Senin, 21 Agustus, 2017 1:20 am

Menggali Filosofi Permainan Gasing Untuk Generasi Muda

RiauKepri.com, PEKANBARU – Belum diketahui secara pasti, kapan awal permainan gasing di masyarakat Melayu dimulai. Namun demikian, permainan gasing diyakini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Belum ada catatan pasti juga terkait filosofi permainan gasing ini. Setakat ini, permainan gasing hanya menjadi hiburan bagi masyarakat Melayu untuk mengisi waktu luang saja.

Ditelisik dari permainan yang dimainkan oleh kaum ‘Adam’ ini, selain sebagai hiburan, permainan gasing juga dapat disimpulkan merupakan wadah silaturahim di antara masyarakat. Pada perhelatan permainan gasing, masyarakat baik itu muda maupun tua, menyaksikan permianan yang digelar di tengah halaman luas (tak berumput). Tidak itu saja, bagi pemain, sportivitas selalu dijunjung tinggi. Kalah dan menang bukanlah tujuan utama, yang paling penting kebahagiaan muncul di sela-sela permainan ini, baik bagi pemain maupun penonton.

Dari segi peraturan permainan gasing, secara tidak langsung permainan yang biasanya dimainkan berkelompok ini, mengajarkan kekompakan. Strategi untuk tampil sebagai yang terbaik pun dilaksanakan secara kompak. Satu kelompok menggusung satu orang yang memimpin kelompok tersebut. Pemilihan ketua kelompok dilakukan dengan cara ditunjuk langsung dengan menimbang kemampuan orang yang dipilih. Biasanya ketua dipilih memiliki kemampuan memangkah yang hebat.

Baca juga :  Elpiji 3 Kg Langka, Ini Solusi Pemkab Siak dan Pertamina

Permainan rakyat, seperti permianan gasing ini, selain sebagai hiburan, dapat juga dilihat secara filosofi dalam kehidupan. Ketika gasing dilinyak atau diputar, putaran gasing melambangkan kesimbangan dengan kepiawaian pemain. Tentu saja, tali yang dililitkan pada ‘leher’ gasing, menjadi penentu linyak (berputar) gasing tersebut. Sendai melilitkan tali tidak baik, maka gasing pun tidak akan berputar secara semestinya, bahkan ada tidak berputar sama sekali. Hal ini melambangkan bahwa untuk melakukan sesuatu diperlukan ilmu dan kesiapan yang sempurna.

Selain itu, permainan gasing ini memerlukan konsentrasi yang tinggi, baik itu dalam bertahan, maupun menjadi pemangkah. Memutar dan memangkah gasing juga memerlukan insting yang baik, sehingga pemenang bisa bertahan, dan yang bertahan ingin menang. Adu strategi merupakan permainan yang selalu muncul dalam permainan gasing ini dengan menjunjung sportivitas agar permainan tidak tercemar kecurangan dan penonton terpuaskan.

Untuk menjaga dan melestarikan permainan gasing ini, berbagai kalangan masyarakat menaja perlombaan gasing. Di Telukbelitung, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, pada hari Ahad (20/8/2017), Syafruddin, salah seorang tokoh masyarakat menaja perlombaan gasing. Perlombaan ini diperuntukkan bagi pelajar dari SD, SMP dan SMA. Sebanyak 30 kelompok mengikuti perlombaan ini.

Baca juga :  Bedelau, Pelayanan Perizinan Siak Kembali Terbaik Nasional
Gasing dan filosofi hidup (g. net)

“Masyarakat sangat antusias menyaksikan perlombaan ini, dan kami berharap perlombaan seperti ini harus sering dilaksanakan. Selain sebagai hiburan bagi masyarakat, perlombaan ini juga upaya menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam permainan gasing,” ujar Nas, salah seorang pemuda Telukbelitung kepada RiauKepri.com melalui telepon genggamnya, Ahad (20/8/2017).

Dari catatan RiauKepri.com, perlombaan gasing bukan saja dilaksanakan di kampung-kampung. Beberapa yang lalu, tepatnya awal bulan Juni, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, menaja perlombaan gasing yang diikuti oleh masyarakat Pekanbaru dan sekitarnya. Begitu juga Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, pada Milad ke-60 Provinsi Riau menaja berbagai permainan rakyat, termasuk permainan gasing yang diikuti oleh kabupaten/kota se-Riau.

Di tengah hiruk pikuk permainan dari kecanggihan teknologi yang melanda generasi muda di negeri ini, memang diperlukan permainan rakyat terus dipegelarkan. Hal ini menjadi penting disebabkan permainan dari kecangihan teknologi menyebabkan generasi muda asik dengan diri sendiri, sementara permainan rakyat, seperti permainan gasing, menuntut kerja tim dengan bertatapan langsung. (KR2)