BAU Ramadan itu lain macam, Wak.
Belum azan pertama tarawih berkumandang, aromanya sudah lebih cepat menyelinap ke hidung. Entah bau pengat, entah bau tanah kampung yang dirindu, entah bau dosa yang belum sempat kita minta maafkan.
Bila bulan suci datang, wajah orangtua, halaman rumah berpokok kelapa, dinding rumah papan, suara ayam berkokok subuh, dan kawan-kawan masa kecil menari-nari di kepala. Kadang lucu, kadang pilu. Kita tersenyum sendiri, lalu tiba-tiba mata basah. Macam orang hilang akal sedikit, hilang masa silam memang dibuat gila, awak jadinya Wak.
Orang Melayu cakap: “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Maka tiap Ramadan menjelang, orang berbondong-bondong pulang. Yang masih punya ayah dan bunda, cepat-cepat menjabat tangan, mencium ubun-ubun, minta maaf dengan suara setengah bergetar dan setengah malu.
“Mak, Bah, kalau ada salah, mohon dimaafkan.”
Padahal salahnya banyak, Wak. Dari kecil sampai uban mau tumbuh.
Tapi, begitulah orangtua. Kita salah besar, dia maafkan sambil tersenyum kecil. Kita tak pulang sebulan, dia tunggu di tangga rumah macam menunggu kapal dari seberang. Sedih wak, menetes air mata.
Bagi yang orangtuanya masih hidup, usah banyak gaya, kemas colak tu. Baliklah. Sebab bagi yang orangtuanya sudah pulang duluan ke rahmatullah, jalan pulangnya tinggal ke kuburan.
Di batu nisan yang dingin itu, air mata jatuh deras, bagaikan air Sungai Siak sedang pasang, tenang di permukaan tapi di dalam arus deras seperti hati ini yang tak mampu menahan air mata.
Kita berdiri tegak konon sudah dewasa, sudah jadi orang, tapi di hadapan pusara, kita kembali jadi budak kecil yang dulu dimandikan, disuap, dimarahi karena tak pandai mengaji. Lucunya, Wak, waktu orangtua hidup kita selalu merasa punya waktu panjang.
“Nanti saja pulang.”
“Nanti saja minta maaf.”
“Nanti saja bahagiakan.”
Rupanya “nanti” itu makhluk paling kejam dalam kamus kehidupan.
Hati terasa seperti digores sembilu. Satu per satu kenangan muncul: suara ayah batuk di ruang tengah, ibu memanggil dari dapur, nasihat yang dulu kita anggap cerewet. Sekarang suara itu kita cari-cari, tak jumpa lagi. Yang ada cuma angin senja dan doa yang terbata.
Kita ini kadang lucu, Wak. Waktu orangtua hidup, kita sibuk mengejar dunia. Waktu orangtua tiada, kita sibuk mengejar pahala untuk mereka.
Ingin rasanya mengulang masa lalu. Ingin jadi anak yang lebih patuh, lebih lembut, lebih tahu diri. Tapi masa tak bisa diputar seperti kaset lama. Tangan terkepai-kepai di udara, tak mampu meraih bayang sendiri.
Maka di bulan Ramadan ini, kita berdiri di tepi pusara, membaca Yasin dengan suara pecah. Kita kirim doa seperti mengirim surat tanpa alamat balasan.
Kepada ayah dan ibu di sana, Anakmu ini masih banyak kurangnya. Masih banyak alpa. Masih sering lupa jadi manusia. Semoga Allah SWT menempatkan ayah dan ibu di sisi-Nya, di taman firdaus yang penuh cahaya. Tenanglah di sana. Jika rindu ini sampai, anggap saja ia salam dari anak yang terlambat mengerti.
Ramadan memang bulan penuh ampunan. Tapi bagi kami yang kehilangan, ia juga bulan penuh kenangan.
Dan di sela tangis yang tertahan itu, orang Melayu tetap berpantun kecil dalam hati:
Kalau ada sumur di ladang,
Boleh kita menumpang mandi.
Kalau ada umur yang panjang,
Ramadan datang lagi…
Tapi orangtua tak kembali, Wak.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








