Kamis, 24 Agustus, 2017 9:20 pm

Penista Agama di Riau Dituntut 4 Tahun, Takbir dan Syukur Menggema

RiauKepri.com, PEKANBARU–Ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut empat tahun penjara kepada terdakwa Sonni Suasono Panggabean, seorang mahasiswa di salah satu universitas di Riau, empat tahun penjara pengunjung berteriak takbir dan bersyukur. Sementara itu, Sonni hanya tampak tertunduk lesu.

Tuntutan terhadap mahasiswa fakultas hukum itu dibacakan Jaksa Penuntut Umum, Syafril di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru.

“Menuntut terdakwa Sonni dengan penjara selama empat tahun,” ujar Syafril di hadapan Majelis Hakim PN Pekanbaru yang diketuai Abdul Aziz, Kamis (24/8/2017).

JPU menjerat Sonni dengan Pasal 45 A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) Undang-undang (UU) RI  Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dalam amar tuntutannya, JPU menyatakan hal yang memberatkan hukuman terdakwa karena perbuatannya merusak kerukunan ummat beragama. Hal meringankan, terdakwa sudah meminta maaf kepada umaat Islam.

Atas tuntutan itu, Sonni yang mengenakan rompi tahanan warna merah hanya tertunduk. Sementara pengujung sidang mengucapkan takbir dan syukur.

Baca juga :  JMGR Sebut PT RAPP Mirip Preman, Besok Dipanggil Menteri KLH

Tuntutan itu membuat keluarga terdakwa sedih. Ibu dan saudara terdakwa yang selalu mendampingi anaknya selama persidangan tak kuasa menahan tetes air mata. “Kami mengajukan pembelaan (pledoi) yang mulia,” kata penasehat hukum terdakwa, Sangur.

Majelis Hakim mengagendakan pembacaan pembelaan pada Jumat (25/8/2017) pagi. Sidang akan dilanjutkan dengan pembacaan vonis karena masa hukuman terdakwa segera habis.

Sebelum sidang pembacaan tuntutan, terdakwa Sonni menyampaikan permintaan maaf kepada ummat Islam atas perbuatannya. Permohonan itu disampaikannya menggunakan pengeras suara.

Terdakwa mengaku tidak ada niat untuk mengina atau melecehkan umat Islam. Ia mengaku terpancing postingan akun pangeranmuda54 di instagram yang tidak dikenalnya, baik asal usul maupun agamanya.

Kekesalannya berlanjut ke direct massanger (DM) hingga akhirnya terdakwa mengirim kalimat yang tidak pantas. “Saya mengirimkan DM, setelah saya sadar kalau saya salah dan seharusnya tidak terpancing,” ucapnya sambil berdiri menghadap pengunjung.

Selama ini, kata terdakwa, dirinya tidak pernah mendapat intimidasi dari umat Islam yang ada di Pekanbaru. Dia dan keluarganya tinggal dengan masyarakat yang 99 persen beragama Islam dengan damai.

Baca juga :  Janji Manis Pemilik Travel Pentha Wisata Berbuah Pahit

JPU dalam dakwaannya menjelaskan, terdakwa tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebenciaan atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas dasar Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Perbuatan itu dilakukan terdakwa saat berada di kampus UIR, pada Senin tanggal 20 Maret 2017 sekitar pukul  13.30 WIB. Berawal dari rasa sakit hati terdakwa dengan akun instagram Pangeranmuda54 yang menghina agama terdakwa.

Dari screenshoot postingan IG sonnydriveking tertera kalimat yang menjurus provokasi yang berbau SARA. Dalam postingan, terdakwa menulis kalimat yang  mengandung unsur penghinaan cara ibadah umat Islam.

Kalimat selanjutnya dikirim terdakwa ke IG pangeranmuda45 dan di instagram terdakwa sendiri. Kalimat itu dibaca oleh banyak orang hingga menimbulkan gejolak di masyarakat.

Tindakan terdakwa itu dilaporkan Front Pembela Islam (FPI) ke Polda Riau. Terdakwa diserahkan keluarganya ke Polsek Siak Hulu pada  Rabu, 23 Maret 2017.‎ (hidayat)