Kamis, 17 Mei, 2018 10:18 pm

Polisi Sebut Pimpinan Kelompok Terduga Teroris Dumai Sudah Tewas

RiauKepri.com, PEKANBARU– Kabid Humas Polda Riau, AKBP Sunarto, menyebutkan bahwa pompinan kelompok terduga teroris di Dumai yang menyerang Mapolda Riau sudah tewas.

“Pak Ngah disebutkan sebagai pimpinan,” ungkap Sunarto dalam keterangan persnya, Kamis (17/5/2018) petang.

Ditanyakan Pak Ngah pimpinan dari kelompok mana, Sunarto masih enggan untuk mengungkapkannya secara detail. “Pimpinan kelompok mana masih pendalaman anggota kita. Tapi ini terdeteksi dari kelompok pemanah,” jawab Sunarto.

Sebagai mana diketahui, pada penyerangan Mapolda Riau, Rabu (16/5/2018), polisi berhasil menghadang sekelompok orang.
Empat terduga teroris, masing-masing Mur Salim alias Pak Ngah (48 tahun) warga Kota Dumai, Adi Sugiyanto (26 tahun) warga Jalan Raya Dumai Sei Pakning, Suwardi.(29 tahun) warga Kelurahan Gaung, Sungai Sembilan, dan Pogang (45 tahun) warga Kelurahan Bukit Timah, tewas diterjang pelor polisi.

Usai penyerangan itu, polisi bergerak cepat. Tim gabungan langsung melakukan penggeledahan di beberapa lokasi Kota Dumai, yang diduga sebagai kediaman dari para terduga teroris yang tewas.

Dalam penggeledahan itu, personel dibagi dalam tiga tim. Tim pertama, melakukan penggeledahan di rumah Mur Salim atau Pak Ngah yang tewas di tembak di Mapolda.

Baca juga :  Penyerang Polda Riau Satu Jaringan dengan Mako Brimob

“Tim kedua melakukan penggeledahan di rumah Suwardi yang tewas kemarin dan tim ketiga melakukan penggalian di jaringan Mur Salim atau Pak Ngah,” ucap Sunarto.

Hasilnya, delapan orang pun diamankan. Diantaranya yakni Harmidi (HAR) yang merupakan kakak Suwardi dan ibunya Nilam (NI). Lalu,  Aan Santoso (AS), Dede Supriadi (DS), Syafrizal alias Ijal (SY/IJ).

Kemudian Sri Wahyuni (SW) yang merupakan ibu dari Adi Sufyan dan dua adiknya, Hardiyanto (HD) serta Yuyut Eko Prasetyo (YEP).

“Delapan orang hasil pengembangan dari penyerangan di Mapolda Riau saat ini sedang dalam pendalaman di Polres Dumai,” terang mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) tersebut.

Delapan terduga teroris yang berhasil diamankan ini beberapa diantaranya diketahui memiliki hubungan darah dengan Suwardi dan Adi Sufyan, dua pelaku penyerangan di markas Kepolisian itu.

“Perkumpulan yang mereka lakukan terbiasa dengan panah dan ada beberapa yang satu keluarga,” terangnya.

Baca juga :  BMKG Pantau 25 Titik Panas di Riau, Indikasi Kebakaran Hutan

Dari hasil penggeledahan diamankan beberapa barang bukti. Itu berupa senapan angin, buku-buku tentang jihad, buku yang berbahasa Arab, busur dan anak panah, sasaran target panah yang terbuat dari kayu.

Sebelumnya, kelompok terduga teroris menyerang Mapolda Riau, Rabu (16/5) sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka menerobos masuk di gerbang depan Mapolda Riau dengan menggunakan mobil Avanza warna putih dengan nopol BM 1192 RQ.

Kemudian para komplotan yang dilengkapi dengan pedang tersebut menyerang petugas secara membabi buta. Akibatnya, dua orang petugas mengalami luka bacok. Salah satunya Brigadir Jhon Hendrik yang mengalami luka pada jempol tangan kanan. Kemudian Kompol Farid Abdullah Bidkum mengalami luka di belakang kepala.

Sedangkan Iptu H Auzar gugur usai ditabrak mobil yang ditumpangi komplotan tersebut. Selain itu, dua wartawan televisi juga mengalami luka. Adalah Ryan Rahman dari TV One dan Rahmadi dari MNC. (RK1/*)