Sabtu, 19 Agustus, 2017 4:19 am

Membangun Imajinasi Lewat Bambu, Semangat Menuntut Ilmu

RiauKepri.com, PEKANBARU – Lima pemuda dari kampung yang sama, bergegas menuju sungai. Suasana riuh dari mulut mereka pun bercampur baur dengan langkah kaki. Sampai di sungai, mereka kembali harus berjuang menuju sekolah yang terletak di kampung sebelah, dengan menggunakan rakit. Rintangan lesap dari wajah mereka, cuma semangat membara untuk menimba ilmu yang terpancar.

Setelah sungai diarungi, mereka pun bergegas menuju sekolah. Pintu pagar tutup, mereka pun kesal dan saling menyalahkan, tersebab terlambat datang ke sekolah. Namun rasa kesal dan saling menyalahkan berubah menjadi tawa yang lebar, setelah seorang dari mereka mengatakan bahwa hari masih terlalu pagi dan sekolah belum dibuka.

Inilah gambaran awal pergelaran teater yang dipersembahkan oleh Teater Kedjik SMA Negeri 7 Pekanbaru bersempena Milad ke-60 Provinsi Riau yang ditaja Teater Matan di Kelurahan Agrowisata (Palas), Kecamatan Rumbai, Sabtu (11/7/2017) yang lalu. Pergelaran teater berjudul ‘Pagar Pagi’ naskah dan sutradara ditukangi seniman muda Riau, M. Rhiki Pranata ini, mencuri perhatian para penonton yang hadir pada malam perhelatan tersebut.

Salah satu adegan pergelaran teater “Pagar Pagi” karya M. Rhiki Pranata

Rhiki menyuguhkan pergelaran teater yang berbeda di benak masyarakat, yang terbiasa menyaksikan sinetron, teater atau drama realis, namun kali ini tidak. Pergelaran berdurasi 30 menit ini, mengajak penonton, yang notabene masyarakat awam dengan pergelaran teater, menjulam imajinasi untuk membayangkan sungai, rakit, pagar, dan sekolah. Dengan memegang dua bambu, tinggi 2,5 meter, di kedua tangan para aktor, Rhiki membangun ruang, suasana dan waktu. Kedua bambu yang dipegang oleh para aktor, seperti menjadi tongkat pesulap menciptakan gambaran di benak penonton bahwa mereka seolah-olah menyaksikan peristiwa di kampung, sungai, sekolah, dan suasana hati kelima aktor yang sedang berperan menjadi pelajar.

“Pagar Pagi” yang mengisahkan semangat lima generasi muda kampung untuk menuntut ilmu ini, diolah Rhiki dengan kekuatan ekspresi para aktor dengan memainkan bambu di kedua tangan mereka. Untuk melambangkan bagaimana bergegasnya kelima pemuda itu berada di jalan kampung menuju sungai, para aktor dengan bambu berdiri tegak, melakukan langkah kecil tapi cepat dengan diringi hentakan bambu. Hentakan bambu menjadi musik ilustrai keriuhan pula. Begitu juga ketika para aktor berada di sungai, bambu dijadikan rakit dan pendayung, seolah-olah mereka memang berada di sungai. Kekuatan gerak para aktor juga menjadi hal penting dan Rhiki tidak melupakan hal ini. Gerak para aktor dan diimbangi dengan permainan bambu menciptakan suasana, tempat di benak para penonton.

Baca juga :  “Pesta” Bangsawan dan Kegamangan Seni Pertunjukan di Riau  

Kekuatan megeksplorasi bambu dan ekspresi aktor menjadi kekuatan dalam pergelaran ini juga terlihat ketika kelima aktor melakukan perjalanan dari sungai ke sekolah. Bambu dan ekspresi aktor digunakan untuk menggambarkan buruknya jalan menuju sekolah. Berkali-kali mereka harus melangkah lubang besar di jalan tersebut. Adegan ini menyentil masih banyak jalan yang rusak parah di kampung-kampung di negeri ini.

Tidak sampai di situ, kekuatan bambu dan ekspresi terus terlihat ketika kelima pelajar itu sampai di pagar sekolah. Bambu di tangan kiri dan kanan para aktor disulap pula menjadi pagar. Kelima pelajar itu jongkok seolah-olah sedang memegang pagar sekolah dengan wajah lelah, kesal dan putus asa tersebab terlambat ke sekolah. Menyadari bahwa terlalu pagi datang ke sekolah dan tidak terlambat, kembali mereka beraksi riang dengan menggunakan bambu sebagai alat musik yang mengeluarkan bunyi-bunyian mengambarkan keriangan.

Pertunjukan belum selesai, permasalahan kembali muncul. Bambu yang tadi sebagai lambang rakit, langkah kaki, pagar, dan kini diubah menjadi tiang dan atap sekolah. Ketika sedang asik belajar, hujan deras turun. Ekspresi para aktor pun berubah menjadi khawatir, disebabkan atap sekolah mereka bocor. Belajar yang seharusnya khidmat menjadi galau yang tidak berkesudahan, kecuali hujan berhenti.

Baca juga :  Komisi IV Minta Lakukan Pendataan Masyarakat Miskin Berkala

Peristiwa semangat dengan berbagai permasalahan dalam menutut ilmu generasi muda kampung inilah yang dibuhul M. Rhiki Pranata menjadi pergelaran teater berjudul “Pagar Pagi”. Selain penyajian yang penuh dengan sulaman imajinasi melambangkan peristiwa, ruang, tempat dan waktu, pergelaran ini juga menyampaikan pesan bahwa masih banyak di kampung pembangunan untuk pendidikan terabaikan.

Judul ‘Pagar Pagi” menyiratkan bahwa generasi muda sebagai harapan bangsa di masa akan datang, terutama generasi muda di kampung, memerlukan fasilitas yang layak dalam menuntut ilmu. Pembangunan merata di segala bidang, baik itu jalan maupun pembangunan untuk sekolah. Memang Rhiki tidak menyebutkan di mana peristiwa ini terjadi, namun demikian, peristiwa seperti ini tentulah masih ada di Bumi Lancang Kuning ini. Bagaimanapun bentuk karya seni, baik itu realis maupun non realis, merupakan cerminan dan berangkat dari peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat di mana karya seni itu dihasilkan.

Di panggung sederhana milik sekolah yang dibina Yayasan Nurul Hidayah ini, selama 30 menit, melalui ‘bangunan’ imajinasi, disulap menjadi peristiwa di kampung yang selalu terlupakan dalam pembangunan di negeri ini. Dalam pergelaran ini, Rhiki tidak mendekor panggung menyerupai kampung, sungai dan sekolah, tetapi lewat bambu, ekspresi dan dialog para aktor, Rhiki menghadirkan kampung dengan berbagai permasalahannya. Inilah kekuatan pergelaran ini, imajinasi penontonlah yang ‘dipompa’ untuk menangkap segala yang terjadi di atas panggung tersebut.

Inilah fungsi seni, terlepas dari hiburan, karya seni yang dihasilkan adalah upaya para seniman mengabarkan sesutau peristiwa kepada khalayak banyak. Peristiwa yang dikabarkan oleh seniman menjadi kekuatan bagi seluruhnya untuk mengintropeksi diri dan sekalgus menjadi bahan perubahan untuk negeri ini lebih baik lagi. (KR2)