Kamis, 1 Februari, 2018 1:47 pm

RSUD Bengklis Bantah Telantarkan Pasien

RiauKepri.com, BENGKALIS – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bengkalis dalam menangani pasien melahirkan pada 28 Januari 2018, sudah sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) dan tak pernah menelantarkan pasien.

“Kita melakukan tindakan sesuai SPO kita, tidak ada penelantaran pasien saat penanganan tersebut,” ungkapkan Wakil Direktur Bidang Pelayanan, Rita Puspita saat  memberikan keterangan pers, Selasa 31 Januari 2018 untuk meluruskan pemberitaan tersebut, tentang tudingan bahwa RSUD telah menelantarkan pasien melahirkan.

Seperti diberikan di media, menyebutkan bahwa meskipun sudah mendapat akreditasi sebagai rumah sakit paripurna, namun masih ada saja pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bengkalis yang di keluhkan masyarakat Bengkalis. Seperti diungkapkan Agustiawan, warga Bengkalis yang merasa kecewa dengan pelayanan dirasakannya.

Sebagaimana dimuat sejumlah media dan juga beredar di media sosial, Agus mengungkapkan, kekecewaannya bermula Ahad malam, 28 Januari 2018, lalu. Ketika itu, ia dan keluarga mengantar adik iparnya yang akan melahirkan ke RSUD Bengkalis.

Saat masuk di RSUD Bengkalis awalnya memang mendapat penanganan langsung oleh perawat IGD (Instalasi Gawat Darurat).

Namun, ia tidak melihat dokter spesialis kandungan yang menangani adik iparnya. Padahal, kondisi pasien dalam keadaan menahan sakit pasca sempat dirawat di rumah bidan.

“Awalnya memang adik kami dirawat di rumah bidan, karena sudah 2 malam tidak ada perubahan kami memutuskan membawa adik ke RSUD. Yang kita sayangkan, ketika itu tidak ada dokter yang setidaknya memberikan penjelasan kondisi adik kami. Hanya petugas perawat disitu, apa karena kami masuk tengah malam menjadi faktornya kami pun tidak tahu,” kata Agus, Selasa, 30 Januari 2018.

Seperti dikutip dari cakaplah.com, itulah sebagian dari kekecewaan yang disampaikan Agus dimaksud.

Diungkapkan Wakil Direktur Bidang Pelayanan, Rita Puspita, berdasarkan informasi yang dirangkum dari petugas yang bertugas saat kejadian. “Kami ingin memaparkan kejadian berdasarkan informasi yang saya rangkum dengan petugas kita yang bertugas saat kejadian. Di sini kami tidak mau mengatakan kronologis yang kami terangkan ini adalah yang benar. Tapi ini versi kami,” ungkap Rita.

Baca juga :  Sekcam Pantau Persiapan Lokasi MTQ XXIX di Desa Bukit Batu

Menurut Rita, kejadian pasien melahirkan yang sempat mengalami kejang-kejang tersebut, berawal dari rujukan seorang bidan bernama Yuliana. Pasien tersebut sudah dirawat selama dua hari di rumah bidan dimaksud.

“Menurut bidan yang merawatnya, pasien tersebut tak perlu dirawat. Karena belum masuk tahapan melahirkan. Masih jauh dari pembukaan melahirkan, pasien masih bisa jalan-jalan. Namun karena ada kekhawatiran keluarga pasien, makanya dirawat,” kata Rita.

Lanjut dia, karena selama dua hari tidak mengalami kemajuan itulah, bidan langsung merujuk pasien ke RSUD Bengkalis untuk penanganan lebih lanjut.

Masih kata Rita, adik ipar agusetiawan itu masuk ke RSUD Bengkalis sekitar pukul 23.30 WIB, Ahad, 28 Januari 2018 dan langsung dibawa ke IGD.

“Pada saat pertama kali masuk langsung ditangani perawat dan dokter. Selain itu dokter yang melakukan pemeriksaan juga berkonsultasi dengan dokter spesialis penangung jawab,” ungkap Rita.

Hasil konsultasi dengan dokter spesialis, diperoleh informasi bahwa pasien bersangkutan tak mengalami kemajuan pada tahapan pembukaan melahirkan. Dokter spesialis menyarankan pasien dirangsang untuk mempercepat kemajuan jalan kelahirannya.

“Namun saat itu pasien menolak, dan kita meminta keluarga pasien menandatangani bukti penolakannya,” kata dia.

Setelah itu, sambungnya, pihak rumah sakit melakukan observasi sampai pagi untuk melihat kemajuan proses melahirkan. Observasi ini sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) Rumah sakit.

“Bidan IGD juga sudah menjelaskan selain proses perangsangan ada jalan lain proses persalinan dengan melakukan operasi. Namun hanya sebatas penjelasan saja,” kata Rita.

Setelah penanganan di IGD, sekitar pukul 00.30 WIB, pasien diantarkan keruangan persalinan. Kemudian bidan yang berada di ruangan persalinan melakukan pemeriksaan ulang.

“Setelah melakukan pemeriksaan ulang perawat langsung meninggalkan pasien. Dan menyampaikan kepada keluarga kalau terjadi sesuatu langsung laporkan ke perawat, ” pungkas Rita.

Sekitar pukul 02.00 WIB keluarga pasien mendatangi ruang perawat menyampaikan pasien mengalami sakit dan meminta melakukan pemeriksaan kembali. Namun perawat menjelaskan pemeriksaan tidak bisa dilakukan sering-sering ada tengang waktunya.

Baca juga :  "Ya, Kami Sudah Tau Pak Syamsuar, Insya Allah Nomor 1"

Bidan jaga juga menyarankan agar pasien berposisi miring ke kiri. Memang akan sakit, tetapi akan mempercepat proses melahirkan.

“Sekitar pukul 03.00 WIB keluarga pasien kembali mendatangi bidan jaga. Saat itu bidan jaga kembali memeriksa pasien, namun saat itu keadaan pasien dalam keadaan agak lemah, bidan memberikan semangat disuruh untuk makan atau minum,” jelasnya.

Tidak beberapa lama pemeriksaan tiba-tiba pasien mengalami kejang. Bidan yang melakukan perawatan langsung memanggil dokter jaga untuk menangani kondisi pasien.

Namun saat itu kondisi keluarga pasien sangat panik dan ramai. Petugas keamanan RSUD sempat diancam kemudian dokter jaga juga sempat diancam dan dihalangi.

Melihat kondisi ini, dokter spesialis langsung datang ke rumah sakit untuk memberikan tindakan. Pihak dokter melakukan tindakan operasi dan akhirnya bisa menyelamatkan pasien dan bayinya.

“Kita maklumi kondisi malam itu keluarga pasien memang paniK, jadi kami tidak mempermasalahkannya,” kata Rita.

Menurut dia, semua tindakan yang diambil pihak rumah sakit sudah sesuai SPO rumah sakit. Bahkan tidak ada indikasi menelantarkan pasien yang dilakukan pihak rumah sakit. “Kita melakukan tindakan sesuai SPO kita, tidak ada penelantaran pasien saat penanganan tersebut,” tegasnya.

Rita mengakui memang mungkin ada miskomunikasi saja yang terjadi dengan pihak keluarga. Namun ini juga menjadi bahan evaluasi pihaknya.

Rita menjelaskan meskipun saat ini pihak rumah sakit sudah diakreditasi paripurna namun memang masih ada kekurangan yang harus diperbaiki.

“Akreditasi itukan artinya pelayanan kita sudah sesuai standar bukan berarti sempurna. Namun kita akan terus menyempurnakan pelayanan kita ke depannya,” tegas Rita.

Untuk itu pihak rumah sakit meminta dan menerima kritikan dari masyarakat. Guna untuk kemajuan RSUD Bengkalis ke depannya. (RK4)