Rabu, 11 Oktober, 2017 10:51 am

Sosialisasi 4 Pilar, Hardi Uraikan Narkoba tak Sekedar Kejahatan Kriminal

RiauKepri.com, BATAM — Maraknya markoba masuk ke Indonesia sebagai upaya “perang candu” pihak asing untuk melemahkan generasi muda Indonesia. Sebab, pada saat 100 tahun Indonesia merdeka, negeri ini mendapat bonus demografis di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dari jumlah lansia dan anak-anak.

Demikian disampaikan Anggota MPR RI DR, H. Hardi Selamat Hood PhD di hadapan mahasiswa dan pengajar Kampus Karya anak Bangsa Kota Batam dalam sosialisasi 4 pilar kebangsaan beberapa waktu lalu.

“Saat 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045 banyak pihak mengatakan Indonesia akan bangkit, sebab jumlah orang penduduk usia produktif lebih banyak dari kaum Lansia dan anak-anak. Semetara negara-negara Asia lainnya justru sebalinya. Rupanya ada yang tidak menginginkan Indonesia bangkit,” ujar senator asal Provinsi kepulauan Riau ini.

Karena itu, lanjut Hardi, fenomena membanjirnya narkoba masuk ke Indonesia jangan hanya dilihat sebagai kejahatan kriminal yang dijalankan oleh mafia biasa, tetapi di balik itu ada kekuatan negara tertentu yang bertujuan untuk melemahkan generasi muda ke depan.

Baca juga :  Marlin Agustina Rudi Bunda PAUD Terbaik

“Lihatlah berbagai metode diciptakan dan dikembangkan oleh jaringan sindikat narkoba untuk mempertahankan kesinambungan pasar atau konsumen. Salah satunya dengan metode “regenerasi pasar”. Metode ini diimplementasikan dengan cara mencekoki anak-anak usia dini dengan narkoba yang “dikamuflasekan” di dalam makanan atau candu,” ujar lulusan S3 Universitas Tun Hussein On Malaysia (UTHM) Johor, Malaysia itu.

Menurut Hardi, modus ini sama seperti perang candu di China tahun 1840 – 1842. Dengan cara ini  Inggris berhasil mengalahkan Cina dan menguasai Hongkong.“Ini adalah bukti nyata bahwa narkoba sangat ampuh digunakan sebagai “alat” (kekuatan terselubung) untuk menguasai negara lain.”

Berpikir analogi dengan perang candu yang terjadi di pertengahan abad 18 – 19 tersebut, tambah Hardi, rasanya jadi masuk akal apabila ada beberapa orang yang punya analisis bahwa Indonesia sedang mengalami serangan dari negara lain dengan menggunakan narkoba sebagai “senjata” atau “alat” untuk menghancurkan kekuatan dan kedaulatan bangsa Indionesia”.  Atau istilah kerennya sebagai proxy war atau perang asimetris.

Baca juga :  68 Pejabat di Siak Dimutasi, Ini Harapan Syamsuar

Hardi menilai, fenomena banjirnyanya narkoba masuk ke Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Dia berpesan kepada para peserta agar menghindari pemakaian narkoba. Bahkan Hardi meminta agar para peserta dapat mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat umum dan generasi muda lainnya.

Selain mejelaskan tentang bahaya narkoba, Hardi juga menyampaikan materi terkait empat pilar kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, UUD 45 Negara Republik Indonesia, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. (Dias/Naid)