Kamis, 24 Agustus, 2017 3:10 pm

Presiden Joko Widodo Ingin Kunjungi UMRAH

RiauKepri.com, JAKARTA — Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo melalui Protokol Kepresidenan mengundang Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Prof Dr Syafsir Akhlus ke Istana Merdeka pada Rabu (23/08/2017).

 

Prof Syafsir Akhlus diundang dalam kapasitas sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), bersama dengan empat pengurus inti MRPTNI lainnya masing-masing Rektor IPB, ITB, Unhas dan UNS.

 

Pada pertemuan tersebut Presiden memaparkan visi beliau tentang tantangan dinamika bidang ilmu dan keahlian untuk masa depan. Presiden minta agar Perguruan Tinggi Indonesia harus mampu mengantisipasi munculnya bidang ilmu dan keahlian baru yang berbeda dengan bidang ilmu dan keahlian klasik yang saat ini sedang dijalankan di Perguruan Tinggi Indonesia.

Baca juga :  Tagana Kepri Juara Jambore Nasional

 

Presiden juga meminta kepada Pimpinan Perguruan Tinggi agar meneguhkan kembali semangat berbangsa dan bernegara melalui empat pilar kebangsaan kepada para mahasiswa, khususnya para mahasiswa baru angkatan 2017.

 

Pada sesi diskusi, Presiden yang didampingi Mensesneg dan Menristekdikti membahas masukan-masukan yang disampaikan oleh peserta rapat. Salah satu masukan yang disampaikan ke Presiden adalah Deklarasi Sumbawa yaitu usulan yang diajukan oleh Kelompok Kerja Forum Rektor Indonesia 2017 bidang Maritim yang diketuai oleh Rektor UMRAH Tanjungpinang.

Baca juga :  Masyarakat Dijemput Hadir Sambut Gelar Pahlawan Sultan Mahmud Riayat Syah

 

Presiden menaruh minat yang cukup tinggi untuk pengembangan bidang maritim. Pada saat berpamitan, Presiden menyampaikan keinginan beliau untuk berkunjung ke UMRAH.
Keinginan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden ke Rektor UMRAH dan minta agar segera dikoordinasikan dengan Menristekdikti.

 

Pertemuan sekitar 60 menit tersebut berlangsung lancar dan rileks tetapi sangat produktif dan diakhiri dengan konferensi pers oleh Menristekdikti Republik Indonesia, Muhammad Nasir.

  • RK/RON