Selasa, 8 Agustus, 2017 10:44 am

Rp1 M Lebih Mengantar 3 Oknum ASN Rohil Tidur di Sialang Bungkuk

Tiga ASN Rohil saat ditahan Kejati Riau0

RiauKepri.com, PEKANBARU– Tangan mencincang maka bahu harus siap memikul. Diduga telah menggasak uang rakyat hingga Rp1 miliar lebih, tiga oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Provinsi Riau, ditahan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, dan malam ini, Selasa (8/8/2017), terpaksa tidur di Rumah Tahanan Kelas IIB Sialang Bungkuk.

Ketiga oknum ASN itu masing-masing, S Bendahara Pengeluaran Bappeda Rohil, H Bendahara Pengganti S, dan R Pejabat Verifikator pengeluaran uang. ”Mereka ditahan terkait dugaan korupsi pengadaan barang dan belanja kebutuhan rutin tahun 2008 hingga 2011. Ketiga ASN ini ditahan dan dikirim ke Rumah Tahanan Kelas IIB Sialang Bungkuk Pekanbaru karena disangkakan merugikan negara Rp 1,192 miliar,” kata Asisten Pidana Khusus Kejati Riau Sugeng Riyanta, kepada wartawan.

Baca juga :  Ops Zebra Siak 2017 Berhadiah Bingkisan Kapolresta Pekanbaru

Ketiga oknum pejabat negara ini, jelas Sugeng, sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka bersama tersangka utama sebelumnya, yakni Kepala Bappeda Rohil, Wan Amir Firdaus. Lantaran berkasnya sudah tahap I, maka proses selanjutnya kemungkinan minggu depan sudah lengkap, maka akan dilimpahkan ke pengadilan.

Kasus yang melibatkan empat oknum ASN Rohil ini berawal ketika Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan jumlah transaksi yang masuk dan keluar di rekening Wan Amir Firdaus sebesar Rp 17 miliar lebih. Uang itu diduga berasal dari proyek fiktif di Bappeda Rohil.

Dari penyidikan Kejati diketahui uang masuk dari praktek korupsi yang ada di rekening sebesar Rp 8,7 miliar. Sementara yang masuk dari gratifikasi Rp 6,3 miliar. Namun kemudian diketahui kerugian negara yang disebabkannya menjadi Rp 2,5 miliar.

Baca juga :  Astaga, Pelajar di Pekanbaru Ini Dijual Rp 700 Ribu

Wan Amir Firdaus, kata Sugeng, ditahan untuk tiga perkara dugan korupsi. Selain yang tersebut di atas dia juga diduga terkait dugaan korupsi pembangunan jembatan Pedamaran II dan Tindak Pidana Pencucian Uang. Namun akhirnya Kejati Riau menyatakan telah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap dirinya dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Jembatan Pedamaran II, sedangkan untuk tersangka lainnya perkara tetap lanjut. (RK1/*)