Senin, 24 Juli, 2017 1:47 pm

Teriakan Trido Melawan Maut, Hilang Ditelan Sungai Kampar

RiauKepri.com, KAMPAR–Trido Setia Tama alias Tama (22) warga Jalan Harapanraya, Gang Kamboja Indah, Kota Pekanbaru, sempat berteriak melawan maut yang menjemputnya. Namun, korban yang hilang ditelan Sungai Kampar ditemukan terapung pada keesokan harinya, Senin (24/7) pukul 08.15 WIB, sudah tak bernyawa lagi.

Peristiwa ini bermula pada hari Minggu (23/7/2017) sekira pukul 13.30 WIB, saat itu korban bersama 14 orang temannya dari Pekanbaru pergi berekreasi di Sungai Kampar dekat Lokasi PLTA, tepat di bawah Lobang Kalam. Selanjutnya korban bersama temannya istirahat sambil duduk-duduk di pinggir sungai.

Sekira pukul 13.45 WIB, korban langsung berenang dan menyebrangi sungai tersebut sendirian, setelah berhasil menyeberangi sungai korban kembali menjumpai temannya yang berada di pinggir sungai dan mengajak mereka untuk kembali menyeberangi sungai.

Baca juga :  Dapat Informasi Dari Warga, Kurir Narkoba Masuk Penjara

Teman-teman korban tidak ada yang mau ikut berenang, lalu korban kembali berenang menyeberangi sungai sendirian, namun saat berada di tengah sungai untuk menyeberang, kedua kalinya tiba-tiba korban berteriak meminta tolong lalu terseret arus sungai hingga tenggelam.

Upaya pencarian dilakukan oleh Tim gabungan dari Polsek Bangkinang Barat, Basarnas, BPBD Kampar, Tagana serta warga masyarakat Desa Merangin, namun hingga malam hari korban belum ditemukan. Keesokan harinya Senin (23/7/2017) sekira pukul 08.15 WIB, korban akhirnya ditemukan mengapung dalam keadaan sudah meninggal dunia tidak jauh dari lokasi
tenggelamnya korban. Petugas gabungan dibantu warga masyarakat kemudian mengevakuasi korban ke pinggir sungai dan kemudian membawanya ke Puskesmas Kuok.

Baca juga :  Kemas Sungai Siak Membelah Kota, Mendukung Siak Smart City

Kapolres Kampar, AKBP Deni Okvianto SiK MH, melalui Kapolsek Bangkinang Barat, Iptu Daren Maysar, saat dikonfirmasi wartawan membenarkan kejadian ini. ”Jenazah korban telah diserahkan kepada pihak keluarganya setelah sebelumnya dimintakan visum di Puskesmas Kuok. Pihak keluarga menolak dilakukan otopsi dengan alasan telah mengikhlaskan kematian korban dan akan segera menyelenggarakan jenazahnya, pihak keluarga juga membuat surat penolakan otopsi yang diserahkan kepada pihak Kepolisian,” kata Daren. (RK1)