Roy takut kalau sms balasannya menyinggung Tami Kidal. Atah Roy menguatkan hati, lalu menekan huruf-huruf yang ada di telepon genggamnya.

“Maaf aku, Mi, bukan maksud aku mau mengajari engkau. Aku tahu engkau lebih pandai dibandingkan dengan aku, namun kadang kala rakyat kecil seperti aku ini dapat dijadikan rujukan mengembalikan cita-cita masa lalu. Bagi kami rakyat kecil, pemimpin yang baik itu adalah pemimpin memikirkan dan berbuat untuk kepentingan orang banyak,” Atah Roy mengirim smsnya.

Lama Atah Roy menunggu balasan sms dari Tami Kidal, tidak juga telepon genggamnya berdering. Kekhawatiran muncul tiba-tiba di hati Atah Roy; mungkin saja, Tami Kidal marah. Namun Atah Roy menguatkan hatinya untuk mengirim sms kembali.

“Tami, aku pikir engkau harus kembali kepada hati nurani. Dan aku berpikir bahwa orang-orang yang telah menghantarkan engkau menjadi seperti sekarang ini, juga memiliki hati nurani. Engkau bisa sampaikan kepada orang-orang itu, bahwa untuk kepentingan orang banyak jangan diganggu gugat. Aku yakin, orang-orang yang telah menjadikan engkau memiliki kekuasaan, berasal dari rakyat kecil juga dulunya. Berikan mereka pemahaman dan coba berkisahlah tentang masa lalu kita masing-masing, bagaimana susahnya menjadi rakyat kecil dulunya. Engkau ingat bagimana susahnya kita hendak sekolah harus menyeberangi jambatan kayu yang sudah lapuk. Waktu itu dengan suara lantang dan semenhat, engkau berucap, “tunggu aku jadi pemimpin di negeri ini, tidak akan ada lagi jambatan seperti ini!” Teriakan engkau itu, Mi, masih tersimpan di dada aku,” Atah Roy kembali mengirim sms ke Tami Kidal.

Beberapa saat kemudian, telepon genggam Atah Roy berering. Sms dari Tami Kidal masuk. Atah Roy dengan bergegas membaca balasan sms itu.

“Roy, keadaan masa lalu dengan hari ini sangat jauh berbeda. Kekuasaan yang aku dapatkan ini bukan hasil usaha aku sendiri. Banyak orang-orang yang membantu aku menjadi sukses dan mereka bertungkuslumus membantu aku. Selain itu mereka juga memiliki kehendak. Tidak ada yang gratis di zaman ini, Roy. Mereka membantu aku dengan modal dan mereka juga ingin mengembalikan modal mereka yang telah diberikan kepada aku. Apa yang engkau katakan tidak salah, Roy, tapi keadaan sudah lain. Kita dulu bercita-cita dengan keinginan sendiri dan kita menganggap diri kitalah super hebat. Tiada beban untuk bercita-cita, Roy. Namun ini kenyataan. Dulu sebelum menjadi orang yang memiliki kekuasaan memang kita tidak dihadapkan dengan permasalahan kepentingan. Kita tinggal mengucapkannya saja, tapi berbeda setelah kita memiliki kekuasaan, Roy. Untuk mendapatkan kekuasan itu perlu modal yang kuat, dan untuk mendapatkan modal itu kita diikat terlebih dahulu,” tulis Tami Kidal melalui sms kepada Atah Roy.

“Engkau punya kekuasaan, dan engkau bisa menekan mereka,” Atah Roy mulai geram juga dengan Tami Kidal.

“Itulah masalahnya Roy. Rupanya kekuasaan membuat kita lupa dengan masa lalu. Ditambah lagi kita disuguhkan dengan kemewahan yang tidak pernah kita bayangkan sebelum mendapat kekuasaan itu. Semua bawahan kita tunduk kepada kita. Semua orang hormat, dan semua orang menyanjung kita, sehingga kita terbuai dengan sanjungan dan kemewahan itu. Orang-orang yang memberi pinjaman kepada kita, juga memberikan kemewahan. Ada kepentingan timbal-balik yang sama-sama menguntungkan,” sms Tami Kidal.

“Kalau engkau sudah lupe dengan masa lalu, kenape engkau sms aku?” Atah Roy kalau sudah geram, keluar bahasa Melayunya.

“Engkau jangan marah, Roy. Aku cume sekedar ingin menyampaikan, bahwa menjadi pemimpin di dunia nyata, tidak sama dengan cita-cita menjadi pemimpin. Menjadi pemimpin di dunia nyata, banyak godaannya, Roy. Kita dihadapkan dengan kesenangan yang luar bisa, menyebabkan kita lupa. Mimpi kita masa lalu terlalu berat hendak diwujudkan. Tapi entahlah kalau kita memiliki iman yang kuat. Dan aku memang tidak dapat punya iman yang kuat, Roy. Sekali lagi, aku minta maaf Roy. Jangan engkau simpan nomor hp aku ini, sebab dalam beberapa hari ini, aku akan tukar nomor. Mudah-mudahan, aku masih menyimpan nomor engkau, itu pun kalau aku ingat,” tulis Tami Kidal.

Atah Roy kembali menarik nafas panjang dengan geram. Entah apa maksud sms Tami Kidal ini, Atah Roy pun tidak mengerti. Dengan geram, Atah Roy menekan kembali huruf-huruf yang ada di telepon genggamnya.

“Nomor aku juge, jangan engkau simpan, Mi. Due menit lagi aku mau tukar hp dan nomor baru,” tulis Atah Roy geram.