Rabu, 23 Agustus, 2017 1:24 pm

Kabar Terkini Peluang Mahmud dari Kepri Jadi Pahlawan Nasional

Kepri.com, BATAM — Peluang Sultan Mahmud Riayat Syah III dari Kepri untuk dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional tahun ini dinilai semakin lebar. Sebab, ia merupakan satu dari dua nama yang disodorkan kepada Presiden.

 

Satu nama lainnya yang dibawa ke presiden adalah Tuan Guru Kyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Majid atau nama Hamzanwadi. Yang bersangkutan diusulkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

“Mudah-mudahan saja harapan masyarakat Kepri terhadap gelar Pahlawan Nasional untuk Sultan Mahmud dapat terwujud. Mari kita berdoa untuk itu,” ujar tokoh masyarakat Kepri, Datuk H Nyat Kadir, dalam bincang-bincangnya dengan RiauKepri.com belum lama ini.

 

Mantan Walikota Batam yang kini menjabat anggota DPR RI Dapil Kepri dari Partai NasDem itu berperan penting dalam memperjuangkan Sultan Mahmud mendapat gelar Pahlawan Nasional. Seminar tentang Sultan Mahmud di Media Center DPR, misalnya, Nyat Kadir-lah inisiatornya selain tampil sebagai salah seorang narasumber.

 

Nyat Kadir mengaku terus memantau perkembangan terhadap usulan gelar Pahlawan Nasional bagi Sultan Mahmud tersebut. Kabar terakhir diperoleh Nyat Kadir dari sumber layak dipercaya menyebutkan, yang dibawa ke presiden sudah mengerucut tinggal dua nama, Sultan Mahmud dan Hamzanwadi.

 

Sebelumnya santer disebut, tiga nama bersaingan ketat. Selain Sultan Mahmud dan Hamzanwadi, usulan dari Aceh — seorang laksamana perempuan bernama Malahayati — sempat sangat diperhitungkan. Apalagi sampai saat ini Pahlawan Nasional dari kalangan wanita masih terbilang cukup terbatas.

Baca juga :  Syamsuar Berkisah Pesantren Zaman SSK II, Ribuan Santri Terpana

 

Sempat pula berkembang perkiraan bahwa untuk tahun ini, cukup memungkinkan semua nama yang masuk dalam tiga besar dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Tapi entah mengapa, belakangan hanya dua nama saja yang muncul untuk diusulkan ke presiden, tanpa Laksamana Malahayati.

 

Persaingan memang cukup ketat, tetapi nama Sultan Mahmud, kata Nyat Kadir, dikehendaki mayoritas anggota Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). “Yang menghendakinya (Sultan Mahmud jadi Pahlawan Nasional) tertinggi dibandingkan yang lain,” ujar Nyat Kadir.

 

Menurut Nyat Kadir, kesempatan untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional bagi Sultan Mahmud hanya tersisa pada tahun ini. Kalau gagal, nama Sultan Mahmud tak boleh diajukan lagi, karena sudah dua kali. Pengajuan pertama gelar Pahlawan Nasional Sultan Mahmud beberapa tahun lalu.

 

Ketika itu, kelengkapan dokumen pendukung kiprah Sultan Mahmud melawan penjajah dinilai sangat terbatas. Maka kemudian, dilakukan perburuan dokumen pendukung ke berbagai ceruk, termasuk ke Negeri Belanda, yang pernah menguasai bumi Nusantara selama 3,5 abad.

 

Sesungguhnya kiprah Sultan Mahmud melawan penjajah tak perlu diragukan lagi. Di bawah strategi yang ia buat, Belanda pernah menderita kekalahan dengan kerugian cukup besar dalam pertempuran di laut depan Tanjungpinang.

 

Dalam pertempuran itu, tepatnya 6 Januari 1784, sebuah kapal perang milik Belanda bernama Malakka’s Welvaaren berhasil ditenggelamkan dan sekitar 500 serdadu musuh tewas. Ketika itu, Yang Dipertuan Muda Kerajaan Melayu Riau – Lingga – Johor – Pahang adalah Raja Haji Fisabilillah, yang berada di bawah kepemimpinan Mahmud sebagai Sultan.

Baca juga :  Spirit Sultan Mahmud Riayat Syah Diharapkan Menjadi Motivasi Generasi Kepri

 

Pertempuran berlanjut di Teluk Ketapang, Malaka. Raja Haji mangkat, terbunuh oleh senjata musuh. Kendati demikian, Belanda tak mampu menguasai kedudukan kerajaan Melayu dan terus mendapat perlawan, terutama melalui gerilya di luat yang diterapkan Sultan Mahmud.

 

Sebuah dokumen berawal dari catatan Belanda menyebut Sultan Mahmud sebagai penguasa yang cukup berpengaruh. Ia juga dikenal cukup junius, antara lain dapat ditandai dengan ketidakberdayaan Belanda menduduki pusat kerajaan yang ia pimpin.

 

Sultan Mahmud memindahkan pusat kerajaan dari Tanjungpinang ke Lingga. Belanda tak mampu menjangkaunya. Selain lokasinya jauh dan medan yang cukup sulit dilalui, Sultan Mahmud juga memasang pasukan-pasukan di pulau-pulau di sekitarnya.

 

Jika usulan Sultan Mahmud lulus, maka Kepri memiliki tiga Pahlawan Nasional. Dua nama dari Kepri yang sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabillah dan Raja Ali Haji.

 

Untuk seluruh Indonesia, sampai saat ini sudah menetapkan 169 Pahlawan Nasional, 12 di antaranya wanita. Pemberian anugrah biasanya dilakukan bersempena dengan hari Pahlawan setiap tanggal 10 Nopember.

  • Risatnum