Minggu, 11 Maret, 2018 10:17 am

Puisi-puisi Hang Kafrawi

Aku Ingin Menyapamu

Aku ingin menyapamu
Lewat angin yang kau hisap jadi nafas
Lalu berumah di paru-parumu
Agar kau tahu, rinduku tak berbatas

Pada puncak yang paling malam
Ada kenangan membakar gelap
Kau menari di hutan sunyiku
Melepas rentak keriangan menengkah denyut nadiku

Aku ingi menyapamu
Namun diammu kutangkap sebagai benci
Tak berani daku
Dipenjara duka
Aku menyesali diri

Rumbai, 11 Jamuari 2018

Belum Juga Dapat Kuhapus Rindu Ini

Percikan kasih yang kau rencis dari kuntum senyummu, masih bergelombang di jantungku. Waktu ke waktu, sunyi ini melaut luka; melayarkan rinduku yang tak bertuju, terlalu cemas melabuh harap. Pada jarak, aku terkubur air mata dan menyesali kelahiran sebagai perpisahan, lalu mengutuk diri sebagai pencundang yang ditikam musim. Aku patah kemudi pada hasrat melaju arus yang kau tiupkan jadi angin; membadai menghempas ke tebing sukma. Ratapan juga yang membelai kenangan di pelabuhan duka ini.

Kau tanam setitik cahaya di taman malamku, kini beranakpinak menggumpal purnama membujuk gelap, agar aku tak membatu pada kesendirian. Derai tawa yang kau hidangkan menjadi nada urat nadiku; mengalir darah kisah yang tak pernah berhenti sedetik pun. Bentangan dadaku semakin meluka.

Belum juga dapat kuhapus rindu ini, walau jarak telah menjadi lautan luas, aku semakin terhempas.

Rumbai, 5 Januari 2018

Dia Tak Ingin Mimpi

Tiap kali malam datang, dia melihat ke langit. Ditatapnya gelap dan pada angin dia membisikkan suara hati. Lalu dilahapnya bulan yang baru saja muncul di balik awan. Tiada keraguan menentangnya untuk bertandang ke rumah sunyi. Dia menyadari, kesendirian bukanlah kematian; dia ingin menjelajah kuburan. Terlalu lama dia berharap pada mimpi, namun tak pernah sampai pada akhir. Selalu saja kejagaan memotong urat nadi kemenangan dengan meninggalkan bekas kekalahan.

Baca juga :  Pertamina RU II Sungai Pakning Serahkan Bantuan Program CSR Kepada Masyarakat

Telah lama dia membenci mimpi, seperti dia tak ingin menunggang bayangan di dinding waktu. Mendaki gunung senyap tanpa nyanyian detak jantung. Dikulumnya tidur dikerongkongan sepi. Berteriaklah dia dengan empat sayap suara menembus tidak.

Kesadaran akan kekuatan yang menggunung di dadanya, bagai gelombang menganas di lautan. Dia pun mengemas pelayaran untuk mendekap hari. “Diam di antara kemunafikan adalah kematian yang sia-sia,” dia berteriak.

Hujan Menetas Bulan

Malam dan mendung memekat gelap
Cemas menyelinap menggunung ragu
Perjalanan waktu dihimpit senyap
Hati terkebat pikiran membeku

Kun pada malam…
Di mimbar perih menancap hikayat
Peperangan berakhir di zona kesedihan
Serdadu mimpi tubuh tersayat
Berputar kibarkan panji ketakutan

Pada sunyi kita menyerah
Patah segala sujud cahaya
Hilang semangat gelombang darah
Terkapar dihujam kemarau dahaga

Tak percaya pada rupa
Sesat hati, khianat diri
Disumpah bermacam luka
Lah, kekalahan yang bersebati

Kun pada mendung…
Angin melukis kisah
Lafaz rindu menyerbu
Melintang ayat sejarah
Sendu yang disedu

Ziarah beradu kelu
Taman puji membeku
Hangus didekap debu
Dihempas bayang pilu

Senyap menganak gerimis
Detak dipacu kelam
Tubuh diiris tangis
Terkubur segala azam

Kita tak bercermin pada berjuta sejarah
Dari rahim mendung, hujan malam kan menetas bulan

Rumbai, 14 Februari 2018

mata bulan

malam menghantarkan kita secawan harap
kau dedahkan segala gelap
dengan rentak keasingan
aku coba memahaminya
ada jeritan di senyummu
terlukis goresan pedih
api kecewa tak mungkin diredam dan padam
itulah katamu “hati, mata bulan yang tak melupakan kelam”

Baca juga :  Sejumlah Warga Pekanbaru Tersambar Petir Saat Belanja di Pasar

aku coba mengais sisa-sisa rindu di hatimu
segunung cemas kau tak ingin
luka bukan untuk dipersedakan
bayang hitam masa lalu
menikam sukma, berdarah hari-hari
perjalanan waktu menciptakan kelu
kau engan mengulangi kisah yang dijanjikan
walau di bola matamu cahaya menari
“mata bulan, tak menembus mendung di malam yang penat”

kita rangkai pertemuan di meja perih
saling melepas gundah
gelombang jiwa menghempas diri
kau sulam air mata di kelopak tawa
kupetik pelangi dari tabir pilu
bentangan resah semakin memanjang
mengajak kita untuk terus berlari
“jangan pernah berhenti, walau mata bulan tertutup kabut”

pada kilauan embun
kita nyanyikan mata bulan yang menghilang
ada riwayat yang belum diungkai
namun perahu rasa yang tersadai di lautan malam
masih bersedia membawa kita untuk berlayar
dan berkisah tentang persembahan masa puba yang duka
“biar mata bulan meredup, sunyi akan menjelma diri kita”

Sang Keriangan 2

Tak perlu kita menyembunyikan luka
Darah yang mengalir adalah rindu, adalah ingin, adalah kisah
Pada tiap perihnya ada alunan hati yang belum sempat kita ucap
Menggelombang hari-hari di denyut nadi kita

Saban pagi kau hantarkan matahari di depan rumahku
Agar siangku dijilat semangat tak diam

Hang Kafrawi adalah Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Lancang Kuning. Selain sebagai dosen, Hang Kafrawi juga aktif di dunia seni teater menjadi Ketua Teater Matan, dan Ketua III Dewan Kesenian Riau