Menu

Mode Gelap
Masyarakat Adat Rantau Kasai Mengadu ke LAMR, Berharap Keadilan atas Lahan Ulayat PNBP Tembus Rp10,4 Triliun, Imigrasi Era Yuldi Yusman Catat Rekor dan Perketat Pengawasan WNA Dikejar Hingga ke Papua, Polisi Meranti Ringkus Tersangka Pencabulan Milad ke-60 BRK Syariah, Mantan Direksi Tekankan Penguatan SDI dan Teknologi Kapolda Riau Pantau Upaya Pemadaman Karhutla di Dumai, Pastikan Kesiapan Peralatan dan Sinergitas Pemkab Bengkalis Taja Ramah Tamah Bersama Kajati Riau

Riau

…dari Gajah

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK…, cerita ini bukan cerita dongeng hutan. Ini sebetol-betolnya kisah. Belasan ekor gajah mengamuk di kawasan mes karyawan PT Arara Abadi, Desa Rantau Bertuah, Siak. Lima petak rumah hancur. Motor jadi lenyik macam kuih lepat kena pijak.

Puncanya?
Seekor anak gajah terperosok dalam septic tank. Bayangkan, Wak. Hutan tempat dia berlari sudah jadi kebun. Laluan nenek moyang dia sudah jadi jalan lori. Tiba-tiba anak pula terjerumus dalam lubang najis manusia. Kalau itu bukan alasan untuk marah, entah apa lagi agaknya.

Tapi yang membuat hati ini tersentak bukan amuknya. Yang menyentuh itu, bila anak gajah berhasil diselamatkan dan dikembalikan kepada induknya, telinga si induk tidak mengeras. Tidak tegak tanda murka. Dia hanya mengibas-ngibaskan lembut. Orang kata itu tanda terima kasih.

Nah, Wak!?
Gajah saja tahu berterima kasih.
Padahal lintasannya sudah kena babat. Hutan rumahnya sudah botak. Dia makin terasing, makin terancam. Tapi bila anaknya diselamatkan, dia tahu membalas dengan bahasa yang halus.

Dalam tunjuk ajar Melayu, sudah lama disebut: Tanda Melayu sejati dan beriman, tahu menjaga alam dan lingkungan. Hutan dipelihara, tanah dijaga, bukit dirawat, laut disambut.

Maknanya apa?
Maknanya orang Melayu bukan sekadar pandai berpantun di pelaminan. Bukan sekadar hebat bersilat di gelanggang. Melayu itu penjaga alam. Sebab alam itu bukan harta, tapi amanah..Tapi sekarang kadang kita ini sesau, Wak. Rumah sendiri kita kasi kapak untuk orang tebang.

Tanah sendiri kita pajak panjang. Air sendiri kita keruhkan. Lepas itu bila “tuan lama” datang mengetuk, kita kata dia mengamuk. Padahal mungkin dia cuma bertanya, “Ini rumah siapa sebetolnya?”

Orang Melayu selalu bangga dengan pepatah, Melayu tak hilang di bumi. Memang betul ni, tapi jangan pula jadi Melayu yang hilang di bumi sendiri.

Kita ini bangsa yang terbuka. Datanglah siapa saja, kita sambut. Duduklah siapa saja, kita kasi tempat. Itu adab dan itu lah marwah. Tapi dalam adat juga ada pesan: Baik berpade-pade, jangan sampai rumah kena ngandah.

Terbuka itu bukan berarti terdedah. Beradat itu bukan berarti lemah. Kalau gajah yang makin sempit hidupnya pun masih tahu mengucap terima kasih, kita yang mengaku beradat ini bagaimana?

Alam dijaga atau dijual?

Adat dipelihara atau dipakai waktu seminar saja?

Marwah dipertahankan atau ditukar dengan janji?

Amuk gajah itu mungkin bukan sekedar marah. Mungkin itu isyarat. Isyarat bahwa ada yang tidak seimbang.

Dalam adat Melayu, bila alam marah, itu tanda manusia sudah lupa diri. Jadi, Wak, sebelum kita sibuk menilai gajah itu liar atau tidak, elok kita tanya dulu: Siapa yang memulai mengamuk? Siapa yang memulai membuka rumah orang tanpa salam?

Melayu Riau harus jadi tuan di tanah sendiri. Tuan bukan bermakna menolak orang. Tuan bermakna menjaga rumah. Menyusun halaman. Memelihara dusun. Supaya yang datang merasa teduh, bukan melihat kita sendiri kebingungan di serambi.

Petuah itu marwah. Kalau petuah tinggal petuah, alamat bukan gajah saja yang terancam, adat pun bisa pupus perlahan-lahan.

Kalau sampai adat terperosok dalam septic tank, jangan tunggu gajah pula yang datang menyelamatkan kita. Betul tak Wak…!?

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Masyarakat Adat Rantau Kasai Mengadu ke LAMR, Berharap Keadilan atas Lahan Ulayat

2 April 2026 - 17:23 WIB

Milad ke-60 BRK Syariah, Mantan Direksi Tekankan Penguatan SDI dan Teknologi

2 April 2026 - 10:43 WIB

Pemprov Riau Apresiasi Kinerja BRK Syariah di Usia ke-60, Tekankan Transformasi Digital dan Penguatan Tata Kelola

1 April 2026 - 17:48 WIB

Pemimpin Divisi di Garda Depan, HUT ke-60 BRK Syariah Berlangsung Khidmat, Penuh Haru dan Kebanggaan

1 April 2026 - 13:11 WIB

Terima SK Baru dari DPP, IPK Riau Semakin Solid di Grand Elite

1 April 2026 - 12:14 WIB

Trending di Pekanbaru