Kamis, 24 Agustus, 2017 4:21 am

Penari Massal Pacu Jalur Ngamuk, Bakar Atribut di Tengah Lapangan

RiauKepri.com, TELUKKUANTAN – Pacu Jalur yang sudah berlangsung beratus tahun dan sudah menjadi perhelatan pariwisata di Riau ini, harus menerima kenyataan mengamuknya para penari massal pendukung acara pembukaan Pacu Jalur 2017, yang dilaksanakan di Lapangan Limuno Teluk Kuantan, Rabu (23/8/2017).

 

Dikutip dari kuansingterkini.com, mengamuknya para penari massal ini disebabkan honor yang diterima tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Menurut Aden dan Agung yang ikut menari massal tersebut, semula mereka dijanjikan akan diberi honor Rp400.000, namun yang diterima hanya Rp200.000.

 

Tidak terima kenyataan ini, para penari massal pun mengamuk dan membawa atribut menari ke tengah lapangan dan membakarnya. Selain membakar, para penari massal juga melempiaskan kekesalan mereka dengan merusak kursi yang berada di pondopo di Lapangan Limuno tersebut.

Baca juga :  Tiba di Bandara Bufon Menangis Disambut Bak Seorang Raja

 

Personil Polisi, TNI dan Satpol PP yang ada saat itu berada di tempat langsung bereaksi menenangkan para penari massal. Kericuhan tidak meluas karena Pemkab berjanji mencari solusi atas tuntutan penari. “Aksi behenti karena Pemkab, katanya akan bersedia menanggulangi kekurangan,” ujar Aden dan Agung.

 

Selain mengamuk di Lapangan Limuno, para penari juga mendatangi Sekretariat Panitia Pelaksana Pacu Jalur yang tidak berapa juah dari lapangan Limuno. Di sekretariat Panpel Pacu Jalur 2017 ini, penari sudah mampu menahan emosi, sehingga tidak terjadi kericuhan.

 

Walaupun terjadi kericuhan usai acara pembukaan ini, namun penampilan tari massal Pacu Jalur Menyapa Dunia berjalan sukses dan sangat menghibur undangan dan mayarakat yang hadir saat itu.

Baca juga :  PAN Serahkan Rekomundasi Dukungan Cagubri, Kekurangan Kursi Cari Sendiri

 

“Alhamdulillah tari massal berjalan sukses. Terimakasih kepada adik-adik yang telah disiplin, penuh etika, dan rajin selama latihan. Hasilnya luar biasa melihat waktu yang pendek tapi mereka tampil dengan luar biasa,” ujar penata tari Epi Martison.

 

Mengenai masalah honor, Epi Martison menjelaskan bahwa bukan kewenangan dirinya. Dirinya ditugasi merancang dan mempersiapkan tari untuk ditampilkan pada acara pembukaan.

 

“Kalau masalah honor, saya pun belum terima. Tapi bukan kapasitas saya menjawab masalah honor ini,” jelas panata tari nasional asal Kuansing ini. (*)