Rabu, 6 September, 2017 8:59 pm

Ketika Pelawak Baca Puisi, Ini yang Terjadi

RiauKepri.com, PEKANBARU – Karya seni, dalam hal ini karya sastra, diciptakan sebagai penyeimbang dalam menjalani kehidupan ini. Selain menyampaikan pesan-pesan, karya seni juga dapat dijadikan hiburan.

Nilai keindahan yang hadir dari karya seni itu berdasarkan latar belakang sang seniman. Apabila seniman seorang aktivis buruh, maka akan muncul karya-karya yang menyuarakan keadaan buruh, seperti penyair Wiji Thukul. Begitu juga kalau penyair atau senimannya seorang aktif di bidang agama, maka akan muncul pula karya-karya yang kental nuansa religius. Tapi bagaimana kalau penulis puisi itu seorang pelawak? Tentulah karya yang dihasilkannya mampu membuat orang tertawa terbekah-bekah.

Suasana tawa inilah yang muncul ketika seorang pelawak senior Riau, Fakhri Semekot, membacakan puisinya berjudul “Angin Puting Beliung” di perhelatan Pembukaan Lomba Baca Puisi Tingkat Remaja Se-Riau yang ditaja Dinas Kebudayaan, Selasa (6/9/2017) bertempat di Taman Budaya Riau. Fakhri Semekot dengan kemahirannya mengolah kata-kata dan mampu pula mengakhiri puisinya dengan satu kata yang membuat tawa penonton pecah di Taman Budaya Riau pada malam itu.

Baca juga :  Akhirnya, PT RAPP Janji Patuhi Perintah Menteri

Dengan suara lantang dan serius Fakhri Semekot melepaskan kata-kata. “Semuanya hilang. Bangunan hilang, karena angin. Pohon hilang karena angin. Sekolah hilang karena angin. Rumah hilang karena angin. Semuanya hilang karena angin puting beliung. Kini yang tertinggal cuma puting,” ucap Fakhri membacakan puisi dengan penuh hikmat, layaknya seorang penyair yang betul-betul menjiwai puisi yang dibacakannya.

Suasana komedi selalu muncul dari kotradiktif dan Fakhri melakukan itu. Dengan pembacaan puisi yang serius; intonasi, artikulasi diucapkan dengan tepat dan penjiwaan yang dalam, pada awalnya tak nampak puisi Fakhri akan berakhir lucu. Semua penonton terbawa suasana mencekam, namun pada akhirnya frase “hanya tinggal puting” diucapkan datar oleh Fakhri, membangun imajinasi lain di pikiran penonton dan tawa pun pecah.

Baca juga :  Waw, ke Belgia dan Hongkong 2 Atlik Siak Bawa Nama Indonesia

Memang tidak heran, sebagai seorang pelawak senior, Fakhri mampu membuat orang tertawa dengan materi lawakannya yang biasa. Tapi siapa sangka, pelawak yang tinggi Semeter Kotor (Semekot) ini, mampu pula menciptakan puisi lucu. Dari latar belakang pendidikannya, pastilah orang tidak akan terkejut ketika Fakhri mampu menciptakan puisi, sebab Fakhri Semekot merupakan lulusan Jurusan Sastra Indonesia, FIB Universitas Lancang Kuning, angkatan pertama.

“Jangan macam-macam, saya ini alumni Sastra Indonesia FIB Unilak. Saya ni senior,” ucap Fakhri disambut gelak tawa setelah selesai membacakan puisinya.

Inilah karya seni, khususnya karya sastra, ianya akan melahirkan suasana yang berbeda-beda, sesuai dengan latar belakang penciptanya. Fakhri Semekot membuktikan hal itu. (kafrawi)