Rabu, 30 Agustus, 2017 2:11 am

Tim Akademisi Lintas Ilmu UR Lakukan Pembinaan Masyarakat Terkait Deteksi Dini Potensi Karhutla di Desa Api-api

RiauKepri.com, BENGKALIS – Lembaga perguruan tinggi memiliki tugas dan tanggung jawab melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Universitas Riau (UR) sebagai sebuah lembaga Perguruan Tinggi yang berazam sebagai “Jantung Hati Masyarakat Riau” berkontribusi nyata memberi solusi berdasarkan ilmu pengetahuan dan penelitian yang telah dimilikinya terhadap persoalan dan dinamika yang dihadapi masyarakat.

Kebakaran hutan dan lahan gambut telah menjadi persoalan yang menghantui masyarakat di Riau khususnya dan di Indonesia umumnya. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan gambut sangat merugikan kehidupan. Kebakaran gambut memiliki karakteristik yang unit sehingga bukan perkara sederhana untuk mengendalikannya. Upaya pencegahan dengan berbagai pendekatan menjadi langkah yang lebih strategis dibanding pengendalian pemandaman api.

Menyikapi hal tersebut, Tim Akademisi Universitas Riau yang terdiri dari para akademisi lintas ilmu yang diketuai oleh Dr. Yanuar, M.Si (bidang ilmu Fisika) bersama anggotanya yaitu Prof. Dr. Firdaus LN, M.Si (bidang Ekofisiologi Tumbuhan), Dr-Ing. Lazuardi Umar, M.Si (bidang instrumentasi) dan M.Mardhiansyah, S.Hut., M.Sc (bidang Kehutanan), turun ke tengah masyarakat di Desa Api-api Kec. Bandar Laksemana Kab. Bengkalis pada hari Selasa tanggal 29 Agustus 2017. Tim akademisi lintas ilmu ini melakukan pembinaan kepada masyarakat daerah rawan api di Kec. Bukit Batu Kab.Bengkalis melalui pemahaman konsep fuel-moisture content biomass, indikator suhu, kelembaban dan tinggi muka air tanah.

Baca juga :  Tersebab 9 Rumah Biliar, Zulkarnaen Kembali Pimpin POBSI

Kegiatan tersebut dihadiri oleh tokoh masyarakat dan perwakilan pemuda, Kelompok Masyarakat Peduli Api Desa Api-api. serta mahasiswa Kukerta Universitas Riau TA 2016/2017 Desa Api-api yang diketuai oleh Aditya Pranata (mahasiswa FPIK UR) dengan Dosen Pembimbing Dr. Sigit Sutikno (Dosen FT UR). Peserta kegiatan tersebut sangat antusias mengikuti acara yang terlihat dari respon dan keaktifan peserta yang sangat tinggi selama pelaksanaan acara.

Selain sosialisasi memberikan pemahaman kepada masyarakat di dalam ruangan, juga dilakukan kegiatan diluar lapangan berupa pemantauan kondisi lapangan dan demonstrasi sampel instrumen yang dapat digunakan untuk memberikan informasi deteksi dini potensi terjadinya kebakaran. Kegiatan tersebut juga diikuti dengan pendampingan dan pembinaan agar tujuan dan sasaran dari kegiatan tersebut dapat tercapai sesuai harapan. Kecamatan Bandar Laksemana merupakan pemekaran dari Kecamatan Bukit Batu.

Pendekatan deteksi dini potensi terjadinya kebakaran melalui pemahaman konsep konsep fuel-moisture content biomass, indikator suhu, kelembaban dan tinggi muka air tanah sangat penting dipahami masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. Fuel-moisture content biomass adalah ukuran tingkat kelembaban serasah yang merupakan bahan penyusun gambut. Semakin rendah kelembaban serasah, maka semakin tinggi potensinya sebagai bahan bakar yang selanjutnya jika didukung oleh suhu yang tinggi dan kelembaban yang rendah maka potensi terjadinya kebakaran akan semakin tinggi. Tinggi muka air tanah gambut sangat berperan dalam menjaga kelembaban serasah.

Baca juga :  Bupati Meranti Ajak Masyarakat Berprilaku Hidup Sehat

Masyarakat diedukasi bagaimana memahami prilaku kebakaran, memahami segitiga api, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku kebakaran. Di samping itu pemahaman akan aturan yang berlaku serta berbagai pendekatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan gambut juga diberikan kepada masyarakat. Diharapkan muncul kesadaran sendiri dari masyarakat untuk bersikap dan bertindak mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut di lingkungannya.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan gambut harus didukung oleh kontribusi banyak pihak dan berbagai pendekatan. Kolaborasi lintas ilmu dan lintas sektor diperlukan untuk keterpaduan gerak langkah membebaskan masyarakat dari derita kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan yang dilakukan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi upaya gerak langkah untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan pembinaan masyarakat tersebut difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Univerisitas Riau. (RK2)