Sabtu, 3 Maret, 2018 1:59 am

Tamasya Gerak dan Bunyi, Cara Laksemana Bersilaturahmi dari 1984-2018

RiauKepri.com, PEKANBARU – Perkembangan seni tari di Provinsi Riau tidak akan lepas dengan geliat yang dilakukan Pusat Latihan Tari (PLT) Laksemana. Membawa konsep-konsep tari modern yang dibancuh tari tradisi, PLT Laksemana mewarnai dunia seni tari Riau. Rasanya tidak ‘afdhol’ membentang sejarah tari Riau tanpa menyebut Laksemana. Laksemana hadir dengan karya-karya seni tari yang kadang kala melawan pakem tari tradisi, memunculkan kontradisi di kalangan seniman tari di Riau. Inilah gerakan kesenian, ianya tidak akan pernah berhenti pada satu bentuk, ia terus bergerak mengikuti liuk perkembangan zaman dengan menciptakan bentuk baru. Walau kadang kala Laksemana dicap sebagai ‘pendurhaka’ tari tadisi, namun demikian karya-karya mereka tetap menjadikan tradisi sebagai ruh mereka.

Kehadiran PLT Laksemana sejak 1984-2018 telah melahirkan seniman-seniman tari tangguh bagi Provinsi Riau. Sebut saja nama Epi Martison, Musrial Mustafa, Irfan Nur (BI), Sunardi, dan Nanda merupakan tokoh-tokoh tari Riau yang sampai saat ini sangat diperhitungkan dalam kencah seni tari. Selain penari, Laksemana juga menjadi tempat berkreasi para musisi Riau, antara lain Herman Maskar, alm. Yazid, Santos, Rino Deza Pati, Zalfandri, dan Anggara Satria. Gerak dan bunyi menjadi padu menandakan kebesaran Laksemana dari tahun ke tahun.

Baca juga :  Said Hasyim Berharap Tidak Ada Lagi Bantuan Tidak Tepat Sasaran

Untuk menyulam kenangan dan bersilaturahim, pada Sabtu (3/3/2018) di Anjung Seni Idrus Tintin, Laksemana menaja perhelatan tari dengan mengusung “Tamsya Gerak dan Bunyi Keluarga Besar Laksemana 1984-2018”. Perhelatan ini akan membentangkan belasan karya tari koreografer Riau yang pernah bergabung dengan Laksemana. Selain itu, para penari Laksemana dari tahun 1984-2018 juga meramai silaturahim ini. Perhelatan ini juga dibuka untuk masyarakat umum, yang dimulai pukul 20.00 WIB, Sabtu malam (3/3/2018).

Para Laskar Laksemana

Menurut SPN Iwan Irawan Permadi, Direktur Artistik dan sekaligus pendiri PLT Laksemana, perhelatan ini digelar untuk menyulam silaturahim keluarga besar Laksemana. Dengan perhelatan ini, kata Iwan, keluarga besar Laksemana dapat berkumpul dengan membentangkan karya-karya tari untuk masyarakat Riau.

“Ide ini datang dari adik-adik dan saya sangat merespon dan sangat berbangga dengan ide ini. Kami senantiasa bersama dalam dunia tari. Perhelatan ini kami persembahkan selian untuk keluarga besar Laksemana, juga untuk masyarakat Riau,” ucap Iwan Irawan, Jumat malam (2/3/2018).

Baca juga :  KMF dan Teater Matan Taja Lomba 'Solo Campaign Medsos Festival'

Dalam perhelatan “Tamasya Gerak dan Bunyi” malam ini, Sabtu (3/3/2018) di Anjung Seni Idrus Tintin, Bandar Serai, selain menampilkan penari lama, penari anak-anak asuhan Laksemana juga akan ditampilkan. Karya-karya tari Laksemana yang sempat memukau pada zamannya, seperti tari Rentak Jogi, Arrajul akan ikut ditampilkan pula. Apa yang dilakukan Laksemana dapat menjadi telisik melihat perkembangan tari Riau dari tahun ke tahun.

“Ini perhelatan silaturahmi kami. Dengan perhelatan ini kami dapat berkumpul dan bukan saja berkumpul, yang paling penting, kami mengabarkan bahwa kami tetap berkarya,” ujar Sunardi kepada RiauKepri.com, setelah latihan bersama di ASIT, Bandar Serai.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa dari rahim Laksemana juga melahirkan pemikir budaya di Riau ini. Sebut saja Yoserizal Zen (Kadis Kebudayaan Riau) Herman Rante (Dekan FIB Unilak), Fakhri Semekot, Udin Semekot (pelawak nasional asal Riau), Herman Maskar (politisi Riau), Pulsia Mitra (Kabid Kebudayaan) pernah bergabung dengan Laksemana. Perjalanan Laksemana membawa karya tari Riau juga sudah menjangkau Eropa. (HK)