Senin, 24 Juli, 2017 10:01 am

Merananya Nelayan Natuna, Tahanan Vietnam Berkeliaran Bisa Mengundang Petaka

RiauKepri.com, Natuna-Dua kali pompong nelayan di Natuna hilang, diduga dicuri Warga Negara Asing (WNA) asal Vietnam yang melarikan diri. Kasus ini menjadi kusut masai, di satu sisi nelayan asal Vietnan tak tertampung karena sudah terlalu ramai sehingga mereka bebas berliaran padahal mereka terlibat kasus pidana. Di sisi lain, warga setempat resah. Pasalnya, tak hanya peralatan nelayan yang hilang, kebun wargapun sudah mulai dirambah. Ini bisa mengundang petaka.

WNA Vietnan ini bebas beraktifitas, dan setiap mereka berbondong-bondong berjalan kaki ke pasar belanja bahan makanan. Kadang, tampak berjalan seputar Kota Ranai menjajakan kerajinan tangan berupa sapu, ornamen miniatur kapal dan ayunan tali. Ada juga WNA yang mencari sayur liar dan mengambil sayuran milik warga tanpa izin.

Leluasanya mereka ini dimanfaatkan 4 orang WNA untuk melarikan diri dengan mencuri pompong milik nelayan, pekan lalu. Pompong yang hilang milik Usman ( 40 tahu), Ketua Kelompok Nelayan Batuhitam. ”Pompongnya 3 GT Usman tu baru service, alatnya lengkap, ada GPS, radar karang, mesin bagus, alat pancing mahal, kabarnya kawan tu abis seratus juta lebih, tegap pompongnya bang,” kata Sukron, rekan nelayan menjawab pewarta, Senin (24/07/2017).

Usman sudah membuat laporan kehilangan tetapi masih bingung, dan jelas tak tau kemana mau mencari modal untuk membuat pompong lagi. Sementara, Efrianto selaku Kajari Ranai di Natuna menjelaskan, peristiwa terdakwa warga Vietnam kasus ilegal fishing melarikan diri hanya bisa meminta maaf kepada Danlanal Natuna dan masyarakat Kabupaten Natuna.
“Kepada Danlanal Natuna, saya meminta maaf atas terdakwa yang melarikan diri dan masyarakat Natuna yang kehilangan pompong dengan dugaan dilarikan para Vietnam,”  jelas Efrianto di acara peringatan Hari Bakti korps Kejaksaan, Sabtu (22/07/2017).

Baca juga :  Nyat Kadir Pulang Kampung “Dilambai” Kesedihan

Akibat dua kali peristiwa pencurian pompong milik nelatan Natuna, membuat nelayan resah, sempat beberapa nelayan berencana menggelar aksi demo menyikapi peristiwa ini, tetapi dibatalkan tanpa kabar. “Kami resah bang, kemana kami harus mengadu jika pompong hilang dicuri, sebenarnya siapa yang harus bertangungjawab, mengganti kerugian kami nelayan ini?,” tanya Jong, nelayan Batuhitam lainnya.

Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti, mulai menyoroti masalah kaburnya WNA terdakwa Ilegal Fishing.
”Tadi kita dengar, kata Pak Kajari persoalan tahanan Illegal Fishing ini memang menjadi persoalan serius dan harus segera dicari solusi penyelesaiannya secara bersama-sama, agar masalah ini tidak terulang yang berdampak pada kehidupan sosial masyarakat,” kata Ngesti.

Sebagai pimpinan daerah, Ngesti mengaku dirinya mendapat laporan masyarakat terkait keberadaan para tahanan Illegal Fishing yang mulai meresahkan. “Saat ini masyarakat sudah merasa was-was karena sudah dua kali kejadian pompong milik nelayan dibawa kabur oleh tahanan Veitnam untuk melarikan diri. Selain itu, ada juga laporan bahwa para terdakwa Illegal Fishing ini sudah mulai berani mengambil hasil kebun masyarakat seperti nenas, mangga dan lain-lain,” ungkap Ngesti.

Baca juga :  Jadikan Prestasi Sebagai Motivasi untuk Melayani Lebih Baik

Membeludaknya para tahanan Illegal Fishing Kejari Ranai di Natuna, ucap Ngesti, memang perlu perhatian bersama.
Pemda Natuna akan berupaya menyampaikan persoalan ini kepada Pemerintah Pusat melalui instansi terkait. Agar permasalahan para tahanan Illegal Fishing ini bisa tertangani dengan baik.

”Kondisinya saat ini sangat tidak nyaman, para tahanan sudah terlalu ramai tidak ada tempat lagi di Kejaksaan. Mereka sudah tidur di area perkantoran. Kondisi ini harus segera dicari solusi penyelesaiannya. Para nelayan Veitnam ini harus punya tempat penampungan khusus yang lebih kondusif tidak berkeliaran,” ujar Ngesti.

Menurut Ngesti, keberadaan para nelayan Vietnam yang berkeliaran juga tidak bagus untuk lingkungan masyarakat.
”Kita khawatir terjadi hal-hal yang tidak baik nantinya, jika persoalan ini terus dibiarkan tidak ada solusi penyelesaian. Sebab, setiap bulan hampir ada para nelayan Vietnam yang ditangkap karena mencuri ikan di wilayah kita,” kata Ngesti. (red)