Jumat, 28 Juli, 2017 3:34 pm

Kembali ke Thoriqoh, Amaliyah yang Sudah Lama Hilang dari Penyengat

RiauKepri.com, TANJUNGPINANG – Siang ba’da sholat Jumat, (28/7) kemarin, suasana masjid Sulthan Riau di Pulau Penyengat berbeda dari jumat-jumat sebelumnya. Siang itu, masjid yang dibangun dimasa Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau Lingga VII, Raja Abdul Rahman itu, kedatangan seorang kiyai, yang membawa ajaran Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) Suryalaya.
Beliau adalah KH Beben Muhammad Dabbas yang merupakan wakil talqin dari guru mursyid TQN Suryalaya, KH Syekh Ahmad Sahibul Wafa Tajul Arifin atau yang lebih populer dengan nama Abah Anom.
Bagi warga Pulau Penyengat, berthoriqoh atau bertasawuf, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Karena, dulu, di Pulau ini, pernah menjadi pusat pengajaran Thoriqoh Naqsabandi. Bahkan Raja Ali Haji adalah satu satu pengamal Thoriqoh Naqsabandi tersebut.
Tapi entah mengapa, amalan thoriqoh ini seperti hilang ditelan bumi alias ditinggalkan. Tidak ada lagi ditemukan orang bersuluk atau mengerjakan amaliyah thoriqoh. Yang pasti, disamping tidak ada guru yang membimbing, minat jamaah untuk belajar tasawuf pun kurang di pulau yang pernah menjadi mas kawin Engku Putri Raja Hamidah ini.
Kehadiran KH. Beben Muhammad Dabbas jumat kemarin, seperti menjadi pelepas rindu bagi jamaah masjid Sulthan Riau Pulau Penyengat. Karena, apa yang disampaikan sang kiyai, merupakan ilmu yang pernah berkembang cukup lama di pulau ini.
Sebagai sebuah amalan thoriqoh, ujaran-ujaran yang disampai Kiyai Beben, disimak khusuk oleh jamaah. Saat itu, sang kiyai mengajarkan talqin zikir kepada para jamaah yang hadir.
“Talqin zikir ini merupakan tahap awal berthoriqoh dalam TQN Suryalaya, dan itu hanya bisa dilakukan oleh wakil talqin yang sudah mendapat ijazah untuk mentalqin dari pangersa Abah Anom,” ujar Ust. H. Asep Rabbani yang mengikuti kiyai tersebut ke Penyengat.
Kiyai Beben menjelaskan, talqin zikir ini merupakan upaya seorang hamba untuk selalu tersambung kepada Sang Pencipta. Sebuah upaya menghidupkan qalbu untuk selalu ingat kepada Allah SWT.
Dalam TQN Suryalaya, seperti disampaikan Kiyai Beben, ada dua jalan yang bisa ditempuh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pertama dengan cara zikir jahar, yakni zikir dengan menggunakan suara. Zikir yang diucapkan adalah kalimat la ilaha illa Allah. Tiada Tuhan Selain Allah. Zikir ini diucapkan dengan suara keras.
Yang kedua, yakni dengan zikir khofi atau disebut juga dengan zikir qalbu. Tidak ada suara. Kalimat yang diingat didalam qalbu adalah ismu dzat. Dan ini zikir yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Inilah yang membuat qalbu selalu tersambung kepada Allah.
Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Tengku Said Arif Fadilah yang juga ikut dalam talqin zikir dalam bimbingan wakil talqin TQN Suryalaya itu, terlihat khusuk mengikuti petunjuk yang disampaikan sang kiyai.
Seperti diketahui, Raja Ali Haji dalam Gurindam Duabelas menyebut: Barang siapa mengenal yang empat / Maka itulah orang yang makrifat. “Ungkapan Raja Ali Haji Ini menunjukkan bahwa ajaran tasawuf menjadi ilmu yang penting di tanah Melayu ini,” ujar KH Beben sebelum
membimbing jamaah dalam amaliyah TQN Suryalaya.
Ajaran thoriqoh yang disampaikan Kiyai Beben di Masjid Sulthan Riau Pulau Penyengat ini, seperti mengembalikan kembali ajaran yang dulu pernah berkembang di pulau ini.
Usai membimbing talqin zikir, Raja Abdulrahman, pengurus masjid Sulthan Riau mengajak  KH Beben Muhammad Dabbas melihat buku-buku peninggalan yang ada di perpustakaan masjid Sulthan Riau tersebut. Usai melihat koleksi buku-buku itu, Kiyai Beben berserta rombongan melaksanakan ziarah ke makam Raja Haji Fisabilillah. (AR)
BERITA TERKAIT
Baca juga :  Fraksi-Fraksi DPRD Sampaikan Pandangan Umum