Selasa, 29 Agustus, 2017 6:33 am

Kadis PU Pekanbaru Ditahan Polda Riau, Ini Sangkaannya

RiauKepri.com, PEKANBARU — Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kota Pekanbaru, Zulkifli Harun, akhirnya ditahan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau.‎ Sebab, berkas perkara kasus pungutan liar yang melibatkannya dinyatakan sudah lengkap oleh jaksa.

“Benar sudah ditahan, sejak hari Minggu kemarin,” ujar Wakil Direktor Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, AKBP Edi Fariadi, kepada wartawan, Senin (28/8/2017)

Dijelaskan Edi, Zulkifli diduga terlibat dalam dugaan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) Pungutan Liar (Pungli). Awalnya, polisi menangkap 3 orang tenaga honorer di Dinas tersebut. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 3 tersangka itu, ternyata mereka mengaku disuruh Kepala Dinas PUPR untuk melakukan pungli.

Baca juga :  Pengembangan Pelabuhan Supaya Arus Barang Semakin Lancar

“Berkas perkara untuk tersangka ZH dinyatakan sudah lengkap sejak beberapa hari lalu,” ujar Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Riau, Sugeng Riyanta.

Tiga pegawai honorer Dinas PU PR yang ditahan jaksa ke Rutan Sialang Bungkuk, itu diantaranya Martius, Said dan M Hairil. Mereka ditahan setelah berkas perkaranya proses tahap II pada Selasa (8/8/2017) lalu.

Penahanan itu dilakukan setelah penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau menyerahkan berkas dan ketiga tersangka tersebut ke Kejaksaan.

Sugeng mengatakan, ketiganya ditahan terkait dugaan pungli Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) di Dinas PU Kota Pekanbaru. Mereka terkena Operasi Tangkap Tangan yang dilakukan polisi, korbannya merupakan kontraktor.

Baca juga :  Malam Ini, Satu Tersangka Rasuah di Riau Nginap di "Hotel Prodio"

“Berdasarkan perkara ini, mereka disangkakan bersama-sama dengan ZH (Zulkifli Harun) melakukan dugaan pemerasan dalam jabatan pungli dan menerima suap,” ujar Sugeng.

Pebuatan para tersangka dijerat pasal 12 Huruf E, Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemerasan dalam jabatan, Junto pasal 11 sebagai penerima suap karena perbuatan ketiganya melibatkan pejabat pemerintahan.

“Barang bukti dalam kasus ini Rp10,4 juta, itu didapat dari OTT oleh kepolisian,” kata Sugeng. (hidayat)