Senin, 17 Juli, 2017 12:00 am

Malam Ini Rida K Liamsi Luncurkan "Mahmud Sang Pembangkang"

RiauKepri.com, TANJUNGPINANG — Malam ini, Senin (17/7/2017) pukul 19.30 WIB, Rida K Liamsi meluncurkan buku sejarah terbaru karyanya yang berjudul “Mahmud Sang Pembangkang”. Peluncuran dilakukan tepat saat Rida berulangtahun ke 74 di Gedung Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, Tanjungpinang, Ibukota Provinsi Kepri.
Peluncuran ditaja oleh Yayasan Jembia Emas, sebuah yayasan yang mendedikasikan diri pada perkembangan kebudayaan. Buku ini oleh Rida, dipersembahkan untuk istri tercinta, Asmini Syukur. “Dalam sakitnya begitu sabar memberi ruang bagiku untuk tetap menulis,” demikian tulis Rida dalam lembar awal buku tersebut.
Rida K Liamsi lahir di Bakong, Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri 17 Juli 1943. Buku ini merupakan buku kedua Rida tentang sejarah. Sebelumnya, ia menulis buku berjudul Prasasti Bukit Siguntang, Badai Politik di Kemaharajan Melayu 1160-1946 dan terbit tahun 2016 lalu. Selain itu, dia banyak menerbitkan buku puisi dan juga telah menulis dua novel sejarah, Bulang Cahaya dan Megat.
M Natsir Tahar yang menulis kata pengantar pada buku ini mencatat, Mahmud dalam buku ini – juga seorang one man show – yang hidup antara tahun 1823 dan 1864 berada dalam spektrum sejarah di mana hampir semua peristiwa besar dalam kemaharajaan Melayu telah terjadi dan dia adalah bagian yang menanggung semua konsekuensi logisnya.
Runtuhnya Dinasti Sang Sapurba dan dimulainya Dinasti Abdul Jalil Riayatsyah membawa efek domino yakni bergabungnya bangsawan Bugis dalam sistem pemerintahan kerajaan atas balas jasa karena bersedia membantu menggagalkan serangan balasan dari Raja Kecik (Sultan Abdul Jalil Syah dari Siak Sri Inderapura yang dibesarkan di Pagaruyung) sebagai zuriat Sultan Mahmudsyah II yang ditikam Megat Sri Rama.
Peristiwa penting lainnya adalah Perang Riau (1782 – 1784), bangkrutnya VOC 31 Desember 1799 dan dimulainya kolonialisasi penuh Belanda, kemudian Traktat London (1824) yang membelah Kesultanan Melayu – di satu sisi tidak menguntungkan bagi Riau Lingga karena “didikan” Inggris yang cenderung kapitalisme (membangun) atas wilayah Singapura dan Tanah Semenanjung jauh lebih progresif ketimbang di bawah jajahan Belanda yang condong merkantilisme (menghisap negara jajahan)..
Dalam sejarah Kesultanan Riau Lingga Johor dan Pahang, nama Sultan Mahmud ada empat orang. Sultan Mahmud Riayat Syah (Sultan Mahmud Syah III) yang paling tersohor. Membangun Pulau Penyengat dan memindahkan pusat kerajaan ke Daik Lingga. Siapakah Mahmud Sang Pembangkang? Namanya Sultan Mahmud Muzzafar Syah atau dikenal dengan nama Sultan Mahmud IV. Ia cicit Sultan Mahmud Syah III.
Sejarah juga menyebutkan, Sultan Mahmud IV terkenal pembangkang terhadap penjajah Belanda, hingga akhirnya ia dimakzulkan. Cicit dari Sultan Mahmud Riayat Syah atau Mahmud III ini kemudian meninggalkan Daik Lingga dan wafat di Pahang yang dikenal dengan nama Marhum Pahang. Di Daik, ia membangun Istana Kota Batu yang kini tinggal puing-puing.
Istana ini adalah simbol perlawanan Sultan Mahmud IV. Dengan istana ini ia ingin menunjukkan inilah Sultan Melayu yang bisa juga hidup modren dan maju seperti orang-orang Eropa. Kisah pembangunan Istana Kota Batu sang Sultan tercatat dalam Syair Sultan Mahmud, dan sekumpulan syair yang berisi ribuan bait mengisahkan perjalanan kepemimpinannya. Membangun Istana yang juga menjadi tempat berlangsungnya pernikahan, antara adindanya Tengku Embung Fatimah dengan Yang Dipertuan Muda (YDM) ke X, Raja Muhammad Yusuf.
Buku Mahmud Sang Pembangkang editornya Rendra Setyadiharja dan kata pengantarnya oleh Muhammad Natsir Tahar. Penerbitnya, Sagang Intermedia Pers. Pada peluncuran, buku dibedah Akademisi Abdul Malik (Umrah), Sejarawan M Amin Yacob, Kadis Kebudayaan Lingga, Ishak dan Zamzami A Karim (Stisipol).(RK)