Jumat, 1 September, 2017 4:07 pm

Perkampungan Kumuh di Siak Itu Kini Diminati Pelancong, Ini Sebabnya

RiauKepri.com, SIAK– Kabupaten Siak berhasil “menyulap” kampung yang dulunya kumuh hingga menjadi objek wisata yang paling ramai dikunjungi pelancong. Tak hanya wisatawan domestik, dari manca negara pun bertandang ke daerah bekas kerajaan Melayu Islam itu.

Memasuki libur panjang menyambut hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah, sebagian besar warga Provinsi Riau memanfaatkan cuti tersebut dengan memanjakan mata ke Siak.

Di Kota Siak Sri Indrapura yang terletak di Kabupaten Siak ini pelancong kebanyakan melihat pemandangan sungai dari pinggir turap, Ruang Terbuka Publik (RTP), .yang dibangun Dinas Pekerjaan Umum Pemkab Siak.

Di sini, kata Sri (60), salah seorang warga pinggiran Sungai Siak, Jumat (1/9/2017), memang selalu ramai pengunjung dari daerah tetangga, ada yang dari Kabupaten Pelalawan, dari Pekanbaru, Bengkalis, Rokan Hilir, Rokan Hulu, bahkan turis asing dari Malaysia dan Singapura yang ingin melihat Istana Siak, dan sejarah Melayu.

Untuk bisa bertandang ke Siak, jika dari Pekanbaru menggunakan transporstasi darat menelan waktu 2 jam atau 130 kilometer.
Kota Siak Sri indrapura yang berada di pinggir Sungai Siak ini juga bisa di tempuh melalui transportasi air.

Menjelang masuk Kota Siak, mata ini dikagumi dengan terbentangnya jembatan yang diberi nama Tengku Agung Sultanah Latifah yang dibangun sejak Desember 2002 selesai tahun 2007

Baca juga :  Pelantikan DPD Demokrat Riau di Lapangan Terbuka, Ada AHY di Hari Ahad

Pilihan pemandangan wisatawan domestik maupun manca negara, bukan hanya turap tepi sungai dan dan jembatan yang indah tersebut, mereka juga dikenali dengan sejarah Siak yang berasal dari Kesultanan Siak Sri Indrapura. 

Keberadaan kesultanan ditandai dengan adanya Istana Siak yang masih berdiri kokoh. Kerajaan itu berjaya sejak tahun 1723 hingga 1946. Kini, Bupati Siak Syamsuar, mempercantik bangunan cagar budaya tersebut dengan berbagai taman bunga dan kawasan water front  yang memanjang di bantaran pinggir sungai terdalam di Indonesia tersebut.

“Dulunya, sungai ini sebagai alur perdagangan dari pedalaman sumatera menuju pelabuhan antar bangsa di Malaka. Di pinggir Sungai Siak ada benteng atau tangsi peninggalan Belanda, sekarang masih kokoh dan sering dikunjungi wisatawan,” kata Iswanto, Kepala Seksi Perairan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Siak, saat ditemui di pinggir Sungai Siak.

Dinas PU Siak membangun kawasan Water Front City (WBC) ini untuk dijadikan sebagai lokasi wisata bagi pengunjung. WBC sepanjang hampir 1 kilometer dengan titik koordinat dari depan Istana Siak hingga kelenteng tua Hok Siu Kiong yang dibangun seumuran dengan Istana Siak. Pembangunan WFC tersebut dimulai pada tahun 2014 sampai 2016 dan langsung  bisa dinikmati masyarakat

Baca juga :  Malam Festival Sungai Enam, Ribuan Warga Dihibur Della Puspita

Sebelum kawasan WBC ini dibangun, dulunya ini pemukiman masyarakat dan kawasan kumuh, di situ tempat makan, tempat mandi, ada pasar ikan, dan tempat aktivitas nelayan. 

“Sekarang lokasi kami ini sudah cantik, pedagang diuntungkan dengan banyaknya wisatawan yang belanja. Ada WC umum, fasilitas Wifi juga ada. Tadi pagi, kami Salat Idul Adha di sini, ada Wakil Bupati (Alfedri) bersama masyarakat. Kalau Pak Bupati (Syamsuar) salatnya di Kecamatan Kerinci Kanan, bersama warga sekitar,” kata Ari, warga lainnya. 

‎Kawasan kumuh yang disulap menjadi turap itu digagas Kepala Dinas PU Siak, Irving Kahar Arifin. Selain itu dia juga menghiasi taman bunga untuk mempercantik pemandangan. Turap itu seolah-olah menjadi contoh bagi kabupaten dan kota lain sebagai destinasi wisata. 

“Sebagian wisatawan datang berlibur untuk melihat Istana Siak, dan dimanjakan dengan pemandangan turap yang kita bangun pada 2014 lalu. Malam takbiran, malam tahun baru dan malam hari libur. Tadi kami juga Salat Idul Adha di turap, bersama masyarakat,” ucap Irving. (hidayat/*)