Jumat, 25 Agustus, 2017 12:14 am

Syamsuar Menyapa Peserta, Pacu Jalur Menyapa Dunia

RiauKepri.com, KUANSING– Drs H Syamsuar MSi, tak hanya menghadiri ivent pariwisata nasional, Festival Pacu Jalur, namun dia juga langsung menyapa peserta dengan menggunakan pompong untuk memberi semangat.

 

Sebelum azan Ashar berkomandan, Syamsuar bersama sejumlah tokoh masyarakat Kuansing tampak bergegas menuju Jambatan Gantung. Di jambantan ini, sudah menunggu sebuah pompong bermesin dumping dan bermuatan 12 orang.

 

Hendri, sang pemandu tampak sibuk mengatur penumpang, terutama orang nomor satu dari negeri istana itu. Tiga buah kursi plastik tampak tersusun rapi di tengah pompong yang menjadi tempat duduk Syamsuar bersama dua tokoh Kuansing.

Perserta Pacu Jalur bersalaman dengan Syamsuar.

Pompong itu bagian dek depan terpasang terpal yang empat bagian ujungnya terikat dengan kayu penyanggah agar penumpangnya tidak dijilat matahari. Dan begitu Syamsuar duduk di tempatnya, upp…ada sedikit kesalahan teknis, mesin pompong agak susah diengkol untuk dinyalakan sehingga Syamsuar harus menunggu sekitar 10 menit. Namun tak lama kemudian, pompongpun mengarah ke Hulu, tempat peserta Pacu Jalur antrean menunggu dipanggil untuk berlomba.

 

Ada 193 peserta pada Festival Pacu Jalur 2017 dengan tema: “Pacu Jalur Menyapa Dunia,” dari berbagai daerah. Pompong yang membawa Syamsuar pun belayar agak merapat, sekitar lima meter dari peserta Pacu Jalur.

 

Sekitar 200 meter peserta Pacu Jalur berjejer rapi dengan perahu yang dicat bermacam aneka warna dan di samping body perahu bertuliskan nama kelompok masing-masing. Begitu juga dayung mereka, dicat sedikitnya dua warna. Keanekan ragaman warna ini membuat keindahan tersendiri sehingga terucap dari mulut Syamsuar, “Begitu indah dan punya daya tarik sendiri warna-warni perahu ini.”

Peserta Pacu Jalur usai berlomba dan melintas di pompong berpenumpang Syamsuar.

Sepanjang menelusuri peserta pada hari pertana Pacu Jalur, Rabu (23/8/2017) dan akan berlangsung selama empat hari, sejumlah peserta tampak menyapa Syamsuar. Ada yang memanggil nama Syamsuar ada juga hanya sekedar menyapa dengan bahasa Kuansing. Syamsuar pun membalasn sapaan peserta itu dengan melambaikan tangan.

Baca juga :  Malam Festival Sungai Enam, Ribuan Warga Dihibur Della Puspita

 

Dalam perjalanan menyapa peserta itu, Syamsuar sempat bertanya, kenapa disebut Tepian Narosa sehingga menjadi tempat berlangsung Pacu Jalur sejak ratusan tahun lalu. Oleh tokoh masyarakat Kuansing menyebutkan, karena tepian Sungai Kuansing itu dulunyan sampai sekarang adalah tempat berkumpulnya muda-mudi di Kuansing dari berbagai daerah, mulai dari Hulu hingga ke Hilir.

 

Syamsuar juga tampak kagum lantaran pada sisi kanan dan kiri sungai terlihat belasan ribu orang menonton, ada yang berada di tribun ada juga di tepi sungai sambil duduk beralaskan tikar. Mereka bersorak-sorai ketika peserta yang berlomba itu dari kampungnya harus melaju dalam satu kilo mencapai finish.

 

Dari pantauan wartawan, sebagian besar tribun tersebut dibuat tidak permanen. Hanya tribun utama saja yang permanen dan kelihatan kokoh. Begitu jelas, bahwa tribun tersebut dibuat secara mendadak dari broti berbagai ukuran kemudian berlantai papan. Tribun itu dua bulan sebelumnya tidak terlihat namun menyusul diadakan Festival Pacu Jalur tribun-tribun itu berdiri bagaikan disulap.

 

Diketahui, untuk mereka yang menonton di tribun dikenakan biaya. Pada tribun star biaya yang harus dikeluarkan penonton paling kecil Rp30 ribu. Sedangkan pada tribun di garis finish penonton harus merogoh isi kocek berkisar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu.

 

Usai menyapa satu per satu peserta dan melihat langsung secara dekat pelepasan peserta lomba yang ditandai dengan suara tembakan meriam, Syamsuar bersama rombongan kembali ke Hilir.

Baca juga :  Untuk Ketiga Kalinya Siak Menerima Penghargaan Peduli HAM

 

Di Hilir di bawah Jambatan Gantung, setiap peserta yang sudah berlomba melintas di pompong berpenumpang Syamsuar, dan Bupati Siak inipun membakar semangat peserta dengan melempar jeruk manis yang sudah dibungkus dalam kantong plastik asoi.

 

Tak hanya buah jeruk, Syamsuar pun melempar sejumlah rokok berbagai jenis kepada peserta. “Memang dari dulu begitu, peserta yang baru berlomba begitu melintas di depan penonton diberi jeruk dan rokok,” kata Hendri.

 

Syamsuar tidak hanya membakar semangat peserta lomba dari Kabupaten Siak dengan nama perahu Palimo Olang Putih, ketika melintas dihadapannya, peserta dari daerah lain yang ikut partisipasi juga diperlakukan hal yang sama; memberi jeruk dan rokok.

 

Sebagai ucapan terima kasih, ada perahu peserta Festival Pacu Jalur merapat, mendekati Syamsuar kemudian bersalam dan mencium tangan suami Hj Misnarni ini dari atas perahunya. “Terima kasih, pak. Semoga Pak Syamsuar sukses selalu,” doa seorang peserta.

 

Melihat potensi yang begitu besar dalam mengisi pundi-pundi pendapatan masyarakat pada ivent Pacu Jalur ini, Syamsuar berpendapat perlu beberapa pembenahan. Sehingga penonton dari berbagai daerah, termasuk turis maca negara, merasa aman dan nyaman bila melihat helat yang diselengarakan setahun sekali ini.

 

Syamsuar juga memandang perlu adanya sinergi antara Siak dan Kuansing dalam dunia pariwisata sehingga dibuatlah kerja sama antara Siak dengan Kuansing. Kata sepakatpun tertuang dalam MoU kedua belah pihak pemerintah daerah, pada pagi sebelum pembukaan Festival Pacu Jalur, bertempat di rumah pribadi Bupati Kuansing, Drs H Mursini MSi.

  • Hidayat